Satu: Arya (Bagian-5)

by | May 22, 2018 | Setoples Kenangan | 0 comments

Tidak ada yang menjelaskan padaku kalau banyak dari ketakutan hanya akan jadi ketakutan—tidak pernah benar jadi hal menakutkan yang berdiri di hadapanmu dengan pisau tergenggam di tangannya. Aku memahami itu setelah banyak waktu berlalu. Setelah sore-sore yang aku habiskan dengan membaca semua komik yang Arya tinggalkan dan menunggu teleponnya. Dia tidak pernah menelepon.

Semua tentang masa ini terasa lambat, kering, dan panas. Kalau aku mengingat masa-masa ini, maka yang pertama muncul di kepalaku adalah lapangan di depan rumahku yang warnanya berubah menjadi cokelat muda, hampir oranye. Debu-debu yang beterbangan dan lapangan kosong yang entah mengapa membuatku merasa bahwa semua orang di gang ini tidak lagi ingin hidup di sini. Mereka semua ingin pergi. Begitu pula dengan orangtuaku. Mereka banyak bicara tentang rencana pulang ke kampung, membuka warung, atau melakukan hal lain tapi tidak bertahan di Jakarta. Itu adalah hari-hari ketika aku mencuci beras dan warnanya pun agak kecokelatan. Minyak yang dipakai menggoreng pun menghitam dan masih juga diulang pakai. Tapi aku tidak banyak mempedulikan ini semua. Aku hanya ingin membaca semua yang ada di kardus itu.

Ibuku membiarkan aku melakukan apapun yang aku mau. Dia pun sibuk dengan pikiran dan kecemasannya sendiri. Dia tidak mau membaginya. Tapi aku tahu kalau itu tentang banyaknya jumlah uang yang harus dipunya untuk hidup sementara nilainya sendiri menjadi tidak seberapa. Berulang kali Ibu mengatakan kalau aku harus mendapat nilai paling tinggi di sekolah, harus bisa masuk SMA negeri yang paling bagus—yang kebetulan letaknya tidak jauh dari rumah. Semua itu aku setujui. Aku tidak punya kesulitan apapun dalam belajar apalagi sejak Arya tidak ada. Aku tidak punya keinginan apapun selain mengurung diri di kamar sampai bosan. Kalau sudah bosan, aku akan mengerjakan semua PR yang bisa diselesaikan, menghapal semua yang bisa dihapal, dan memahami semua yang perlu dipahami. Aku tidak tertarik pada apapun lagi. Cowok, apalagi.

Teman-temanku banyak yang punya pacar baru di sepanjang tahun akhirku di SMP. Mereka bicara tentang pergi makan atau apapun di akhir pekan. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin Arya. Dia tidak ada.

Sampai suatu ketika, di penghujung tahun ajaran, ketika semua tampak sempurna dan aku bisa lulus dengan nilai paling memukau yang bisa diharapkan dari seorang pelajar di sekolahku, surat itu datang. Surat dari Arya. Dengan perangko Singapur dan amplop berwarna putih biasa. Aku membukanya tanpa peduli kalau petugas Pos yang mengantarkan surat itu tidak terlalu paham dengan gang-gang di sekitar tempat ini dan dia perlu ditunjukkan jalan keluar dari gang ini agar sampai di jalan raya.

Aku membiarkan Ibuku menjelaskan pada petugas Pos itu sementara aku menghambur masuk ke kamarku dan membuka surat itu seperti orang haus yang ingin meminum apapun yang ada di dalam sebuah botol yang baru diberikan padanya, apapun isinya—racun sekalipun.

“Dari siapa?” tanya Ibu di depan pintu kamar yang ternyata masih terbuka setengahnya.

“Arya,” jawabku. Aku tidak ingin merusak amplopnya, jadi aku meletakkan amplop itu baik-baik di atas meja belajarku. “Dari Arya,” ulangku.

“Apa dia selamat?” tanya Ibu lagi.

Aku mengangkat kepalaku dan melihat ke arah Ibu beberapa detik setelah pertanyaan itu keluar dari mulutnya.

Selamat?

Itu kata yang tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya karena aku egois. Aku hanya peduli pada perasaan-perasaanku sendiri. Mana pernah aku bertanya tentang keadaan Arya karena aku hanya ingin dia. Itu saja. Lainnya, aku tidak mau tahu.

“Enggak tahu, Bu,” jawabku.

Aku memang tidak tahu. Tidak pernah mau tahu.

Aku membuka surat itu dan merasakan kalau ada beberapa lembar yang dilipat jadi satu dan ada kertas kecil yang lebih tebal, yang ketika aku ambil dari lantai setelah jatuh melayang begitu saja dari lipatan kertas yang lain, ternyata adalah kartu pos bergambar Candy Candy. Aku meletakkan kartu itu setelah melihatnya dengan seksama. Kartu itu nanti. Aku bisa memandanginya lagi nanti. Sekarang aku ingin surat ini dan apapun yang dituliskan Arya di dalamnya.

Arya bilang kalau dia tinggal dengan saudara papanya. Dia sudah sekolah, pindah sekolah—lebih tepatnya. Dia harus mengulang lagi satu tahun karena penyesuaian bahasa dan sebagainya.

Kamu akan lulus lebih dulu, tulisnya.

Dia juga bilang betapa dia ingin mengirimkan kabar dan surat padaku tapi keadaan dia di sana juga belum sepenuhnya baik. Kejadian di Jakarta banyak meninggalkan luka. Dia ingin tenang dulu. Lalu cerita panjang tentang kesehariannya, sekolahnya, teman barunya, dan betapa dia merindukan sekolah lama kami di mana dia jadi bintang di sana yang disukai banyak cewek karena pintar dan atletis. Di sana, dia bukan siapa-siapa. Tapi itu membuat dia jadi punya banyak waktu untuk menyusun ulang rencana hidupnya tanpa pengaruh apapun.

