Surat 13 & 14

by | May 30, 2018 | Salam Manis Pacar | 0 comments

Gian sayang,

Beberapa hari kemarin, bukan hari yang baik buatku—dan mungkin juga akan jadi hari yang enggak baik buatmu karena aku membuka surat dengan cara seperti ini; dengan langsung mengatakan bahwa semua enggak baik.

Aku enggak suka kita bertengkar. Itu saja. Walaupun pada kenyataannya, kita sering bertengkar. Masalahnya hanya berputar di situ-situ saja. Tentang ekspektasi.

Memang pada akhirnya, jika bicara tentang relationship, maka kita akan bicara tentang ekspektasi. Apa yang diinginkan tiap pihak dari relationship yang mereka bangun. Begitu juga dengan kita. Mungkin ini juga pentingnya relationship itu perlu diberi label—dan kamu pernah bilang bahwa kamu enggak suka dengan pelabelan semacam ini. Pada akhirnya, kamu memanggilku dengan sebutan ‘pacar’ juga. Di awal kamu sendiri enggak mau memilih sebenarnya apa yang cocok untuk menamakan relationship kita ini. Label membuat semua jadi mudah. Memang mengkotak-kotakkan, tapi setiap label punya ekspektasi. Ketika kamu memilih satu label, pilihan itu datang dengan daftar apa-apa yang kamu ingin dapatkan dan semua yang seharusnya kamu beri. Sampai di sini, kita belum bertengkar.

Kita bertengkar setelah label itu ternyata enggak cukup. Semua daftar itu masih ditambah dengan custom list yang aku dan kamu inginkan. Aku ingin kamu ada di setiap saat aku perlu, kamu menjanjikannya, tapi lebih sering enggak ditepati karena waktu, kesibukan, dan lainnya. Tapi itu tetap lah janji—dan janji itu jadi enggak ditepati. Lalu aku menuntut janji itu ditepati.

Makin hari, aku makin paham bahwa jatuh cinta itu mudah dan kadang rasanya sederhana saja; kamu bertemu dengan seseorang yang kamu suka, kamu mengaguminya, kamu pun bisa jatuh cinta. Relationship beda dengan itu. Cinta saja enggak cukup untuk membuat relationship bisa berjalan. Kamu ingat enggak dengan cewek yang kamu ceritakan dekat denganmu di akhir tahun lalu sampai awal tahun ini? Kamu bilang kalau kamu suka padanya—dia pun bisa jadi begitu. Kalian pun menghabiskan waktu bersama. Tapi hubungan kalian enggak juga ke mana-mana karena suka saja enggak cukup. Dia enggak bisa memutuskan untuk memberi label dan risau dengan bentuk relationship itu sendiri. Sementara kamu, kamu enggak bertemu dengan ekspektasi yang kamu inginkan; kamu ada di hubungan yang isinya hanya dia saja. Dia enggak pernah mengenalmu.

Setiap kali kalian bicara, isinya selalu saja tentang dia. Kalian timpang. Kamu tahu banyak hal tentang dia, sementara enggak sebaliknya. Ekspektasi dia tentang hubungan kalian hanya sampai pada tahap di mana kamu menjadi pendengar yang baik akan semua ceritanya dan dia enggak memberikan hal yang sama. Padahal hubungan seperti itu juga tentang komunikasi dan bagaimana kalian saling berbagi cerita tentang hidup dan hati.

Ketika kamu memutuskan menjauh karena hal itu melelahkanmu, kamu bilang kamu enggak patah hati. Mungkin kamu memang enggak patah hati, tapi kamu kecewa. Enggak ada orang yang masuk ke relationship hanya untuk memberi—di satu titik, kamu ingin menerima. Kamu enggak pernah menerima.

Gian sayang,

Kamu memberi banyak. Aku pun berusaha memberi banyak. Itu pun belum cukup. Ternyata kita juga perlu jarak. Aku baru pahami ini. Relationship itu bukan hanya tentang kedekatan tapi juga tentang ‘jarak aman’. Aku tulis dengan tanda kutip karena terlalu dekat pun membuat rasa aman menjadi enggak ada. Kita enggak lagi punya hal-hal yang hanya dibagi dengan diri sendiri atau teman-teman lain. Kamu enggak perlu tahu semua urusanku, begitu juga denganku.

