Prolog

by | Apr 17, 2018 | Setoples Kenangan | 2 comments

Undangan itu aku letakkan di sebelah toples kastangel yang isinya tinggal setengah. Aku masih ingat, di ruang tamu ini, beberapa tahun yang lalu, aku juga meletakkan sesuatu di sebelah toples kastangel. Undangan pernikahan juga, sama seperti hari ini. Sayangnya, itu bukan undangan pernikahanku.

Waktu itu, dia menatap mataku dalam-dalam dan berkata bahwa semua sudah berakhir. Aku dengan bodohnya bertanya, apa yang berakhir?

Bukannya menjawab, dia malah mendorong undangan itu ke arahku dan bicara tentang hal lain yang tidak ada hubungannya dengan apa yang ingin aku tahu dan dengar; jawabannya.

“Kastangel itu asalnya dari bahasa Belanda. Kaas, keju. Terus stengel, batang. Jadi, kue ini artinya seperti bentuknya. Batang keju,” jelasnya.

Aku lalu menjawab pelan. “Bullshit!”

Hari ini, dia yang balik menatapku. Aku menundukkan kepalaku dan meraih toples kastangel—yang sebenarnya tidak terlalu menarik perhatianku karena aku sedang berusaha mengurangi makan demi kebaya yang ingin aku pakai nanti—dan membukanya pelan. Mengambil satu buah dan memakannya.

Setelah aku menelan kunyahan pertama, aku mengangkat sedikit daguku dan menatapnya.

“Katamu dulu, kue ini artinya batang keju. Ini beli atau buat sendiri?”

Dia tersenyum sinis lalu menjawab sinis, “Bullshit.”

Bukan dia saja yang mengatakan hal serupa ketika aku memutuskan untuk menikah dengan lelaki ini empat bulan yang lalu. Banyak yang bertanya alasannya dan banyak juga yang tanpa bertanya, langsung menjelaskan mengapa aku tidak bisa melakukannya. Aneh, memang. Ketika kamu sudah membuat keputusan, lalu kamu mengabarkannya karena menurutmu itu keputusan yang tepat dan kamu akan bahagia, tapi banyak yang meragukan kemampuanmu—dan mungkin juga kewarasanmu.

Ah, aku tidak akan menjelaskannya. Ini bukan sesuatu yang harus dijelaskan. Aku akan menceritakannya. Semua. Semua yang perlu kamu tahu tentang keputusan ini.

Seperti ketika aku membuka toples kastangel di hadapannya tadi, aku juga akan membuka toples kenanganku dan menumpahkannya di sini. Isinya tidak hanya kenangan baik, sayangnya, banyak yang hitam, kelam, dan beberapa sewarna dengan darah kering yang coba aku bersihkan dengan banyak jenis sabun tapi tetap saja meninggalkan bekas serupa jejak kopi di meja; bundar kecokelatan.

Aku akan menceritakannya sejak yang pertama sampai yang terakhir. Kamu mungkin pernah mendengar satu-dua cerita tentangku yang berpindah dari satu lelaki ke lekaki lain, jatuh cinta berkali-kali dengan mudahnya seperti orang setengah tidak sadar yang berjalan limbung di setapak berbatu. Masalahnya, itu hanya kata orang saja—kata orang yang tidak pernah mendengar semua ceritanya.

Aku akan ceritakan.

Kamu bisa membuat teh atau kopi, lalu mengambil cemilan, setelah itu duduklah. Lihat aku membuka setoples kenangan yang disimpan baik-baik. Rapi-rapi.

Aku akan menceritakan semua nama yang ada di toples ini. Lalu, kamu tebak, mana yang kemudian tertulis di undangan yang tidak dia ambil itu. Yang dia biarkan tergeletak di sebelah toples kastangel di ruang tamu rumahnya. Yang sudah aku jelaskan berkali-kali kalau aku memilih nama yang tepat tapi dia balas dengan, “Bodoh.”

Namanya juga ada di toples ini. Tapi, cerita tentang dia itu nanti. Kita akan mulai dari yang pertama—yang paling mudah dan kanak-kanak.

* * *