Surat 19 & 20

by | Jul 5, 2018 | Salam Manis Pacar | 0 comments

Dear Gian,

Sengaja aku enggak menunggu lama untuk membalas suratmu kali ini karena ada banyak yang ingin aku jelaskan dan juga karena kamu masih belum mau menjawab pertanyaan-pertanyaanku di chat. Kamu bahkan belum mau bicara denganku di telepon. Aku enggak tahu kamu sibuk atau apa, tapi aku berharap kamu memang sibuk. Kalau kamu melakukan itu karena kamu masih belum ingin menyelesaikan masalah ini denganku, aku harap kamu membaca suratku ini sampai selesai. Kamu enggak perlu membalas dengan cepat. Take your time. Oke?

Masalah kita cuma satu; jarak.

Ini sudah berkali-kali kita bahas dan sepertinya dulu hal ini enggak jadi perkara, kan? Bisa jadi ketika itu, ketika kita belum melihat hal ini sebagai masalah, itu sesederhana karena memang kita belum tahu kalau itu akan jadi masalah. Kamu pikir, kamu enggak akan kenapa-kenapa karena berpisah lama. Aku pikir, kita bisa menjalani ini. Padahal, kalau dilihat lagi ke belakang, benih masalahnya sudah ada, kan? Sulitnya bicara hanya dengan pesan singkat atau susahnya menjelaskan di telepon karena aku dan kamu enggak saling bisa melihat dan menatap. Ini masih ditambah dengan perbedaan zona waktu sehingga kadang kita bicara di jam-jam yang aku dan kamu sudah sama lelahnya.

Ini perkara klise yang kita sering dengar di relationship banyak orang, yang kemudian menghancurkan relationship itu, tapi kita enggak juga paham seberapa besar hal itu bisa membuat masalah sampai akhirnya kita menghadapinya sendiri. Perkara yang hanya satu kata, sebenarnya; komunikasi.

Kita pikir cinta—itu pun kalau memang benar cinta—cukup. Ternyata enggak. Ternyata kurang.

Ada hal-hal yang enggak bisa digantikan dengan pertemuan dan bicara secara langsung. Kita baru paham, kan?

Aku cuma berharap kamu masih mau menjaga komunikasi denganku. Aku enggak tahu cara lain. Kita harus bicara dan pembicaraannya harus membuat dekat. Pembicaraannya harus melipat jarak jadi dua kali, empat kali, atau enam belas kali lebih dekat. Terserah.

Gian sayang,

Kamu cuma menjawab chat-ku semalam dengan bilang kalau kamu sedang menonton Call Me by Your Name dan minta aku untuk menunggu balasanmu setelah kamu selesai. Ternyata, sampai aku menuliskan surat ini, yang mana itu sudah sehari berlalu, kamu belum juga membalas. Aku mencoba meneleponmu tapi kamu enggak angkat. Aku meninggalkan pesan suara, tapi sepertinya hanya kamu dengar saja. Aku enggak ada kesibukan apapun di akhir pekan ini dan karena aku penasaran dengan film yang kamu sebutkan itu, aku pun akhirnya menontonnya juga. Aku baru selesai beberapa jam yang lalu. Cerita cinta ternyata. Klise.

Kenapa kamu jadi suka menonton film seperti ini, sih?

Aku suka film seperti ini dan buatku, menonton romansa itu menyenangkan sekaligus menghibur. Yah, aku juga tahu kalau cerita romansa orang-orang di dunia nyata enggak akan semanis dan sedramatis cerita di film walaupun kalau kamu beruntung, kamu akan menemukan cerita-cerita yang jauh lebih manis dan lebih dramatis. Seperti beberapa waktu lalu aku menceritakan padamu cerita tentang Michael Jackson dan Diana Ross. Mereka terpaut usia begitu jauh, lima belas tahun. Ketika pertama kali mereka bertemu, Diana Ross sudah berusia 25 tahun dan Michael Jackson baru berusia 10 tahun. Tapi belasan tahun kemudian, mereka jatuh cinta juga. Aku cuma cerita segini banyak padamu waktu itu. Lain kali, akan aku ceritakan lebih banyak lagi. Tapi kalau kamu penasaran sekarang, kamu googling saja.

Beberapa orang yang beruntung menemukan ‘true love’ mereka. Jatuh cinta sebenar-benar. Kebanyakan dari kita hanya mencari. Banyak lagi yang sudah menemukan dan enggak bisa memiliki. Michael Jackson salah satunya—mungkin berikutnya kita juga akan masuk di daftar itu.

Gian,

Aku enggak ingin membahas cerita cinta apapun yang ada di Call Me by Your Name karena yah … itu biasa ada di cerita romansa manapun. Memang akting dan sinematografinya memukau. Bagaimana kalau aku membahas itu saja?

