Surat 17 & 18

by | Jun 29, 2018 | Salam Manis Pacar | 0 comments

Gian sayang,

Aku baru saja turun dari bis ketika aku menyadari kalau kamu enggak membalas chat-ku seharian—sejak pagi. Aku berhenti sebentar dan memeriksa ponselku. Enggak ada kabar darimu sama sekali. Aku hanya tahu bahwa chat terakhir yang aku kirimkan kamu baca siang tadi. Itu saja. Sekarang sudah hampir malam di tempatku dan itu artinya; lebih dua belas jam kamu enggak menghubungiku sama sekali.

Sampai di apartemen, aku menyalakan laptop dan melihat kalau terakhir aku mengirimkan email untukmu itu hampir sebulan yang lalu. Aku juga baru sadar kalau telepon terakhir kita lebih sepekan yang lalu.

Gian, kita ini kenapa?

Memang kita sibuk. Tapi … hal-hal seperti ini bukan tentang seberapa sibuk kamu dan aku, kan? Tapi seberapa inginnya kamu—dan aku—menyisihkan waktu untuk mengirim satu dua baris chat yang aku tahu, kebanyakan isinya hanya hal-hal enggak penting.

Aku enggak mau kamu melihatku seperti cewek cengeng yang baru enggak dibalas chat-nya beberapa lama sudah merengek dan menuntut. Aku mengerti kalau kadang kamu sibuk sekali atau bisa jadi kamu sedang di jalan. Bisa jadi juga Jogja mati lampu atau apalah. Aku hanya berharap salah satu dari alasan itu bukan karena kamu enggak ingin menghubungiku.

Gian sayang,

Aku enggak punya banyak cerita sebenarnya. Mungkin juga aku bingung mau menceritakan apa. Bisa jadi aku menulis email ini untukmu juga karena aku kuatir karena chat-ku enggak dibalas jadi apapun yang aku tulis di sini enggak penting. Aku hanya ingin kamu tahu kalau aku mencoba menghubungimu. Aku tahu, ini terdengar menyedihkan. Aku juga berharap bukan itu alasanku yang sebenarnya menulis ini untukmu. Ah, mungkin juga aku ingin bercerita banyak tapi bukan di chat yang sebaris-dua baris. Bukan di telepon yang aku harus langsung bicara tanpa bisa mengedit atau membaca ulang yang ingin aku sampaikan.

Sudahlah tentang alasan-alasan itu.

Aku ingin menulis hal yang lain….

Gian,

Kamu tahu salah satu temanku yang pernah aku ceritakan di telepon tempo hari? Namanya Milan—setiap kali aku menyebutkan namanya, aku selalu saja teringat pada Milan Kundera dan nama kota di Italia sana. Aku bertemu dengannya pekan lalu. Dia, seperti biasa, enggak terlalu memperhatikan apa yang aku coba katakan padanya. Lalu setelah itu, dia bicara banyak tentang dirinya sendiri.

Kamu tahu, aku bukan pendengar yang baik. Aku hanya pendengar yang sedang berusaha menjadi baik. Aku mendengar dia bercerita tentang nilai-nilai dia di semester kemarin dan rencananya ke depan. Buatku itu enggak masalah. Tapi dia terus-terusan membicarakan tentang salah satu kelas di mana aku mendapat nilai A dan dia enggak lulus di kelas itu. Dia harus mengulang di tahun depan. Dia bilang kalau kelas itu sebenarnya mudah karena aku saja bisa lulus.

Kalimat itu enggak aku masukkan ke hati. Tapi … aku sudah terlanjur mendengarkannya. Jadi, aku berusaha melupakannya. Sayangnya, aku enggak bisa lupa. Buktinya, aku menceritakan ini di email untukmu ini. Kalau aku benar sudah melupakan kalimat itu, tentu aku akan menuliskan hal yang lain. Aku masih mengingatnya karena memang hal itu menggangu. Huft.

Banyak yang menyangka kalau aku dan Milan berteman. Kami memang berteman. Tapi—ah, ini sulit sekali aku akui—kalau aku boleh memilih, aku enggak ingin terlalu sering bertemu dengannya. Kalau aku ada di kelas yang sama dengannya, aku lebih memilih untuk duduk agak menjauh dan kalau pun dia menyapaku untuk berbasa-basi, aku akan menjawab seperlunya. Pekan lalu, aku menjaga stand Indonesia di acara kampus dan dia mendatangiku. Aku enggak bisa ke mana-mana dan pilihannya hanya mendengarkan apa yang ingin dia katakan. Lalu bodohnya, aku mengingat terus apa yang dia katakan. Memang melupakan sesuatu dengan cara memerintahkan otak untuk ‘lupakan hal itu!’ malah hanya akan membuatnya makin teringat saja.

Bagaimana caramu menjelaskan tentang pertemanan yang menghabiskan lebih banyak energimu daripada membuatmu mengisi kembali energi yang hilang setelah bertemu dengan orang itu?

