Surat 1 & 2

by | Apr 17, 2018 | Salam Manis Pacar | 0 comments

Gian sayang,

Jakarta mendung sejak kemarin tapi hujan enggak turun-turun. Bagaimana dengan di kotamu?

Dua minggu setelah pertemuan kita yang terakhir itu, kota ini rasanya berbeda. Kamu percaya enggak kalau satu-dua hal yang terjadi padamu bisa mengubah cara pandangmu terhadap sesuatu? Misalnya, pagi ini, sewaktu aku berjalan di jembatan penyeberangan di depan Gramedia Matraman, rasanya … langit jadi lebih muram, mobil-mobil di bawah jembatan itu berjalan lebih pelan, dan toko buku yang biasanya tampak megah itu, anehnya, menjadi sunyi. Aku berhenti tepat setengah jalan. Mengeluarkan ponsel dan hampir saja mau meneleponmu, tapi kuurungkan. Apa yang mau aku katakan? Bahwa rindu bisa membuat apa yang kamu lihat jadi berbeda? Aneh sekali bukan, kedengarannya?

Di perjalanan pulang, aku membaca satu-dua artikel dari ponsel. Terlalu banyak yang enggak menarik akhir-akhir ini. Berita tentang itu-itu saja seakan dunia ini isinya mereka-mereka saja. Tapi ada satu yang aku baca sampai habis. Artikel itu bicara tentang ‘Dunbar Number’? Kamu tahu itu? Ah, kamu pasti sudah tahu.

Ini enggak ada hubungannya dengan apa yang rasakan sekarang, sih. Aku enggak kesepian, kok. Tapi memang sepertinya semakin bertambah umurku, makin berkurang teman-teman yang aku punya. Menurut Dunbar, kita hanya bisa menjaga pertemanan dengan seratus lima puluh orang. Ini pun bukan pertemanan dekat karena katanya lagi, kita hanya bisa punya maksimal lima teman dekat. Ini jadi mengingatkanku pada serial kesukaanku, Friends. Oh, ada lagi … The Big Bang Theory. Di sana ada sekumpulan ansambled cast yang berjumlah enam orang. Jumlah itu membuat mereka masing-masing punya lima orang teman dekat. Itu jumlah maksimal teman dekat yang bisa kamu punya untuk menjadi bahagia. Aku punya kamu. Kamu teman dekatku. Aku punya dua orang yang lain. Ah, aku masih punya dua slot kosong kalau aku mau memaksimalkannya.

Tapi, sayang … berteman juga tentang membagi waktu dan perhatian, kan. Itu susahnya. Waktuku enggak banyak dan kadang habis saja untuk merindukanmu sepanjang hari.

Gian sayang,

Balik ke urusan Dunbar Number tadi, katanya kan … kita hanya bisa mengenali seratus lima puluh orang. Ini jumlah maksimal. Lebih dari itu, bisa jadi kamu hanya mengenali namanya tapi enggak mengingat wajahnya atau sebaliknya. Rasanya, itu memang benar. Banyak orang yang aku kenali dulu, enggak lagi aku ingat wajahnya.

Masalah dengan rindu itu sepertinya cuma satu, Sayang; semakin kamu rindu, lalu kamu bertemu, dan berpisah kembali, maka setelah itu rindu semakin menjadi-jadi. Pekan depan ada akhir pekan yang panjang. Tiga hari cukup untuk kamu datang ke sini dan kita bertemu selama dua hari. Kamu juga sudah merencanakan kedatanganmu, kan. Tapi, bisa enggak aku meminta agar kamu enggak datang. Bukan karena aku enggak merindukanmu atau apa. Jangan pikir juga aku enggak ingin bertemu denganmu. Aku ingin sekali. Hanya saja, Senin setelah itu, selama dua pekan, aku Ujian Tengah Semester. Aku tidak ingin melewati sepanjang pekan itu sambil merindukanmu. Berat sekali pasti rasanya. Kita bertemu setelah itu saja atau di bulan berikutnya.

