Surat 23 & 24

by | Jul 20, 2018 | Salam Manis Pacar |

Pacar sayang,

Di Jogja mendingin atau lebih tepatnya beberapa bagian di Jawa ini mendingin. Kemaren aku bertanya pada temen satu rumahku kalau beberapa minggu ini mendingin, apa aku yang sakit atau memang hawanya berubah? Temanku menjawab kalau memang beberapa minggu terakhir semua mendingin. Bukan hanya di Jogja, di Bandung, Solo, Magelang juga mendingin kata temanku tapi aku enggak tahu tempat lain, aku hanya bertanya pada temanku satu rumah.

Aku bertanya pada temanku karena aku tahu kalau kamu tidak suka kalau aku sakit. Kamu bahkan marah kalau aku sakit. Ya, aku tahu kalau kamu marah bukan ke aku, tapi ke kebiasaanku mungkin yang enggak bisa menjaga diri dengan baik dan enggak teratur. Aku bertanya jadi aku enggak perlu bilang, kalau aku sakit langsung berobat setelah sembuh baru bilang. Sekaligus aku enggak mau merepotkan kamu di sana. Terlalu banyak tanggung jawab kamu, ya kuliah, ya tesis, ya intern kamu, bahkan kamu bilang kamu punya urusan, kan, sama kedutaan?

Aku juga mau bilang kalau aku baik-baik saja dan aku bersyukur kamu baik-baik saja.

Pacar,

Dari kecil aku disuruh untuk membeli bahan-bahan masak oleh Mama. Bukan semua bahan, siih, hanya di saat Mama lupa membelinya ketika ke pasar atau persediaan yang ada di dapur habis. Aku membelinya enggak ke pasar, ada warung yang menjual sayur dan bahan-bahan masak di dekat rumahku. Tapi bukan itu yang paling berkesan buatku. Setelah aku pulang dengan pesanan yang Mama minta, dia pasti selalu bilang ketika memasak, kalau masakan itu masalah tangan. Beda tangan beda pula rasanya. Kadang resep yang banyak orang enggak suka, dengan tangan yang bisa, resep itu bisa enak banget.

Kamu mempunyai tangan yang jarang dipunyai orang lain. Tangan kamu itu rare. Aku tahu kalau kamu bisa segala-galanya. Kamu bisa semuanya dan hebat semuanya. Ini, nih, yang bikin aku bingung. Orang bisa semua itu, oke lah, tapi kalau semua itu juga bagus dan ahli?

You are adorable.

Pacar,

Temanku dari Jakarta dia datang ke Jogja. Biasa, teman-teman alumni sekolah menengahku yang ada di Jawa biasanya kalau ingin rehat pasti pergi ke Jogja. Di sini memang tempat yang asik untuk melepas penat. Lagipula opsi di Jogja itu lebih banyak, pertunjukan seni? Ada, pameran gadget? Cukup lah, festival? Hampir tiap bulan, tempat nongkrong? Bener ini pertanyaannya? Haha.

Waktu kami nongkrong kami membawa kartu Remi, kami bermain 7 Spade dari kartu itu. Kami bermain sambil mengobrol, tertawa, menghabiskan minuman, ya … bounding ulang ceritanya.

Buatku ini pertama kali aku bermain kartu Remi. Ya, yang benar-benar main. Aku enggak pernah ngerti dan mau tahu, sih, sebelum-sebelum ini. Ternyata mengasyikkan ya, padahal aku baru tahu satu cara bermain, 7 Spade. Aku jadi mengerti sekarang kenapa kartu ini bisa jadi teman pelengkap nongkrong atau begadang.

Jadi, simpelnya, 7 Spade itu menyusun kartu dari 1 sampai King, susun dari atas ke bawah. Pemain mendapat sama rata kartu yang ada, tapi jangan lupa sisihin Joker—di 7 Spade enggak memakai Joker. Disebut 7 Spade karena 7 itu angka tengah dari susunan kartu atas—King—sampai bawah—satu, dan yang mempunyai 7 berhak untuk jalan terlebih dahulu. Setelah itu putar giliran searah jarum jam. Ketika pemain mendapat giliran, pemain harus mengeluarkan kartu, enggak boleh enggak. Kartu yang dikeluarkan harus sejalan dengan kartu yang ada di meja, misal yang ada di meja 7 Hati, jadi yang mendapat giliran harus mengeluarkan 8 Hati atau 6 Hati kalau enggak ada dia bisa mengeluarkan kartu 7 jenis lain. Tetep enggak ada? karena kartu harus tetep keluar, yang mendapat giliran harus berkorban kartu, tapi kartu yang dikorbankan enggak boleh dilihat oleh pemain lain.

