Surat 11 & 12

by | May 25, 2018 | Salam Manis Pacar | 0 comments

Gian sayang,

Aku enggak pernah—atau enggak suka, ya, aku belum tahu—film dengan tema olah raga seperti Rocky dan lainnya. Aku nonton The Blind Spot itu pun karena menang Oscar, enggak karena alasan lain. Jadi aku cuma bisa membayangkan ceritamu tentang film-film itu.

Dini hari tadi, hujan datang tiba-tiba. Langsung lebat. Aku bangun karena melihat tetesan airnya mengenai jendela apartemenku. Di sini, hujan enggak terdengar. Bagunan apartemen ini, di setiap unitnya, dibuat kedap suara. Kalau aku bikin party di unit ini, misalnya, enggak akan terdengar sampai ke unit sebelah walaupun menyetel musik keras-keras sekalipun. Begitu juga dengan suara dari luar. Aku bangun dan membuka jendela. Tapi jendela itu ada dua lapis. Satu lapisan lagi untuk menghalangi serangga terbang masuk di musim panas. Tapi enggak mengapa. Aku hanya ingin mendengar suara hujan itu jatuh di pavement depan bangunan apartemen ini. Lalu aroma petrichor masuk ke kamarku.

Musim semi menjelang musim panas adalah musim dengan banyak hujan. Enggak seromantis yang kamu lihat di film-film. Memang bunga bermekaran, tapi panas juga sudah mulai terasa. Makin lama, makin panas. Di sini, kalau sudah masuk Juni, panasnya bisa lebih menyengat dibanding dengan di Jakarta. Kalau sudah begitu, ingin sekali rasanya aku jalan ke kampus dengan memakai payung tapi … enggak ada satu pun orang yang melakukan hal konyol seperti itu di sini. Matahari itu berharga. Di musim panas, mereka melakukan banyak aktivitas di luar karena musim ini akan berlalu dan hanya sebentar—tiga bulan itu enggak lama, kan.

Gian,

Enggak ada yang istimewa yang bisa aku ceritakan. Liburan musim panas sudah mulai dan aku mulai bolak-balik ke lembaga pengajaran bahasa di kampusku untuk membantu mahasiswa internasional baru yang ingin kuliah di kampus ini tapi kemampuan bahasanya belum memadai. Aku enggak pandai berbasa-basi dan bercerita banyak, apalagi akrab dengan orang baru, karena itu pekerjaan ini membuatku grogi di sepanjang pekan pertama. Aku baru kembali ke apartemen sore hari. Tapi karena keanggotaan gym di kampusku enggak pernah aku pakai sepanjang tahun kemarin, aku pun mendaftar kelas yoga. Jadi, seminggu tiga kali, aku mampir dulu ke gym baru pulang ke rumah.

Aku tertarik dengan cerpenmu walaupun … oke, aku bilang saja sejujurnya; masih banyak kekurangan. Aku tahu kamu pasti berusaha keras menyelesaikannya. Tapi rasanya, cerita ini belum ‘bulat’. Bagaimana aku mengatakannya? Aku bukan penulis yang benar-benar tahu tentang hal ini. Aku hanya banyak membaca dan menurutku, idenya menarik. Tinggal eksekusinya yang belum sempurna. Kamu juga pasti merasakan hal yang sama, kan? Perasaan gatal dan kesal karena apa yang kamu ingin buat belum setara dengan kemampuanmu jadinya kamu harus berusaha lebih keras meningkatkan kemampuanmu dan karena itu, kamu harus menunggu. Tapi selalu saja, hal-hal seperti ini, expertise, itu adalah hal-hal yang worth to wait.

Aku sudah menghapus akun media sosialku sejak lama. Menyisakan satu dan itu pun jarang sekali di-update. Aku melakukannya untuk menghindari apapun yang bisa mengganggu proses belajarku, Gian. Kamu pasti setuju kalau aku bilang bahwa media sosial dan betapa mudahnya kamu membagi hal-hal yang belum jadi atau belum baik (secara kualitas) dan afirmasi yang kamu dapat di sana kadang membuat kamu malas untuk berkembang. Karena untuk apa? Kamu sudah bisa dapat seribu likes di Instagram. Apa lagi? Iya, kan? Padahal likes dan afirmasi enggak selalu sejalan dengan kualitas dan tinggi kemampuan yang kamu inginkan.

