Surat 21 & 22

by | Jul 13, 2018 | Salam Manis Pacar |

Dear sayang,

Ya, kadang aku bodoh aku ingin bertanya ini. Pertanyaan klise yang dipakai untuk memulai percakapan. basa-basi, atau apalah. Menanyakan bagaimana kabar kamu? Ada apa? Apa yang kamu rasain sekarang?

Tapi, di sini aku. Aku ingin menanyakan itu. Benar-benar bertanya dan ingin tahu. Bukan sekedar memulai pembicaraan atau basa-basi.

Sayang, bagaimana kabarmu? Ada apa? Apa yang kamu rasain sekarang?

Aku menyadari ternyata selama ini aku enggak peduli seperti kamu peduli ke aku. Dan aku egois selalu membahas aku, aku, dan aku. Aku seperti anak kecil yang harus kamu mengerti dan pahami. Seharusnya aku bisa menjaga diriku sendiri sehingga aku bisa merawat kamu dan tenagamu tidak habis dengan masalah-masalah yang harusnya aku bisa selesaikan sendiri.

Mungkin beberapa pertanyaan di atas bisa memulai ulang dan supaya kamu yakin kalau aku ingin untuk enggak egois. Juga awal yang baik untuk lebih peduli kamu. Di relationship enggak semua aku, kamu setengahnya.

Sayang,

Mungkin pertanyaan itu juga muncul karena kamu belum juga membalas suratku terakhir. Aku khawatir.

Aku bukan khawatir kalau kamu memutuskan untuk pergi dari relationship kita. Ya, mungkin aku khawatir itu. Tapi yang lebih aku khawatirkan itu diri kamu. Aku ingin kamu ‘hidup’. Baru kita nanti membicarakan relationship kita. Kamu as a person itu lebih penting sekarang, baru nanti kita ke urusan yang lain.

Jadi, kenapa kamu belum membalas surat yang aku kirim? Apa yang bisa aku bantu untuk kamu? untuk kita?

Pacar,

Apa kamu ngikutin kejadian di Thailand? Ngomong-ngomong soal peduli, aku pengen ngebahas ini dengan kamu. Kamu ngikutin kan?

Aku enggak akan sempat ngebahas detil masalah itu dari awal, bagaimana itu terjadi, kenapa itu terjadi. Satu surat enggak cukup untuk itu. Kamu bisa mengikuti timeline media sosial kamu, atau cari berita ini dengan tagar #ThaiCaveRescue. Di sana kamu bisa tahu lebih detil. Jadi, aku ingin membahas dari sisi penceritaan media sama kejadian ini.

Kenapa, ya, aku melihat di sisi ini? Mungkin karena ini dari sisi penceritaan sederhana tapi menarik. Sisi ini yang sebenarnya menarik sisi kemanusiaan seluruh dunia untuk ikut serta andil dalam penyelamatan ini.

Coba deh, kita pikir. Ini itu mirip dengan penceritaannya film Matt Damon yang judulnya The Martian. Coba kita urut deh.

Jadi The Martian itu film tentang seorang botanis—Matt Damon—yang terjebak di Mars. Dia enggak sendirian dia bersama beberapa orang lain menjalankan misi dari Nasa. Tapi sayangnya dia sendiri terjebak di Mars ketika teman-teman satu timnya berhasil keluar dari Mars.

Cerita #ThaiCaveRescue ini punya struktur penceritaan yang mirip dengan The Martian. Coba kita urut. Eventnya itu sama-sama terjebak dan enggak bisa ke mana-mana, di The Martian si botanis terjebak di Mars sementara 12 anak-anak dan satu coach itu terjebak di dalam gua. Dunia sama-sama ingin menolong mereka keluar dari tempat yang membuat mereka terjebak.

Ditambah dengan anak-anak ini adalah pemain sepak bola dan kita tahu dunia sedang menikmati perhelatan Piala Dunia di Rusia. Fakta ini membuat orang semakin merasa dekat dengan kejadian ini.

Ada dua belas anak dengan satu pelatih yang berjalan-jalan ke gua namun karena hujan datang membuat mereka enggak bisa keluar dan memaksa mereka untuk terus masuk dan masuk sampai ke ujung gua. Cerita ini mudah. Cerita yang gampang dicerna dan mudah masuk dan membuat kita emosional sehingga kebanyakan kita terus mengikuti kejadian ini sampai akhir.

Sayang,

Aku benar-benar ingin tahu kenapa kamu. Maaf aku mengulangi pertanyaan ini lagi. Tapi memang aku ingin tahu dan aku merasa sangat lemah ketika orang yang aku cintai adalah orang yang enggak bisa aku jaga dan lindungi.

Diam kamu itu suara yang bising dan memekakkan pikiranku sekarang. Diam kamu itu benar-benar hampa buatku sehingga sakit itu benar-benar terasa.

Sayang,

Aku minta tolong. Katakan sesuatu.