Aku sedang membaca Ready Player One sekarang. Rekomendasi darimu. Mungkin juga akan menonton filmnya—aku belum tahu bagaimana nanti mengatur waktunya. Tugas-tugas semakin banyak dan waktu terasa semakin sedikit.

Kamu ingat enggak, di bab ketika Ogden Morrow menolong Parzival dan Aech dengan mendatangi mereka di chat room lalu memberikan fasilitas ini dan itu … aku gemas sekali membacanya. Plot armour! Menyebalkan, ya? Seharusnya biarkan saja karakter utama itu menderita, merangkak keluar dari neraka mereka sendiri, hidup-hidup atau setengah mati, tapi jangan ditolong. Mudah sekali rasanya setelah itu. Masuk akal, sih, tapi yaaah … itu membuat semuanya jadi terlalu mudah.

Tapi, jangan kira aku enggak mau bertemu denganmu itu sebagai usaha menghindari plot armour. Bukan itu. Haha. Aku cuma enggak ingin bertambah rindu saja nantinya. Siapalah kita yang akan ditolong oleh orang semacam Ogden Morrow….

Aku mengirimkan pulpen dengan tinta ungu bersama surat ini. Ada toko kecil di dekat rumahku yang menjual peralatan tulis lucu-lucu. Lalu kemarin, aku ke sana untuk membeli pulpen berwarna ungu. Harganya lima ribu rupiah dan aku pikir, aku sebaliknya membeli dua saja agar enggak perlu kembalian. Tapi, karena pulpennya bagus sekali, tadi siang aku ke sana dan membeli dua lagi. Daripada nanti kehabisan dan menyesal. Untukmu aku kirimkan satu. Aku menuliskan surat ini dengan pulpen itu, by the way.

Gian sayang,

Pekan ini banyak hujan enggak di sana?

Salam manis,

Anne

PS: Aku enggak jadi ke Gramedia malam itu karena aku takut terlalu kesepian jadinya di tempat seramai itu.

Dear Pacar,

Jogja enggak cuma mendung tapi hujan deras. Kadang juga disertai badai. Aku harap cuaca di sana enggak seburuk ini.

Aku gengsi. Masak, apa yang kita rasain sama, sih, setelah pertemuan kita itu? Yaaa … udah, deh, aku enggak ngerasain itu.

Eh, enggak, aku ngerasain itu tapi dengan kadar yang lebih dari yang kamu rasakan. Kamu tahu apa beda rindu dan kangen? Kemarin aku sempat ngedebatin ini sama beberapa teman dan hasilnya enggak memuaskan. Dua kata ini sering dipakai tapi ternyata banyak orang yang pemahamannya sedikit. Setelah aku mengambil kesimpulan, rindu lebih dalam daripada kangen. Bisa juga diartikan kalau kangen itu keinginan yang ada seketika itu saja, ada di waktu itu saja. Keinginannya macam-macam. Bisa jadi ingin bertemu, ingin melakukan sesuatu bersama, ingin pergi ke suatu tempat, atau yang lainnya. Kalau rindu, lebih dari itu. Rindu itu dalam dan lebih dari sekadar keingan di waktu tertentu untuk bertemu. Dia harap yang selalu ada.

Aku rindu kamu, tapi kangen kita ketemu.

Jadi, kamu kangen atau rindu, Pacar?

Perkuliahan minggu ini enggak ada yang menarik, hanya itu-itu saja, mengasah dan mendalami materi sebelumnya. Enggak ada materi atau hal yang baru. Oh, enggak. Ada materi baru yang menarik. Selalu aku bahas di dalam bahkan di luar kelas sekalipun. The Triangle of Meaning, segitiga makna. Kamu tahu kan? Ini materi dari mata kuliah Semantik.

