Surat 15 & 16

by | Jun 10, 2018 | Salam Manis Pacar | 0 comments

Gian sayang,

Kamu bercerita padaku di malam itu—sewaktu kita sama tidak bisa tidur walaupun lelah—kalau kamu jatuh cinta pada perempuan yang sejak kali pertama kamu lihat fotonya, entah mengapa kamu tahu kalau dia akan jadi milikmu. Sekarang kamu tahu kalau itu benar adanya, dia milikmu, tapi tidak sepenuhnya.

Kamu bercerita tentang perasaan-perasaan baru, yang belum pernah kamu tahu sebelumnya, yang ketika kamu rasakan, kamu memahami kalau yang dulu-dulu itu semu. “Bahwa cinta enggak serumit itu,” katamu, “cinta itu sederhana seperti apa yang kamu ingin bisa dijelaskan dalam satu kalimat pendek saja.”

Aku balas dengan membantah, “Kalau benar demikian, pembicaraan panjang itu enggak perlu ada.”

Kamu pun bilang, “Cintanya enggak rumit. Seperti makan,” katamu, “makannya enggak rumit, yang membuat rumit itu ketika kamu sadar bahwa makan itu harus kamu lakukan setiap kali lapar. Pembicaraan panjang seperti ini harus dilakukan ketika aku rindu, atau kamu rindu, atau kita merasa bahwa apa-apa yang membuat bahagia, salah satu dari kita harus tahu seketika itu juga. Cinta seharusnya sesederhana keinginan untuk berbagi bahagia,”

“Cinta sesederhana berbagi bahagia,” kataku mengulang ucapmu—dalam satu kalimat pendek saja.

Salam manis,

xxxxx

Pacar sayang,

Ya, aku ingat malam itu. Malam yang sama saja seperti yang lain kalau dipikir-pikir lagi. Malam, kan, memang selalu seperti itu, gelap, suara jejak yang terdengar lebih keras, dan hawa yang dingin. Tapi, tenaga habis ludes di malam ketika kita bertengkar. Padahal kita berjarak, fisik kita enggak bertemu, enggak tahu kenapa capeknya seperti kita bertengkar langsung empat mata. Enggak ingin mengulangi malam yang seperti itu, walaupun ini mustahil karena—mungkin—kita akan bertengkar lagi.

Aku ingat, tapi kalau bisa aku ingin melupakan malam itu. Tapi aku bisa apa?

Kalau benar cinta itu enggak rumit kenapa kamu masih bertanya-tanya bagaimana rasanya? Kenapa kita masih membahasnya di dalam surat kita ini? Kenapa setiap sastrawan masih menjadikan ini tema yang digalinya di setiap karya-karya mereka?

Kalau benar cinta itu sederhana, kenapa setiap kita yang merasakannya enggak pernah bisa memahamkan orang yang bertanya seperti apa rasanya? Kenapa tidak ada ke samaan—apapun—antara mereka yang jatuh cinta? Bahkan beberapa di antara mereka enggak tahu apakah yang mereka rasakan itu cinta.

Pada akhirnya, aku juga enggak terlalu paham dengan apa yang aku bilang padamu di malam kita bertengkar.

Pacar sayang,

Ekspektasi kita enggak pernah bertemu. Kalaupun bertemu itu hanya 1 banding 10 ekspektasi. Kita sama-sama berusaha supaya semakin lama kita ada dalam relationship ini semakin banyak ekspektasi kita yang bertemu. Kamu benar kalau kita mesti melewati banyak pertengkaran agar bisa saling tahu ekspektasi masing-masing. Biarkan pertengkaran ini, just feel how bad it is then go.

Tom Rosenthal bilang dalam lagunya

Our love is a river long, The best right in a million wrongs, I know I’m coming back to you.

Salam manis,

Gian