Temanmu,

Gian

Gian,

Aku baik-baik saja. Kamu mau tahu itu, kan? Aku jawab; aku baik-baik saja.

Musim panas sudah sampai di puncaknya. Panas kering menyakitkan kulit, enggak seperti Jakarta yang panasnya sumpek dan jenuh. Aku sengaja enggak membalas suratmu sebelum ini karena aku masih ingin berpikir. Entahlah. Mungkin juga aku ingin tenang. Mungkin juga karena aku lelah.

Aku pulang lebih cepat sore ini. Salah satu intern di tempatku bekerja membuat masalah siang tadi. Dia baru tahu cara memakai microwave—aku pun demikian sebenarnya. Sebelum aku sampai di sini, mana pernah aku menggunakannya. Mana tahu aku caranya. Membedakannya dengan oven saja aku enggak bisa. Setelah beberapa kali menggunakannya di apartemen, aku baru tahu kalau microwave itu bukan oven. Aku punya oven yang disatukan dengan kompor gas dan itu aku biasa gunakan untuk memanggang ayam atau kentang.

Ah, tentang kentang panggang ini, aku ingin sekali membagi resepnya. Kamu tinggal memotong kentang jadi dua atau empat, menyiramnya dengan minyak zaitun, menaburkan lada hitam, garam, dan oregano, lalu dipanggang 45 menit di suhu 200 Fahrenheit, selesai! Ini enak sekali. Aku suka memasak kentang panggang untuk pengganti nasi. Kalau aku sedang enggak ingin memasak sayuran, aku biasanya tinggal mencuci brussel sprout atau asparagus, menyiramnya dengan beberapa sendok minyak zaitun, ditaburkan sedikit garam, jadi deh semacam lalapan yang aku sangat suka.

Microwave enggak digunakan untuk memanggang, tapi untuk menghangatkan. Misalnya kamu punya sisa makan malam yang kamu simpan di kulkas, kamu bisa hangatkan 10-25 detik saja agar hangat dan enak dimakan.

Intern di tempatku bekerja itu, dia menggunakan microwave untuk membuat popcorn tapi enggak mengikuti petunjuk yang ada di belakang bungkus popcorn-nya. Dia memasukkan biji jagung itu sampai lebih lima menit dan membuat popcorn-nya gosong dan microwave-nya berasap. Asapnya itu mengenai smoke detector dan menyalakan alarm. Alarmnya itu membuat petugas pemadam datang ke gedung kami dan satu gedung dievakuasi.

Aku menunggu beberapa lama di luar sampai aku tahu kalau bukan ada kejadian kebakaran atau apa tapi hanya … masak popcorn kelamaan! Aku agak kesal tadi.

Aku baik-baik saja. Selain urusan evakuasi tadi, aku baik-baik saja.

Kita baik-baik saja.

Gian,

Aku mengikuti berita tentang anak-anak yang terjebak di gua itu. Pada akhirnya, memang cerita tentang harapan dan keberanian itu disukai. Mungkin karena begitu banyak hal di atas muka bumi ini yang membuat kita enggak lagi melihat bahwa manusia punya kasih-sayang, ketahanan, dan yang lebih penting, bisa bekerja sama seperti itu.

Kalau ada alien yang sedang mengamati bumi dan melihat bahwa manusia itu makhluk yang egois, mau menang sendiri, dan menempatkan kepentingan pribadi di atas kepentingan orang lain, maka kejadian kemarin itu sungguh akan membuat bingung si alien. Haha.

Gian,

Aku cuma ingin bilang kalau hubungan—apapun itu—punya pasang surut. Besarnya rasa sayang berubah. Arah dan keinginan juga berubah. Aku yang hari ini enggak sama dengan aku yang beberapa bulan lalu, mungkin juga dengan aku yang beberapa bulan mendatang. Kita harus menyamakan ekspektasi dari waktu ke waktu. Hubungan ini mengikuti apa yang kita inginkan, bukan kita yang harus menyerahkan semua yang kita punya untuk hubungan ini. Kita harus hidup di dalam ini, bukan mati dan ketika semua berakhir, enggak ada satu pun dari kita yang keluar hidup-hidup.

Mungkin tahun depan, kita kehilangan romansa dan hanya jadi teman. Mungkin setelah itu, kita memutuskan kalau romansa itu musti dihidupkan lagi dan kita pun mengubah pertemanan menjadi hal lain. Aku enggak tahu kita harus bagaimana.

Aku enggak tahu.

Bagaimana kalau kamu menceritakan tentang perempuan yang ingin melamarmu itu? Apa itu jadi? Apa kamu akan mengatakan padanya kalau kamu sudah punya aku?

Aku takut menanyakan ini, tapi aku ingin sekali; apa kamu harus menikah dengan cara seperti itu?

Gian,

Di sini panas sekali. Aku membuat popcorn di apartemen dan memakannya sambil menulis surat ini.

Aku rindu Jakarta.

Hugs,

xxxxx