Tugas masing-masing pemain, menghabiskan kartu. Karena kartu yang bersisa dan dikorbankan itu dihitung di akhir permainan, yang paling banyak poinnya dia yang kalah. Hitungan sesuai dengan angka kartu, 1 adalah 1, 2 adalah 2. Untuk Jack itu 11, Queen 12, King 13. Nilai kartu As tergantung kita meletakkan As di mana, kalau As kita tumpuk di tumpukan bawah alias setelah angka 2 makan nilai As jadi 1 tapi kalau di tumpukan atas yaitu setelah King, nilai As jadi 15.

Coba, deh, kamu main. Aku rasa kamu ahli bermain kartu. Itu kan masalah ‘tangan’ juga. Haha.

Ada sesuatu berkesan yang aku tangkap dari permainan itu, ini kenapa aku menceritakan nongkrong dan aku bermain kartu. Hidup kita itu bergantung dengan jalannya hidup yang lain, seperti jalan kartu kita di meja bergantung pada kartu yang pemain lain keluarkan. Bergantung bukan berarti kita enggak punya kuasa untuk menentukan arah jalan kita, tapi bagaimana cara kita ingin berjalan. Apa kita ingin mengikuti jalan orang lain, atau kita ingin bermain-main dengan jalan mereka, atau kita yang mendikte jalan itu? Balik lagi sebenarnya, karena orang lain juga otomatis bergantung pada kita, kita juga bisa memegang jalan orang lain. Pada akhirnya kita bisa menentukan kita bagaimana.

Teman-temanku pun nyeletuk sambil ketawa di akhir permainan, hiduik tu pandai-pandai—hidup itu harus pinter-pinter. Ya, aku kalah.

Sayang,

Aku mengerti hubungan itu pasang surut. Tapi aku enggak mau kalau pasang surut hubungan terjadi karena kualitas orang yang di dalamnya menurun atau sedang turun. Sekali lagi aku enggak mau.

Aku enggak mau kamu down secara mental atau fisik. Apa di sana ada yang membuat kamu merasa buruk? Langsung ceritakan kepadaku, ya, kalau ada yang membuatmu down, siapapun dan apapun. Ingat terus kalau kamu itu rare, limited. Kalau orang menganggap kamu buruk, kamu tetap spesial di mataku.

Relationship ini berjalan karena kita kuat, kamu kuat.

Pacar,

Aku enggak mau cerita tentang perempuan yang datang itu. Aku enggak mau.

Apa kamu benar-benar ingin tahu ceritanya? Aku sudah bilang, kok, kalau aku sudah punya kamu.

Rindu aku apa rindu Jakarta? Hehe.

Yours,

Gian

Dear Gian,

Sore ini aku lelah sekali. Waktu menuliskan surat ini untukmu, kakiku agak bengkak karena berjalan jauh bolak-balik dari gedung fakultas ke Union Building, balik lagi ke fakultas. Jadi ingin membeli sepeda rasanya. Waktu aku lihat jarak yang aku tempuh seharian ini di aplikasi Health, hampir 9 miles! Itu lebih 14 kilometer. Aku merendam kakiku di dalam baskom dengan air panas dan epsom salt. Mungkin nanti malam aku juga mau bubble bath yang agak lama.

Aku enggak pernah tahu permainan yang kamu ceritakan di suratmu. Aku tahunya poker dan black jack. Menurutku, permainan kartu itu sama saja logikanya; bukan tentang kartu yang kamu dapatkan—walaupun itu berpengaruh juga—tapi tentang bagaimana kamu memainkannya. Kamu bisa aja dapat kartu jelek di poker dan tetap menang karena kamu kelihatan percaya diri dengan menaikkan taruhan. Seolah kartumu bagus dan lawanmu jadi takut padamu. Kamu harus coba main poker nanti, kalau kita ketemu. Aku susah dikalahkan. Percayalah….