Film ini diambil dengan kamera 35mm yang punya kedekatan dengan bagaimana sewajarnya mata manusia melihat. Dia enggak pakai lensa zoom atau wide untuk efek ini dan itu. Simpel dan ringkas; satu lensa untuk semua shots. Lensa ini membuat gambar terasa dekat dan ‘biasa aja’—dan efek ‘biasa aja’ ini yang mendukung penceritaan karena yang diceritakan di sini memang kisah cinta di musim panas yang banyak terjadi. Konsep sinematografinya mendukung cerita mendekat ke penonton tanpa membuatnya menjadi kurang indah. Memang enggak akan ada gambar lanskap atau shot close-up yang biasa ada di film lain, tapi lihat ‘tone’ yang dipakai’ kekuningan, terang, hangat, dan di beberapa scene yang menunjukkan semacam harapan dan impian kedua karakternya, digunakan shot yang ‘dream like’—seperti mimpi; enggak fokus dan gelap. Semuanya itu mendukung summer fling love story.

Aku suka film ini dan aku juga akhirnya tahu kenapa kamu suka.

Kalau tujuanmu menyebutkan judul film ini agar aku menonton, kamu berhasil. Kalau tujuanmu untuk menyindir, kamu juga berhasil.

Aku katakan sekali lagi; Danny hanya datang untuk berkunjung di musim panas. Itu saja. Dia cuma mau main dan kebetulan yang bisa dia hubungi di state ini cuma aku. Ada beberapa teman yang lain memang yang ada di sini tapi mereka sedang road trip. Aku tetap tinggal karena ada summer internship dan aku memang ada waktu untuk mengajaknya jalan beberapa kali. Kalau aku enggak ceritakan padamu, itu karena komunikasi kita berantakan sejak bulan lalu. Kalau aku enggak melaporkannya padamu—mungkin kamu merasa perlu untuk menerima laporan aku pergi dengan siapa dan ke mana—itu karena aku merasa kamu enggak akan mempermasalahkannya.

Kalau ternyata semua alpaku itu jadi masalah buatmu, sekarang aku tanyakan lagi; apa buatmu itu masalah besar? Apa buatmu mantan yang bertemu lagi itu selalu mengingat cerita yang dulu-dulu? Karena aku sama sekali enggak mengingat hal itu.

Kalau ternyata hal ini menganggumu, kenapa kamu enggak berusaha agar aku bisa cerita apapun padamu? Sedikitnya waktu dan sulitnya kita bicara akhir-akhir ini membuatku jadi enggak tahu bagaimana caranya bisa cerita banyak hal padamu. Bahkan aku sudah lupa kapan terakhir kali kita bercerita tentang hal yang remeh-temeh. Surat seperti ini akhir-akhir ini jadi cara terakhirku untuk bicara padamu.

Di suratmu sebelumnya, kamu bertanya aku kenapa, kan. Aku enggak kenapa-kenapa. Aku hanya bingung dengan keadaan kita. Perlu dua orang yang sama ingin bicara dan sama keras ingin mendengar untuk bisa saling memahami. Itu yang disebut dengan komunikasi yang baik, kan? Kalau hanya ada satu orang yang berusaha dan satu orang lain yang banyak menahan dan enggak juga ingin bicara, bagaimana caranya kita bisa menjaga ini semua?

Kita masih lama lagi akan bertemu, kan? Mungkin tahun depan, paling cepat. Apa kamu mau menunda sampai saat itu datang? Bagaimana kalau saat untuk bicara ketika itu juga sudah enggak ada karena sebentar lagi, bisa jadi, kita sudah sama-sama menyerah dan enggak lagi ingin menjelaskan dan mendengarkan apapun.

Gian,

Sekarang aku tanya sekali lagi; kamu kenapa?

Hugs,

xxxxx

Pacar sayang,

Mungkin kamu benar. Jarak adalah permasalan kita. Jarak yang enggak pernah kita ributin, enggak pernah kita bahas, ternyata yang membuat kita susah untuk ‘nyambung’ akhir-akhir ini. Seperti yang aku bilang, padahal kita enggak pernah membahas ini, mungkin kita dulu terbiasa dengan jarak jadi ini enggak pernah jadi masalah. Seamless. Tapi sekarang itu akhirnya kita notice.

Akhir-akhir ini aku sangat butuh kamu. Butuh untuk dekat dengan kamu. Semakin ke sini aku ngerasa semakin attach, karena itu aku butuh buat melihat kamu, menyentuh kamu. Badanku butuh diyakinin kalo aku itu sedang berduaan sama kamu, langsung. Dan hal itu enggak kita dapetin dengan hanya chat dan menelpon bukan? Mungkin itu yang membuatku marah. Bukan, bukan, aku enggak marah sama kamu. Aku hanya marah dengan situasi yang membuat kita enggak bisa dekat.