Lalu dia menulis, gue kangen sama lo.

Lalu aku pun menangis.

Aku ingat tangisan itu karena baru sekali itu aku tahu rasanya menangis karena bahagia. Ketika kamu tidak lagi tahu apa yang harus dilakukan ketika perasaanmu begitu senang sampai-sampai kamu malah menangis. Aku menghapus airmataku dan melanjutkan membaca tapi percuma. Mataku kabur dan aku pun berhenti.

Aku meletakkan surat itu di meja, di atas tumpukan amplop dan kartu yang dikirimkan Arya, lalu melipat tangan dan meletakkan kepalaku di atasnya. Aku ingin menangis karena aku begitu merindukannya dan dia pun merasakan hal yang sama. Ketika tahu itu, aku begitu bahagia. Aku tidak sendirian merindukannya, dia pun begitu.

Aku menceritakan tentang surat pertama darinya ini ketika beberapa tahun lalu, aku bertemu dengan Arya ketika main ke Singapur untuk pertama kali. Ketika itu, tahun kedua aku kuliah dan Arya mengajakku untuk main ke sana. Itu adalah pertemuan pertamaku dengannya. Sebelumnya, kami cukup dengan surat, foto, dan belakangan dengan surel dan chat. Semua banyak berubah waktu itu.

“You cried like a little baby?” tanyanya mengejek.

“I cried like normal girls do,” sanggahku.

Lalu pertanyaan yang berikutnya, “Punya pacar?”

Yang aku jawab dengan, “Bukannya karena itu aku lari ke sini?”

Arya pun tertawa. Mengejek. Aku tidak punya pacar, saat itu. Arya pun tahu itu. Setidaknya, ketika sampai di sana sore itu, aku sudah tidak punya pacar lagi.

Tidak ada yang menjelaskan padaku kalau banyak dari ketakutan hanya akan jadi ketakutan. Seperti misalnya; ketakutanku kalau aku tidak akan pernah lagi bertemu dengan Arya atau ketakutan lain kalau aku tidak bisa dekat dengan cowok manapun lagi selain dengannya. Memang banyak yang terjadi setelah itu; aku masuk ke SMA yang diinginkan ibuku, lalu bertemu dengan banyak teman baru—cowok termasuk. Surat-surat Arya terus datang dan kadang disertai hadiah. Aku punya waktu cukup lama untuk semua ketakutan yang pada akhirnya, tidak ada yang terbukti satu pun.

“We’re here,” katanya sambil memandangi jalanan di luar kafe sore itu, “tell me more about you.”

“You know. Always know,” jawabku.

“Kalau ada yang gue tahu dengan pasti sekarang,” ujarnya dengan logat yang sudah agak berubah, “cuma … gue kehilangan lo yang dulu. Juga dengan perasaan yang kita punya dulu. Sayangnya, waktu kita ada di sana, di dalam perasaan itu, gue enggak pernah mengakuinya.”

“Itu sudah lewat,” sahutku.

“Cinta monyet sudah lewat,” katanya lagi. “Life happened.”

“Gue nyimpen semua surat, hadiah, apapun yang lo kirim,” kataku setelah menyesap cafe latte dari cangkir putih dan meletakkannya lagi pelan-pelan di meja, lalu melanjutkan, “Gue enggak tahu apa hari seperti ini akan datang.”

Arya membuka postman bag yang sedari tadi hanya dia biarkan di kursi kosong di sampingnya. Dia mengeluarkan setumpuk komik.

“Hari seperti apa yang enggak akan pernah datang itu?” tanyanya sambil tersenyum. Dia meletakkan tumpukan itu di antara kami. “Sore seperti ini?”

Aku mengambil satu dari tumpukan paling atas.

“Masih suka Detective Conan?” tanyanya lagi.

Aku mengangguk.

“Masih mau taruhan ending-nya?” dia mengedipkan sebelah mata ke arahku. “Taruhan traktir?”

Aku kembali mengangguk.

“Boleh …,” aku terdiam setelah mengatakan kalimat itu.

“Boleh?” ulangnya tidak sabar. “Ayo sekarang!

“Masih bisa cinta monyet lagi?” tanyaku. Aku menghindari tatapan matanya ketika menanyakan itu sekaligus memotong antusiasmenya untuk membaca Detective Conan yang sudah ada di tangannya dan siap dibaca.

“Boleh ditukar pakai cinta beneran?” usulnya. “Pacar lo gimana?” tanyanya sambil tersenyum kecut.

“Pacar lo?” aku balik bertanya. Semua ini hanya ledekan. Arya tidak pernah punya pacar. Setidaknya, dia tidak pernah punya hubungan yang benar serius.

“Emang kita pernah putus?” dia menangkap mataku dan berhasil menahannya beberapa detik.

“Emang kita pernah jadian?” tanyaku lagi.

Aku lalu tertawa. Miris.

Yang aku ingat tentang sore itu adalah sakit yang baru, yang baru ada di hari itu, yang baru aku sadari setelah bertemu lagi dengannya.

“Should we talk about this?” tanya Arya beberapa saat kemudian ketika aku tidak memberikan respon apapun lagi.

“Kenapa selalu telat, sih, Yaya?” tanyaku pelan—nyaris seperti berbisik. Tapi aku yakin dia mendengarnya.

“Memang ini telat?” dia menyerangku dengan pertanyaan itu.

Sakitnya mulai terasa tepat setelah aku menjawab, “Iya.”

Seandainya aku tahu kalau sakit itu juga mulai aku tumpuk ketika aku mulai menyimpan surat-surat dari Arya.

* * *