Satu: Arya (Bagian-4)

by | May 16, 2018 | Setoples Kenangan | 0 comments

Hari itu Kamis, aku ingat sekali.

Bukan hanya karena aku ulangan Fisika keesokan harinya, tapi juga karena di perjalanan pulang, Arya memanggil dari depan pintu kelas. Dia berdiri menyandarkan sebelah bahunya di daun pintu sementara aku masih sibuk merapikan buku-buku masuk ke dalam tas. Meraih pulpen yang masih tergeletak di meja dan memasukkannya dengan asal saja ke dalam tas—toh, nanti di rumah aku juga akan membongkar isi tas ini dan merapikannya lagi.

“Mau makan bakso lagi?” tanyanya setelah aku mendekat. “Kayak semalem?”

“Kenapa harus diulang?” aku balik bertanya. “Apa yang semalam masih kurang?”

Arya tertawa kecil. Aku berdiri di hadapannya, satu langkah di belakang pintu. Kelas sudah kosong dan segerombolan cewek populer kelas tiga lewat sambil melirik ke arahku dan Arya. Aku mencoba tidak peduli tapi ketika itu, aku sadar kalau rambutku berantakan, ada peluh di keningku, dan mungkin juga bajuku lecek karena kemarin aku menyetrikanya dengan asal saja—asal rapi saja. Aku balik memandang Arya; rambutnya yang hitam, sedikit panjang, matanya yang cokelat muda, dan kulitnya yang putih bersih.

Setelah bertahun-tahun lamanya, aku baru sadar bahwa cinta monyet di awal masa remaja itu begitu mudah dan naif. Kamu hanya perlu suka dengan penampilan seseorang, mungkin satu-dua hal lain yang mendukung penampilan itu, anggaplah misalnya kemampuan akademik, dan semua selesai. Kamu sudah jatuh cinta monyet. Kamu tidak perlu mencoba untuk bicara dengannya. Mengukur apakah kalian punya kemampuan komunikasi yang baik atau apakah kalian punya prinsip yang berbeda. Buat remaja yang baru saja tahu bahwa di dunia ini ada dua jenis kelamin dan satu jadi pelengkap romansa yang lainnya, semua itu menjadi tidak penting.

Cinta monyet itu pun kamu persembahkan. Aku tahu istilah ini akan membuat perutmu sedikit mual tapi aku tidak menemukan istilah lain yang lebih tepat untuk menggambarkan bahwa cinta monyet itu diakui dengan cara salah satu dari kalian—cowok biasanya—berkata kalau dia suka dengan yang lainnya lalu bertanya, “Gimana? Diterima enggak?”

Diterima?

Enggak?

Ketika itu, semua ini jelas. Buatku semua jelas karena semua melakukan hal yang sama. Mereka jatuh cinta, mengakuinya, lalu bertanya apa cinta itu diterima. Kalau diterima, mereka lalu pacaran. Semudah itu.

Semudah itu.

Tapi sayangnya, itu tidak pernah terjadi denganku dan Arya. Tidak pernah ada pengakuan apa-apa. Tidak pernah ada pertanyaan tentang diterima atau tidak.

“Traktir?” tanyaku.

“Boleh,” jawabnya cepat. “Enggak bakso juga boleh.”

“Misalnya?” tanyaku.

“Hmm … mie ayam?” jawabnya. Tidak berapa jauh dari tempat makan bakso yang kemarin, ada warung mie ayam yang juga terkenal enaknya.

“Mie ayam bakso?” tanyaku lagi.

“Mie ayam bakso masih ada baksonya,” ujar Arya menanggapi.

“Masalah?” tanyaku sinis.

“Bukan gitu.” Arya tertawa lagi. Kecil dan manis. Aku mengingat caranya tertawa ini sampai bertahun-tahun kemudian—bahkan sampai sekarang. Matanya yang sipit kecil itu akan berubah jadi satu garis lurus di bawah alisnya ketika tertawa. Buatku itu sangat lucu dan menyenangkan untuk dilihat. Dia menyambung dengan alasan, “Gue enggak peduli makan di mana. Gue mau kita keluar malam ini.”

Semalam, kami makan bakso satu mangkok saja dengan dua gelas jus jeruk—awalnya hanya memesan satu tapi kemudian memesan satu lagi agar bisa bicara lebih lama. Arya bicara tentang rencananya untuk masuk sekolah Katolik yang jaraknya agak sedikit jauh dari rumah. Aku tidak punya rencana apapun. Palingan masuk sekolah negeri—ke mana lagi memangnya aku bisa sekolah? Lalu dia memperlihatkan satu garis merah yang bagian tepinya berubah menjadi hijau-kebiruan di dekat bahunya.

“Masih?” tanyaku pelan ketika itu. Aku ingin memegangnya, tapi Arya melarang. “Sakit?” tanyaku lagi.

“Yaaa … pasti sakit, lah,” jawabnya.