Akhir-akhir ini aku sering bermimpi buruk. Seperti mimpi jatuh dari ketinggian, melihat hantu atau sesuatu yang menakutkan, atau mimpi dikejar sesuatu. Tidur malamku enggak lelap dan siangku melelahkan rasanya. Aku enggak tahu ini karena apa. Rasanya aku baik-baik saja. Kemarin malam, aku bermimpi melompat dari gedung tinggi. Tapi sebelum mencapai tanah, aku sudah terbangun.

Dear Gian,

Kamu pernah dengar teori yang bilang kalau kita enggak bisa memimpikan apa yang terjadi setelah kita mati di dalam mimpi karena otak kita enggak pernah tahu dan bisa membayangkan bagaimana rasanya? Aku pikir, bisa jadi, di mimpi itu aku sampai ke tanah dan mati, tapi karena otakku enggak bisa meneruskan mimpi itu sampai memperlihatkan bagaimana setelah kematian, aku pun terjaga. Tapi mengetahui teori ini malah membuat mimpi-mimpi itu makin menakutkan. Teman satu apartemenku bilang kalau bisa jadi aku terlalu banyak minum teh, kopi, atau cokelat di siang hari yang membuat aku sulit tertidur di malam hari. Mulai hari ini, aku akan mengurangi itu semua.

Oh, aku pernah dengar ada yang bilang kalau mimpi dikejar ular itu artinya mau dapat jodoh. Aku enggak mimpi dikejar ular. Yang mengerjarku itu lebih mirip monster dengan bulu tebal dan berdiri di atas dua kaki. Kalau monster itu namanya ‘thesis’, mungkin masuk akal, sih.

Aku juga suka membayangkan bahwa mimpi itu bisa jadi tentang apa yang benar terjadi di dunia lain yang kita hidupi—kalau memang parallel universe itu ada. Sederhananya, teori parallel universe itu terjadi karena keputusan-keputusan yang kita ambil. Misalnya malam ini aku memutuskan untuk mengirimu surat, keputusan itu aku ambil dari dua kemungkinan yang ada; mengirimu surat atau enggak. Ada satu lagi universe yang tercipta dari keputusanku yang ‘enggak’. Aku di dunia itu bisa jadi sedang berendam di bathtub sekarang ini. Kalau dilihat dari sejak lahir sampai sekarang, tentu sudah banyak parallel universe yang aku buat dari keputusan-keputusan itu.

Aku di setiap parallel universe itu tetap hidup setelah dunia itu terbentuk, tumbuh, dan menua dengan kecepatan yang sama. Lalu, suatu ketika, parallel universe itu saling bersinggungan. Meninggalkan jejak berupa mimpi atau deja vu. Karena yang tinggal di semua dunia itu tetap ‘aku’ yang ini—dan entah ada berapa—maka bisa jadi, di setiap dunia itu, cerita kita pun berbeda. Mungkin ada dunia yang di sana, karena keputusan-keputusanku, kita enggak pernah bertemu. Lalu, bagaimana dengan dunia yang di sana, kita bertemu lebih cepat, lalu di sini, di dunia yang ini, yang aku sedang menuliskan surat ini untukmu, aku pun berpikir tentang betapa masuk akalnya ketika berkali-kali aku katakan bahwa kita ini aneh. Aku seperti sudah pernah mengenalmu jauh sebelum ini. Rasanya kita sudah kenal lama, begitu dekat, dan enggak berjarak. Tapi kalau aku sedang kesal denganmu, ingin rasanya ada universe yang di sana aku sedang melemparmu dengan piring atau gelas. Huh!

Gian,

Aku ingin menuliskan lebih banyak tapi aku sendiri enggak terlalu paham dasar sains dari teori itu. Beberapa kali aku membaca penjelasan bahwa teori parallel universe itu didapat dari mekanika kuantum tapi otakku enggak bisa mengunyah sejauh itu—dan aku pun berpindah membaca gosip atau berita selebritas. Haha.

Gian,

Di luar masih terang padahal sudah jam delapan malam.

Sudah makan? Aku mau memasak spaghetti malam ini. Semoga di semua parallel universe, aku juga sedang masak spaghetti karena aku suka sekali—karena itu, mereka semua juga harusnya suka sekali.

Mungkin juga ada aku yang sedang makan spaghetti denganmu….

Hugs,

xxxx