Aku enggak ingin kamu seperti itu, Gian. Itu menyesatkanmu dari tujuan lebih panjang. Aku tahu rasanya. Aku tahu rasa hampa dari afirmasi seperti itu. Memang pada akhirnya, akan selalu ada cara-cara yang sudah teruji begitu lama dan itu bentuknya adalah jalan panjang yang kamu harus tempuh dengan waktu yang enggak kalah panjangnya.

Aku ambil kelas Creative Writing semester kemarin dan mungkin agak sedikit beda dengan kelasmu karena di sini, kelas itu digunakan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa untuk menulis paper tugas. Jadi materinya kebanyakan nonfiksi tapi, menariknya, nonfiksi sekalipun bicara tentang penceritaan—atau lebih enak kalau aku gunakan istilah naratif. Penulis nonfiksi yang baik akan bisa membuat pembaca seolah enggak sadar bahwa yang mereka baca itu nonfiksi, paper; tulisan panjang dengan hasil statistik, riset, dan kutipan dihamburkan di dalamnya. Aku ingin sekali bisa menulis seperti itu. Aku tahu aku belum mampu. Sama sepertimu. Satu kelas enggak akan membuat kamu langsung bisa. Lagipula, aku suka saja … itu belum membuatku jadi bisa karena ada beda yang jelas dan tegas tentang suka dan mahir. Semua orang bisa bilang kalau dia suka menulis. Tapi, apakah dia mahir? Kalau dia mahir, apa buktinya? Kemahiran perlu jam terbang dan jam terbang menyisakan banyak bukti jejak kalau benar kamu sudah berkelana.

Teman satu apartemenku membawa pacarnya menginap di unit kami akhir pekan kemarin. Buatku, itu enggak mengapa. Mereka tidur sekamar dan aku melihat mereka begitu dimabuk cinta.

Tapi itu juga membuatku jadi rindu padamu.

Perkara kangen atau rindu ini sudah pernah kita bahas di surat yang dahulu, jadi aku ingin tegaskan padamu kalau yang aku rasakan itu rindu, bukan hanya sekadar kangen.

Kamu pernah bertanya bagaimana caranya aku hidup dengan teman seapartemen yang begitu beda, kan? Aku cuma bisa jawab; saling menghargai. Aku enggak minum wine, jadi dia meletakkan wine di kulkas dan itu enggak apa. Kami memisahkan rak daging di freezer agar enggak bercampur—biar aku enggak sampai salah ambil. Tapi kebanyakan dia menyimpan TV Dinner (itu loh, satu menu sekali makan yang bisa dihangatkan di microwave) dan aku lebih suka makan salad, chicken atau turkey sandwich, atau buah yang setiap pagi aku siapkan untuk makan siang sekalian. Lalu tentang pacarnya yang menginap, ya itu enggak apa, selama mereka enggak membuat suara ribut di living room. Tapi biasanya mereka lebih banyak menghabiskan waktu di kamar, sih. Akhir-akhir ini, aku juga menggurangi minum kopi karena aku ingin tidur lebih nyenyak.

Aku enggak ingin ini membuatmu kuatir dan banyak bertanya lebih lanjut, tapi … yah, aku ingin menyebutkannya saja. Beberapa waktu belakangan juga pengamanan kampus ditingkatkan. Patroli polisi jadi lebih sering. Kasus penembakan di sekolah itu memang membuat semua jadi lebih cemas. Tapi semua baik-baik saja.