Jadi, teori ini yang membedakan antara ilmu komunikasi dan sastra. Di segitiga itu, di bagian kanan bawah ‘thing’-nya, sebelah kirinya simbol, dan puncaknya adalah makna. The Triangle of Meaning. Thing’ di simbolkan oleh manusia dengan bahasa mereka namun masing-masing orang mempunyai puncaknya sendiri, setiap manusia memiliki maknanya yang membuat satu orang akan berbeda puncak dengan orang yang lain. Buatku walaupun aku menyimpulkan dari berbagai pendapat tentang apa bedanya kangen dan rindu, aku punya puncakku sendiri.

Kamu itu rinduku, sayang. Kamu tempat aku merindu, jadinya aku kangen sama semua yang kita lakuin dua minggu yang lalu.

Pacar,

Oh, ya … serial yang kamu bilang bagus tempo hari, The End of the Fucking World, sudah selesai aku tonton. Aku langsung nonton ketika sampai Jogja sehabis bertemu denganmu. Kamu inget, kan, sewaktu James akhirnya bisa merasakan sesuatu padahal dia yakin kalo dia mati rasa? Dia sangat yakin kalau dia enggak bisa merasakan sesuatu, tetapi ketika dia bertemu Alyssa, keyakinan dia buyar. James, kan, enggak peduli jalan sama siapa, mau bagaimana. Dia cuma ingin meyakinkan dirinya kalau dia memang benar-benar enggak bisa merasakan apa yang orang lain rasakan. Bukannya mendapatkan itu, dia malah dapat kebalikannya—ditambah dengan orangnya lagi, Alyssa.

Pacar, kamu itu Alyssa buatku. Tapi, James enggak hati-hati dengan apa yang dia minta. Dia mendapat itu di saat yang tidak memungkinkan, kan? Apakah aku mendapat itu denganmu di saat yang tidak tepat juga?

Hmmm, kembali ke segitiga makna tadi. Dalam teori itu bilang pemaknaan ‘thing’ itu bersifat arbitrer, bebas. Semau-mau kita, Pacar. Mau kita beri makna apa aja, yaaa … tergantung kita. Kita bisa seliar mungkin, kok, untuk menilai sesuatu. Tapi, tentu pemaknaan enggak bisa kita pakai sembarangan untuk berkomunikasi. Pada akhirnya kita harus menyamakan makna dengan lawan bicara kita. Liar untuk diri sendiri boleh, untuk berkomunikasi dengan orang … lain cerita. Pacar, kamu bisa saja memaknai kursi itu seperti, tempat duduk yang bisa terbang dan mengantarkanmu pergi ke tempat yang kamu ingin. Tapi kamu, kan, enggak bisa memaknai seperti itu ketika kamu ngomong dengan aku, misalnya. Kecuali kalau aku dan kamu sudah sepakat pada pemaknaannya.

Sama seperti rinduku padamu, Pacar. Apa benar makna rindu yang aku punya enggak bisa kamu maknai seperti apa yang aku pikir? Aku ingin walau kita bebas memaknai ini, setidaknya kita punya standar yang masing-masing dari kita paham dan setujui.

Ah, aku berhati-hati saja sama permintaanku. Nanti seperti James pula lagi.

Halah! Cukup, deh, dengan makna. Aku cuma pengen bilang, aku rindu kamu.

Tulisan tangan kamu bagus, ya, tapi kenapa harus ungu? Setiap barang yang kamu kirim pasti selalu ungu. Ada apa, sih, dengan ungu? Aku selalu memakai barang yang kamu kirim, Pacar. Bukan karena apa-apa, tapi karena aku mau. Itu membuatku merasa ada di dekat kamu terus.

Tapi, itu ungu! Habis aku sama teman-teman aku dipanggil janda. Padahal perempuan enggak, kawin aja belum, apalagi cerai. Kalau yang mereka ejek itu aku, aku enggak masalah. Emang enggak ada warna yang lain apa?

Pacar,

Kalau hujannya sudah turun, kabari aku, ya.

Salam manis,

Gian