Kita perlu ruang agar apapun yang ada di relationship ini enggak terasa menyesak.

Kita bertengkar karena ruang itu kadang enggak ada.

Kita perlu untuk menyamakan lagi ekspektasi kalau mau relationship ini bertahan lama karena seiring waktu, banyak yang ingin kita tinggalkan, perbarui, atau diadakan.

Gian sayang,

Kemarin aku pulang sudah malam. Setidaknya, jam di ponselku menunjukkan hampir jam setengah delapan malam. Tapi matahari masih terang—atau bisa dibilang nyaris senja. Di musim panas seperti ini, siang jadi lebih panjang dari biasanya. Aku melihat langit dan warnanya begitu merah, begitu rekah.

Aku berhenti di Union Station (semacam terminal kecil di dalam kampus untuk bus yang rutenya berakhir di dalam kampus) dan sengaja melewatkan bus yang aku tunggu. Aku memilih untuk ikut bus berikutnya lagi saja, yang akan datang lima belas menit lagi. Di depan Union Station ada stadion yang besar sekali. Dari sana, aku bisa melihat jalanan yang menanjak dan menurun. Tempatku ini enggak rata tapi juga belum bisa dibilang sebagai perbukitan. Di atas stadion itu, langit luar biasa indahnya. Tapi kemudian aku teringat bahwa darah juga merah. Bahwa malam dan siang dipisahkan senja dan fajar yang sebenarnya adalah luka.

Mungkin aku saja yang sedang sedih di hari itu karena kita bertengkar jadi apapun yang kelihatannya indah, jadi ikut kelihatan menyedihkan.

Tapi … bukankah bisa jadi begitu?

Bisa jadi dusk and dawn itu sebenarnya luka berdarah yang menganga di setiap hari karena siang dan malam dipisahkan waktu begitu rupa? Mereka enggak pernah bertemu. Mereka ingin bertemu.

Gian sayang,

Bisa jadi, kalau kita dekat pun, kita akan tetap bertengkar. Jadi, biarkan saja pertengkaran ini. Sepertinya, bukan masalah pertengkarannya yang perlu dipikirkan, tapi seberapa besar usaha kita untuk membuat pertengkaran demi pertengkaran—karena ini bukan yang pertama dan enggak akan jadi yang terakhir—sebagai tanda bahwa ada yang harus disamakan lagi. Ada yang harus dilihat lagi dan diselesaikan. Masalahnya yang diselesaikan, bukan relationship-nya.

Sampai di rumah, aku menghangatkan susu cokelat dan dua potong donat sebelum menulis surat ini. Aku harap kita enggak lama-lama bertengkarnya. Aku harap juga pertengkaran ini enggak akan mengubah apapun yang sudah baik.

Gian sayang,

Apa kabarmu? Mau susu cokelat hangat dan donat?

Teman satu apartemenku sedang pergi ke luar kota, road trip dengan pacarnya. Sampai dua pekan ke depan, aku sendirian.

Salam manis, xxxxx

Pacar sayang,

Sama, aku benar-benar enggak suka pas kita bertengkar. Sama ketika aku lagi kangen-kangennya ke kamu, pertengkaran juga punya kedalaman rasa yang sama. Aku sangat suka ketika aku kangen sama kamu, sebaliknya aku enggak mau kita berantem. Walaupun konflik itu konsekuensi dari relationship, tetap saja aku ingin konflik segera diselesaikan.

Hari jadi hancur kalau kita bertengkar. Kalau konflik itu di pagi hari, aku enggan beranjak dari tempat tidurku. Kalau berantem kita di penghujung hari, tidur sama sekali bukan opsi.

Ketika kita bertengkar, kamu seperti mempertanyakan kemampuanku. Buat cowok ke cowok, mempertanyakan kemampuan itu mengejek. Kalau dari cewek, cowok pasti mempertanyakan dirinya, merendahkan dirinya, kenapa tidak bisa lebih baik. Kamu sering aku tanya, kan, masalah cowok-cowok yang pernah dekat dengan kamu, rata-rata cowok itu seperti itu. Ketika dia suka dengan cewek, dia akan berusaha menjadi yang terbaik. Cowok ingin tahu kalau dia adalah satu-satunya yang bisa menjadi pelindung kamu, satu-satunya yang menyenangkan kamu, bukan yang lain.