Tentang kadaluarsa yang kamu tuliskan di suratmu, itu membuatku berpikir lama ketika membacanya. Aku jadi bertanya; lalu, apa gunanya menjaga apa yang suatu hari kamu tahu akan berlalu? Enggak menyisakan apapun kecuali kenangan dari masa yang lalu-lalu—masa mudamu? Lalu, untuk apa mengusahakan untuk menjaga sesuatu yang mungkin beberapa tahun lagi—atau bahkan enggak sampai beberapa tahun lagi—enggak akan ada lagi?

Atau mungkin bisa aku buat pertanyaan itu lebih sederhana dengan satu pertanyaan ini; buat apa kita harus ada di relationship ini kalau sejak sekarang kamu dan aku tahu kalau ini enggak mungkin akan sampai ke mana-mana?

Aku enggak takut masa depan—masa lalu lebih menghantui, sepertinya. Aku juga tahu bahwa yang aku pegang sekarang ini seperti es krim yang kalau kamu pegang dan pandangi saja, hawa musim panas akan membuatnya mencair dan jatuh ke tanah. Kamu harus memakannya cepat. Tapi dari dua tindakan itu, hasilnya sama saja; es krimnya enggak ada lagi. Hanya saja, ada bedanya; yang satu menyisakan es krim cair di tanah, yang satu lagi, setidaknya kamu menikmatinya dan kamu tahu manisnya.

Gian sayang,

Kalau aku katakan padamu, “Jatuh cinta lah lagi dengan gadis manapun yang ada di dekatmu,” kamu pasti enggak akan suka. Kamu bilang kalau kamu enggak bisa memaksakan perasaan seperti itu. Tapi seperti ini juga pada akhirnya akan menyakitkan, kan?

Gian,

Lihat tanganmu! Benar kamu sedang memegang es krim atau itu hanya imajinasimu saja?

Jangan-jangan, semua ini hanya perpaduan yang tepat dan sempurna dari kesepian, ketakutan, dan salah sangkamu bahwa yang kamu rasakan itu benar cinta—bukan yang lain.

Gian,

Ceritakan padaku, apa rasanya jatuh cinta seperti itu? Nanti kalau kita bertemu lagi di Jakarta, aku traktir es krim paling enak di sana.

Salam manis,

xxxxx

Pacar sayang,

Haha … aku tahu kalau kamu selalu menyeleksi hiburan yang akan kamu nikmati, apalagi film. Jangankan film dengan rating 6, rating 7.5 di IMDb saja kamu berpikir dulu sebelum menontonnya.

Kamu ingat kan sama teman aku yang baru pulang dari Pelatnas? Malam hari dia tiba di bandara. Ketika di perjalanan kita sama sekali enggak mengeluarkan satu kata pun, mungkin dia tidak punya tenaga lagi untuk ngobrol atau sekedar berbicara. Bahkan sampai rumah, kami pun langsung menuju kasur masing-masing dan aku rasa memang benar, dia capek. Keesokan pagi ketika kita bangun dan memegang gawai kami, kami kaget, ternyata Gunung Merapi batuk. Merapi mengeluarkan abu yang cukup membuat warga Yogyakarta ramai-ramai memakai masker.

“Aku datang ke Jogja disambut langsung sama Merapi,” temanku ngomong ke aku pagi itu, mungkin melucu, tapi leluconnya enggak sampai, jadi aku enggak tertawa sama sekali.

Dari hari itu, sampai sekarang, detik di mana aku menulis surat untuk kamu, Merapi masih menunjukkan aktifitas. Kadang batuknya cuma beberapa menit, beberapa hari yang lalu sampai setengah jam. Untung saja setiap Merapi batuk setelahnya pasti diiringi dengan hujan, sehingga abu-abu yang terbang langsung disapu oleh air hujan. Setidaknya abu-abu itu tidak langsung terhirup. Karena menunjukkan aktifitas, lembaga pemerintah yang menangani persoalan ini membuat rilis status dari normal menjadi waspada.

Pacar,

Kamu bertanya apa rasanya jatuh cinta, bagaimana kita ketika kita cinta ke seseorang. Hmmm, bahkan aku sendiri tidak tahu pasti dengan jawaban itu. Sudah banyak orang yang aku tanya, kerabat, abangku, beberapa teman kerjaku, teman kuliah juga aku tanya. Tapi jawabannya belum ada yang bisa aku cerna, atau setidaknya belum bisa aku ceritakan dengan jelas dan runut.