Mungkin, aku sedang capek. Ingin rasanya untuk pulang ke rumah lalu bisa bercengkrama dengan kamu selagi aku menghabiskan tenaga-tenaga sisa yang aku habiskan di luar. Badan dan pikiran aku menuntut untuk itu, tapi akal sehat aku tahu kalau itu enggak akan terjadi dalam waktu dekat. Karena itu aku jadi capek sendiri. Udah badan capek, ditambah memikirkan hal seperti itu.

Sayang,

Waktu aku menerima chat dan dering telpon dari kamu, jujur aku ingin sekali membalasnya. Tapi aku ingin sendiri dulu, mungkin. Dengan pikiran dan rasa capek tadi. Sambil sesekali menonton film-film romansa yang klise. Itu cara cepat menghibur diri, kan? kamu pernah bilang itu padaku. Lari dari dunia nyata lalu let screen do the works.

Aku cari di Google dengan kata kunci top romance movie 2017. Lalu keluar poster warna biru dengan dua kepala mendongak ke atas. Aku, sih, enggak ngeh dengan judulnya apa pertama kali melihat itu. Tapi kesan pertama melihat itu langsung membuatku ingin menonton film.

Ketika aku menonton itu juga, kan, kamu menelpon dan mengirim chat? Ya, aku mendengarnya tapi aku sedang serius dengan itu dengan pikiran yang sedang bertarung di kepala.

Karena aku juga sebenarnya enggak fokus pas nonton film itu. Jadi hanya beberapa yang aku ingat dari dua jam aku menonton.

Kamu inget, kan, waktu Elio dan Oliver bersepeda ke kota lalu berhadapan dengan monumen Perang Dunia Pertama? Sekilas sih, scene ini, ya, ‘apaan sih’. Tapi, aku bener-bener penasaran sama scene ini. Karena scene ini unik, dan kita pernah bahas, kan, kalau enggak ada yang enggak penting dalam scene. Jadi aku ulang-ulang scene ini beberapa kali. Lalu menonton ulang film itu keseluruhan.

Di scene itu Elio memberi tahu Oliver hal privat di tempat umum. Ini menurutku scene penting yang menunjukkan kalau mereka itu sudah menyatu, dan dekat satu sama lain. Karena di scene ini akhirnya Elio mengakui perasaannya ke Oliver. Setelah beberapa waktu mereka berhubungan, di momen ini Elio mengaku dan memberanikan diri untuk mengatakan apa yang dia rasakan ke Oliver.

Ini momen sangat intim menurutku, kayak orang mau nembak gebetannya, kan. Tapi mereka di tampilkan berjauhan dan kamera yang mengambil momen mereka, mengambil dengan jauh dari mereka. Menurutku di momen ini, film itu ingin mengatakan kalau mereka juga enggak nyaman dengan relationship dan apa yang mereka rasakan. Orang kalau enggak nyaman kan pasti berjauhan dan jaga jarak, kan? Jadi walaupun itu omongannya intim, tapi cara kamera mengambil momen mereka ngasih tahu kita kalau mereka itu enggak nyaman dengan situasi yang mereka jalani.

Bahkan ketika Elio membuat pengakuan. Elio masih canggung, dan enggak ada kata yang menjurus seperti ‘cinta’ atau ‘sayang’ yang keluar dari mulut Elio. Itu ngasih kesan kalau mereka takut dengan situasi yang mereka hadapi sama takut kalau ditolak satu sama lain.

Dan yang menarik lagi. Setelah Elio grogi dan takut ditolak. Mereka pun berjalan melewati monumen itu sehingga mereka berpisah lalu bertemu lagi di ujung momen. Lalu mereka berhadap-hadapan. Untuk momen ini, sutradara film ini memberi tahu langsung lewat wawancara. Kalau momen ini adalah simbol untuk menyatunya mereka dari ‘jarak’ yang selama ini memisahkan mereka.

Ya, scene ini ‘cuma’ itu. Tapi makna yang ada di dalam banget.

Pacar sayang,

Setelah aku berpikir ‘sambil’ nyuekin kamu. Ternyata masalahnya bukan di kamu dan masalahnya bukan karena mantan kamu yang datang dari state sebelah. Aku terlalu membesar-besarkan itu.

Masalahnya ada di aku. Aku ribet sendiri dengan pikiran kalau aku selalu ingin dekat dengan kamu, physically. Tapi karena aku tahu kalau itu enggak akan terjadi, jadi malah dibikin pusing. Terus nyalah-nyalahin kamu dan keadaan kalau mantan kamu yang datang itulah, bla bla bla.

Maafkan aku kalau aku berlebihan sama ini.

Sayang,

Aku rindu.

yours,

Gian