Aku punya satu kata; toxic.

Pertemananku dengannya itu; toxic friendship.

Gian sayang,

Aku meminjam novel Vanity Fair di university library karena aku ingin membaca karya klasik di musim panas ini setelah beberapa bulan lalu aku banyak membaca sci-fi dan fantasi. Aku baru menyelesaikannya beberapa malam lalu. Aku dulu pernah membacanya tapi aku sudah enggak terlalu ingat bagaimana ceritanya. Setelah selesai membaca ulang, aku malah lebih tertarik dengan bagaimana pertemanan Becky Sharp dengan Amelia Sedley. Apa namanya mereka kalau bukan sahabat? Tapi persahabatan itu beracun. Mereka menjaga kehadiran satu sama lain dekat-dekat dan lekat-lekat untuk mengawasi apa yang dilakukan satu dan lainnya. Untuk saling melihat siapa yang lebih baik. Persaingan yang enggak kentara kalau kamu membaca hanya untuk mendapatkan ceritanya saja.

Apa kamu punya teman seperti itu? Yang tetap menjagamu ada di radar mereka sebagai acuan untuk melihat kemajuan atau kemunduran mereka sendiri. Kamu dijadikan pembanding atas pilihan mereka sendiri. Yang akan tega bicara, “Gian masih juga belum lulus padahal begini dan begitu sementara gue begini dan begitu….”

Tara Isabella Norton pernah menulis begini:

“At its best, friendship can be a form of utterly unselfish love: companionship and complicity without the desire for possession. At its worst, it can be a form of narcissism: a constant measuring and remeasuring of yourself against someone who comes to embody everything you wish you were (or weren’t).”

Buatku ini menyeramkan….

Aku pun memikirkan; apa aku juga menjadikanmu alat ukur atas keberhasilan atau kegagalanku sendiri?

Misalnya, ketika aku lebih banyak memperhatikanmu, aku akan mengukur perhatian yang aku berikan dengan banyak perhatian yang kamu berikan? Hubungan kita bukan lagi tentang bagaimana saling menghormati dan menghargai satu sama lain sebagai manusia, tapi saling menimbang apa-apa yang aku dan kamu berikan untuk hubungan ini.

Kalau memang begitu, maka hubungan kita ini mulai masuk ke fase toxic. Beracun.

Aku memang sedang mengukur itu semua. Aku yang menjadikan ini beracun.

Gian sayang,

Apa ini semua tentang Danny yang datang ke state ini dan mengunjungiku dua pekan lalu? Kalau iya, mengapa kamu enggak pernah mengatakan apapun tentang itu? Kenapa kamu enggak pernah menanyakan sebanyak pertanyaan yang mengganggu di kepalamu. Aku akan menjawab karena memang enggak ada apa-apa. Dia hanya datang dan mengunjungiku. Dia menginap di apartemen student Indonesia lain di sini dan aku memang beberapa kali bertemu dengannya. Aku juga mengantarkan dia berkeliling kota ini. Kamu sudah tahu itu semua. Aku selalu memberitahukannya padamu. Lalu, apalagi?

yours,

xxxxx

Pacar sayang,

Hm, masalah yang sama. Kamu selalu komplain masalah ini terus. Sudah aku bilang, kamu itu orang yang selalu aku hubungi. Dari dulu aku enggak pernah menyalakan notifikasi, apapun itu. Entah email, sms, bahkan dering telepon masuk saja aku silent. Sama kamu itu lain. Semua jalan untuk menghubungi kamu dan sebaliknya aku buka selebar-lebarnya.

Kamu itu kenapa? Jangan tanya kita kenapa.

Kenapa, sih, kamu itu selalu curiga? Ditinggal sebentar marah. Beberapa menit enggak dibales, ngambek.

Setiap kamu komplain masalah ini, rasanya kamu selalu mempertanyakan perasaanku kepadamu. Seperti kamu meragukan kemampuanku untuk pantas bersama kamu. Itu sakit. Aku laki-laki dan perlu tahu apakah aku bisa menjadi yang terbaik buat perempuannya dan kamu mempertanyakan itu?

Kamu berhak menuntut, kok. Kamu berhak untuk merengek. Tapi terkadang aku enggak tahu lagi apa mau kamu. Aku tahu kamu ‘just being a woman’, di satu waktu asyik dan beberapa menit kemudian ngambek. Setengah jam pertama bak bidadari yang pengen dimanja, setengah jam ke dua menjadi monster yang menyebalkan. Tapi entah kenapa ‘tahu’ itu enggak nyelesein komplain yang kamu bilang.

Ini kan yang sebenarnya sulit untuk laki-laki paham ke perempuannya. Perubahan mood yang enggak bisa dikira. Salah satu penyebab banyak laki-laki enggak mau berurusan dengan perempuan kan ini. ‘Ribet’ bahasa mudahnya. Kadang gini, sebentar lagi begitu. Tapi aku di sini, berusaha paham sebagai konsekuensi hidup bersama kamu.