Entah kenapa setiap ditanya seperti itu, rata-rata jawabannya, “Aku aja enggak tahu jatuh cinta itu apa,” “Kayaknya itu cinta,” atau, “Ya, rasanya gitu.” Semua jawaban mereka berdasarkan asumsi. Belum ada sesuatu yang pasti, sementara kamu enggak suka hal yang enggak jelas. Makanya aku enggak berani atau belum berani untuk ngejelasin apa rasanya jatuh cinta. Berani bukan kata yang tepat, tapi bisa, mungkin aku enggak atau belum bisa menjelaskannya ke kamu.

Mungkin nanti ketika aku bisa menjelaskan, kamu orang pertama yang akan aku kasih tahu seperti apa cinta itu. Tapi, aku tahu ini sayang. Seseorang pasti bisa merasakan cinta partnernya, perkara dia menerima cinta atau menolaknya itu hal lain. Apakah kamu sama sekali enggak merasakan rasa yang datang dariku?

Oh, ya … Aku ingat ketika aku riset untuk membuat paper dengan tema cinta dan relationship. Dari riset itu ada hal yang menarik namun kebanyakan orang belum tahu; lima bahasa cinta. Jadi, setiap orang memiliki bahasa cintanya masing-masing. Setiap orang berbeda cara mengekspresikan cinta dan menerima sekaligus merespons cinta dari orang. Bahasa-bahasa itu ada; receiving gifts, quality time, word of affirmation, acts of service, dan terakhir physical touch.

Ya, nama dari lima bahasa itu sudah mewakili. Orang yang pertama itu berbahasa dengan hadiah, benda-benda pemberian, mereka akan senang kalau dikasih sesuatu yang membuat mereka terkejut. Orang kedua, mereka berbahasa dengan menghabiskan waktu yang berkualitas dengan orang yang dia cintai bagaimana pun kondisinya, yang penting ada dan sama mereka, itulah singkatnya. Orang ketiga, kata-kata dan pujian yang mereka butuhkan atau bahasa sederhananya ‘dipuk-puk’. Buat yang ke empat, mereka merasa dicintai ketika ada bukti dengan kerja nyata yang dibuat pasangan mereka. Terakhir, bahasa cinta mereka adalah bersentuhan secara fisik, mereka akan merasa dicintai ketika dipengang tangannya, dipeluk, digandeng, dicium pipi dan keningnya.

Lima bahasa cinta ini adalah bagaimana manusia mengkomunikasikan rasa mereka. Cara orang satu dengan lain akan berbeda ketika mengungkapkan cinta. Begitupun cara mereka menerima cinta, bagaimana mereka ingin dicintai oleh pasangannya. Di sini masing-masing pasangan penting untuk mengkomunikasikan bagaimana mereka ingin dicintai oleh pasangan mereka. Banyak pasangan yang selalu bertabrakan dan sulit berkomunikasi bisa jadi karena mereka berbeda bahasa, sehingga ekspektasi dan harapan mereka tidak saling bertemu. Padahal mereka saling mencintai, tapi salah satu dari mereka atau kedua-duanya tidak merasakan apa-apa.

Pacar,

Apa aku bodoh sehingga apa yang aku perbuat tidak sama sekali kamu rasakan ‘rasa’nya? Kerja yang aku lakukan untukmu selalu sepaket dengan apa yang aku rasakan. Aku niatkan itu sebagai tanda.

Apa sebenarnya aku belum mengenal kamu sepenuhnya? Sehingga, setiap aku mengaku sebagai orang yang paling kenal kamu jadi tertolak.

Atau itu hanya ekspektasi yang belum bertemu dan bisa dikomunikasikan?

Sayang,

Apa aku sudah telat untuk kamu merasakan apa yang menjadi hak kamu untuk dirasa?

Berharapkah kamu untuk bisa. Merasakannya?

Salam manis,

Gian