“Ini adalah rahasia kita,” begitu kata Arya di salah satu sore ketika dia datang ke rumahku dan bermain di teras. Ketika itu, dia memperlihatkan satu garis panjang di bagian punggungnya. Aku bisa melihat dengan jelas warnanya yang merah di atas kulit Arya yang putih—nyaris seperti kertas. Arya tidak datang ke rumahku hanya untuk bermain. Di tahun-tahun itu, menjelang kami lulus SD, aku tahu, dia datang untuk melarikan diri. Setidaknya untuk menyelamatkan dirinya sendiri selama beberapa jam.

“Apa mereka masih juga bertengkar?” tanyaku yang sudah tidak terlalu bernapsu menghabiskan bakso terakhir di mangkok yang ada di depanku.

“Ya,” jawabnya, “masih sering.”

“Seperti dulu?” tanyaku.

“Lebih parah,” jawabnya.

Ketika Arya menurunkan kembali lengan kaos pendeknya, aku menyentuh pelan bahunya. Berusaha agar tidak meninggalkan rasa sakit apapun di sana. Tapi Arya meringis. Dengan cepat aku menarik kembali tanganku.

“Masih pakai sabuk pinggang, ya?” tanyaku lagi.

“Iya,” jawab Arya.

“Apa ini masih rahasia kita?” tanyaku lagi.

“Iya.” Ada jeda beberapa lama sampai Arya mengatakan satu hal lagi yang kemudian menjadi rahasia kami yang lain, “Mereka akan bercerai.”

Semua lalu masuk akal. Semua ceritanya sebelum ini menjadi masuk akal.

“Lo mau pindah?” tanyaku. “Makanya lo mau daftar ke sekolah Katolik yang jauh itu?”

Di perjalanan pulang, kami tidak banyak bicara. Arya terdiam dan aku tahu, dia berusaha menyamakan langkahku yang lebih pendek dari langkahnya. Kakiku tidak sepanjang miliknya. Dia beberapa kali menarik napas panjang yang dihembuskan kembali dengan cepat. Aku mencoba mencari bahan pembicaraan yang menyenangkan tapi gagal menemukannya. Di ujung jalan, ketika menunggu untuk menyeberang, Arya baru bicara. Itu pun bukan untuk membuka pembicaraan lebih panjang. Dia hanya bertanya. Singkat.

“Apa kita masih bisa bertemu setelah itu? Gue bakalan sering dateng ke sini.”

“Itu masih tahun depan,” jawabku.

Jawaban itu aku sesali. Sangat aku sesali karena tahun depan yang aku katakan itu tidak pernah ada. Arya tidak pernah masuk sekolah Katolik. Dia pun tidak pernah datang lagi ke rumah setelah beberapa hari kemudian, dua kardus besar dia antarkan ke rumahku. Tidak ada juga makan bakso atau mie ayam yang kedua karena sepulang sekolah, aku melihat berita di televisi dan walaupun tidak terlalu memahami apa yang terjadi, aku tahu, hal buruk sedang berlangsung.

Sore itu, Arya tidak datang. Begitu juga keesokan harinya. Dia tidak masuk sekolah sementara aku terlalu takut untuk datang ke rumahnya. Ibuku bilang, ada beberapa warga yang menjaga rumah Arya agar tidak dilempari batu. Aku tidak mengerti mengapa harus seperti itu.

“Mau ke mana?” tanyaku ketika dia meletakkan kardus besar yang kedua di depan teras rumahku.

“Singapura dulu,” jawabnya. “Setelah itu, entahlah. Belum tahu. Toko Papa dibakar. Isinya diambil.”

Kulitnya berubah menjadi kemerahan. Suaranya parau.

“Yaya,” panggilku.

Arya mengangkat kepalanya dan menatapku.

“Apa kita bakalan ketemu lagi?” tanyaku. Pertanyaan yang lebih didorong oleh ketakutan bahwa setelah hari ini, aku tidak akan pernah melihatnya lagi.

“Enggak tahu, Manda,” jawabnya.

Arya pulang dengan terburu-buru sore itu. Tanpa ada kata perpisahan apa-apa. Aku menyesali betapa aku tidak memahaminya ketika itu. Betapa aku tidak paham tentang keadaan di Jakarta di hari itu dan beberapa hari kemudian. Walaupun aku menonton televisi dan melihat berita tentang demonstrasi mahasiswa dan penjarahan, aku masih juga tidak paham mengapa Arya harus pergi. Mengapa mendadak? Bagaimana dengan sekolahnya? Kenapa harus keluar negeri?

Seminggu kemudian, beberapa cewek di kelas bertanya tentang Arya dan aku tidak ingin menjawabnya.

“Jadi Arya Liem enggak akan sekolah lagi di sini?” tanya seorang cowok yang duduk di barisan belakang.

“Enggak,” jawabku singkat.

Dua kardus itu berisi semua komik yang dia punya. Di kardus kedua, ada satu buah sobekan kertas, tulisan tangan Arya—aku tahu pasti itu. Terbaca:

Manda sayang

Hanya itu.

Hari itu Kamis, aku ingat sekali. 14 Mei 1998.

* * *