Sayang,

Kamu terlalu khawatir sama diri kamu sendiri. Kamu khawatir dengan hal yang sebenarnya enggak perlu kamu khawatirkan. Aku sudah bilang berkali-kali kepada kamu kalau kamu adalah prioritas buat aku. Kalau kamu prioritas apalagi artinya kalau bukan penting? Aku sedih kamu seperti ini. Capek dengan hal yang sebenarnya enggak ada dan enggak perlu untuk dipikirikan. Capek, kan, mikirin apakah chat ini akan dibales atau enggak? Mikirin apakah kamu penting atau enggak? Sudah, ya, mikirin kayak gininya. Aku bilang sekali lagi kalau semua tentang kamu itu penting buat aku.

Pacar,

Oh, si Milan. Namanya cakep, ya, ‘Milan’. Kalau aku, sih, ingat klub sepak bola kalau ngedenger kata ‘Milan’; AC Milan dan Inter Milan. Kota itu, kan, salah satu kota legendaris di Itali, bahkan kota itu punya dua klub sepakbola yang sama-sama besar.

Toxic friendship? Kamu itu berteman saja enggak sama dia. Enggak usah ke bagian toxic, kita ke bagian ‘teman’-nya aja dulu. Melihat seperti apa kalian berinteraksi, kalian itu enggak berteman. Setiap relationship itu, kan, timbal-balik, enggak main solo, enggak bertepuk sebelah tangan, apapun relationship-nya. Entah berteman atau romantic. Dan ngelihat dan ngedenger apa yang kalian lakukan, di antara kalian berdua yang ada di dalam relationship itu cuma kamu.

Kamu bahkan enggak pernah bisa bercerita, kan, sama dia? Hanya dia yang bercerita padamu. Cuma kamu yang berusaha ngerawat dia, nyenengin dia. Enggak ada timbal balik di dalam itu.

Susah untuk bilang kalian itu berteman. Sementara menurutku toxic friendship itu relasi timbal-balik tapi yang kamu kasih delapan sementara baliknya enggak sebanding. Iya, sih, ujung-ujungnya emang perhitungan. Ya, namanya juga relationship, kan, apapun jenisnya, tetep yang mesti kita selamatkann pertama kali itu diri kita sendiri.

Pacar sayang,

Aku lagi enggak tertarik untuk membaca novel di liburan ini. Mungkin karena semester besok banyak bahan kuliah yang mesti aku cari, jadi itu banyak memakan waktu. Belum terpikir juga untuk mencari hiburan di liburan ini. Mungkin menonton kembali beberapa film atau serial? Aku belum memutuskan lagi. Yang jelas sekarang, persiapan untuk semester besok lebih penting.

Ngomong-ngomong, kamu inget enggak pertemanan antara Jesse dan Walter di serial Breaking Bad—ah, serial ini saja yang aku tonton ulang? Kamu pasti tahu, kan, kalo mereka itu berteman dan sangat dekat. Tapi semakin ke ujung, pertemanan mereka rusak. Walter terlalu mengkontrol relationship mereka, membuat komunikasi mereka jadi enggak sehat. di episod-episod menjelang akhir, Jesse ingin keluar dari pertemanan itu, tapi Walter enggak ngebiarin temannya ini untuk pergi dari relationship mereka.

Ini toxic, kan. Mulai dari Walter mengekang Jesse dan terlalu berkuasa di dalam pertemanan itu. Sampai Walter enggak membolehkan Jesse yang muak dengan relationship mereka untuk pergi. Toxic karena salah satu mereka terjebak dan enggak punya opsi apapun.

Pacar sayang,

Semua orang tahu kalau kita bertemu dengan mantan, lalu jalan-jalan berdua atau dia mengunjungimu jauh-jauh dari tempat dia tinggal, itu pasti ada sesuatu. Sekeras apapun kamu bilang, itu pasti ada sesuatu. Aku enggak berhak melarang kamu berteman dan bermain dengan siapapun, tapi yang aku rasakan kamu mencoba menumbuhkan lagi apa yang kalian jalani dulu sebagai pelarian karena aku enggak ada di dekatmu. Itu yang aku rasakan. Okay, aku sedikit melonggarkan komunikasi kita, tapi itu karena aku ingin kamu memikirkan ulang apa yang kamu kerjakan.

Sayang, benarkah apa yang perasaanku bilang?

Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi di sana antara kalian, sayang. Aku menjauh karena aku butuh ruang dan waktu untuk berpikir sendiri apa yang terjadi di antara kalian di sana. Aku tahu harusnya aku melibatkanmu untuk memikirkan ini, tapi sendiri dan agak jauh itu caraku untuk paham.

Pacarmu,

Gian