Cewek dan cowok beda cara berpikir. Buat cewek proses dan pengalaman di dalamnya itu yang membuat dia tertarik dengan sesuatu. Cowok lain; hidup ini buat dia adalah kompetisi dan goal, bukan prosesnya tapi tujuan dan persaingannya. Jadi masuk akal, kan, kenapa kebanyakan cowok suka dengan sepak bola, bola basket, mendaki, Formula 1, MotoGP. Sepak bola dan bola basket punya gawang dan ring, mendaki punya puncak, Formula 1 dan MotoGP punya juara 1, 2, dan 3. Itu semua tempat cowok memuaskan hasrat goal/achievement dan persaingan.

Pacar,

Kemaren aku dicurhati oleh salah satu temanku. Dia bingung, ada dua orang cewek yang ngajak dia jalan dan dia enggak bisa memilih. Bukan bingung, sih, tepatnya; males. Dia enjoy aja jalan sama cewek mana pun dan ke mana pun. Tapi, dia bilang cewek kalau udah ngajak jalan itu selalu minta lebih—lebih dari sekedar teman. Temanku ini lagi enggak mau lebih dari sekedar teman ketawa haha-hihi. Iya, dia enggak mau ada dalam relationship sekarang. Dia enggak mau ada di zona lebih dari teman.

Padahal dua cewek yang mengajak dia jalan dan dia bilang meminta hubungan lebih dari teman itu cewek yang populer. “Apalagi, sih, yang kurang?” desak teman-teman cowok dia ke temanku ini. Terus aku juga coba bilang hal yang sama, “Ya … udah kalau ceweknya mau, pacarin aja.” Temanku bilang, “Enggak semudah itu.” Aku tanya lagi kenapa. Dia bilang. “Ingin cari yang membuat dia nyaman dan itu belum ketemu sampai sekarang.”

“Kebanyakan cowok itu macarin cewek buat pencapaian, tujuan, atau prestasi, atau apalah yang sejenis itu,” temanku bilang. Mereka jadiin itu kebanggaan, seolah macarin cewek cantik itu prestasi yang bisa dia umbar. Kalau putus, kan, lumayan label orang ke kita ‘mantan pacar cewek populer’. Jadi, hilang apa arti relationship itu. Kalau kita anggap relationship itu kayak olahraga, relationship itu proses bukan tujuan. Temanku agak nyinyir waktu itu. Mungkin karena dia menganggap itu proses makanya dia mencari yang nyaman, bukan cuma yang kelihatan di mata doang.

Masing-masing orang di relationship itu punya tujuan yang seringnya berbeda-beda. Karena kita jadiin relationship itu proses dan perjalanan, pasangan kita itu otomatis jadi teman perjalanan untuk mencapai tujuan masing-masing. Masing-masing anggota di dalam relationship itu mesti saling peduli dengan tujuan mereka walaupun tujuan mereka kadang enggak ada kaitannya dengan kita—namanya juga relationship. Nah, temanku ini belum mau untuk peduli dan berbagi apa yang dia punya. Dia ingin berpikir untuk dirinya sendiri. Egois, memang, dan itu wajar, enggak ada yang salah di situ.

Berpikir untuk orang lain ketika kita belum mapan untuk diri sendiri hanya akan menyakitkan orang itu.

Pacar sayang,

Aku tahu dan aku mengerti sama apa yang kamu bilang kalau relationship itu proses. Ketika kita tahu itu bukan tujuan melainkan proses kita bisa dengan lapang dada menjalani apa yang ada di dalamnya. Berantem, ngomel, marah, kesel, senang, kangen, rindu, bahagia, semua itu pernak-pernik yang pasti ada dalam relationship. Wajar Muhammad SAW bilang kalau ingin mengenal seseorang salah satunya dengan berperjalanan jauh, akan keluar semua apa yang enggak terlihat. Relationship juga sama, perjalanan jauh dan panjang.

Pacar sayang,

Aku mau donatmu. Apa kamu sudah membaik sejak pertengkaran kita yang terakhir?

Bisakah pertengkaran kita enggak menghancurkan apa yang sudah kita bangun?

Salam manis,

Gian