Surat 25 & 26

by | Jul 27, 2018 | Salam Manis Pacar |

Pacar sayang,

Aku telat lagi membalas suratmu. Aku kebetulan dalam perjalanan waktu ingin membalas. Namun karena aku enggak bisa fokus aku tunda dulu sampai aku sudah di tujuan. Aku melakukan ‘maraton’ perjalanan kemaren, ke Jakarta dari Jogja malam hari. Menghabiskan hari di Jakarta lalu malamnya langsung ke stasiun untuk balik lagi ke Jogja. Makanya aku namakan maraton, karena aku enggak menjadwalkan jeda istirahat. Aku memilih istirahat di atas kereta, walaupun itu pilihan yang bodoh.

Walaupun sudah sampe tujuan, Jakarta, nyatanya aku juga belum bisa membalas suratmu. Aku masih harus mengurus satu dan lain hal di kota ini terkait kuliahku, yang paling banyak menyita waktu adalah mengurus data penelitian. Aku ditugaskan dosenku untuk mencari, mengumpulkan, lalu mengolah data untuk penelitian dosenku. Akhirnya, aku sempat membalas ketika aku sudah di Jogja.

Aku juga bermimpi buruk kemaren sehari sebelum pergi ke Jakarta, aku rasa dini hari sebelum azan subuh. Aku bermimpi melihat hantu perempuan di loteng kamarku. Aku, sih, yakin kalau itu adalah jin asli yang mengganggu tidurku, masuk ke dalam tidur, dan aku menganggap itu mimpi. Ya, aku memang percaya sama yang begituan. Takut? Iya, aku takut, tapi karena enggak bisa apa-apa—apalagi kan? udah keliatan, udah takut—ya udah lah. Lalu aku iringi bangun tidur waktu itu dengan dzikir, agar lebih tenang aja, sih.

Sayang,

Sudah beberapa tahun aku belajar bahasa di perkuliahan, beberapa tahun belajar di sekolah dasar dan menengah. Mempelajari beberapa bahasa juga, enggak hanya satu bahasa aja, walaupun ada satu bahasa yang difokuskan. Selain belajar, ada juga beberapa bahasa daerah yang bisa aku mengerti hanya dengan mendengar. Dari belajar dan mengetahui bahasa-bahasa itu, aku cuma nyeletuk sama diriku sendiri kalau bahasa itu pola. Pola yang indah dan masing-masing dari bahasa punya keunikan pola tersendiri. Kamu setuju sama pendapatku?

Sebenarnya aku bukan ingin cerita tentang bahasa atau kuliahku. Tapi, aku ingin cerita tentang matematika. Iya, matematika, pelajaran yang paling aku enggak suka. Iya-iya, kamu benar kalau aku enggak suka karena aku enggak bisa. Lagian, aku enggak pernah mendapat nilai bagus dari pelajaran itu, sejak sekolah menengah pertama sampai akhir, aku enggak pernah bisa selamat dari remedial. Aku baru sadar, ternyata matematika itu POLA, artinya matematika itu juga bahasa.

Aaaak! Aku tahu kamu pasti muak dengan self revelation-ku minggu ini, haha. Matematika itu juga bahasa, bedanya matematika menggunakan angka bukan dengan morfem. Bahkan, ketika sudah masuk bangku kuliah, teman-temanku yang mengambil mata kuliah matematika bilang kalau matematika di kuliah udah jarang ketemu angka tapi huruf-huruf dan simbol. Aku juga enggak ngerti huruf apa saja, yang saya tahu x-y-z.

Matematika itu termasuk jenis bahasa hanya simbolnya saja yang berbeda, banyak bahasa juga mempunyai simbol-simbol yang berbeda. Ada yang tulisannya berbeda, ada yang juga bahasa yang menggunakan simbol bunyi. Matematika juga mempunyai sifat yang sama dengan bahasa, yaitu arbitrer. Matematika itu kesepakatan, sama juga seperti bahasa. 1+1 sama dengan 2 bukan karena pasti seperti itu, tapi kita semua sepakat seperti itu. Bahasa juga kan? Hal ini pernah aku ceritakan kepadamu di surat-surat sebelumnya ketika aku membahas Triangle of Meaning di mata kuliah semantik.

Sayang,

Akhir-akhir ini kita sering berdiskusi masalah yang kita hadapi. Entah itu kerjaan kita masing-masing, personal life kita, atau masalah yang ada di dalam relationship kita. Tapi, beberapa masalah dari semua yang kita diskusiin itu ujungnya mentah. Kita enggak pernah sepakat, setelah enggak sepakat, kita biarkan masalah itu sampai akhirnya ada lagi yang memantik kembali masalah itu, lalu kita bahas lagi. Selalu seperti itu, pola kita terhadap masalah yang enggak selesai.

Aku sendiri bertanya, walaupun kita banyak kesamaan, kenapa di beberapa sisi juga kita sulit untuk sepakat. Kadang kamu mengakhiri pembicaraan dari masalah kita itu dengan ngambek atau aku yang bersikeras agar pendapatku yang kita jadikan keputusan. Kita kenapa? Apa karena bahasa kita berbeda? Kamu bilang A yang aku tangkap A minus? Atau karena jarak sehingga pesan yang sampai kepadaku tidak utuh seutuh yang kamu sampaikan?

Sayang,

Aku ingin kita selamat. Kamu, aku, selamat dalam relationship ini. Aku enggak pengen kita keluar dengan membawa puing-puing rumah yang kita bangun atau keluar dengan luka yang menganga.

Kamu lagi ngapain sekarang?

Maafkan aku

Yours,

Gian

Dear Gian,

Sepertinya kita memang bicara dengan bahasa yang berbeda walaupun kata-kata dan kalimat yang diucapkan masih sama. Banyak yang lelaki yang enggak memahami apa maksud perempuannya tapi aku enggak melakukan itu padamu karena sepertinya dengan sadar aku melakukan itu. Kadang aku tahu apa yang ingin aku sampaikan. Aku bisa melakukannya dengan mengatakan atau menuliskan satu kalimat sederhana saja dan selesai masalah kita. Tapi aku kadang lebih memilih untuk membawanya ke mana-mana dengan kata dan kalimat yang luar biasa rumitnya, dan tindakan yang membuat pecah kepalamu.

Aku sengaja karena … entahlah.

Mungkin aku ingin kamu tahu tanpa aku jelaskan—sesuatu yang enggak mungkin karena kamu bukan pembaca pikiran. Mungkin juga karena kadang aku lelah menjelaskan. Kejadian yang sama pernah terjadi di masa lalu dan aku ingin kamu sudah tahu cara menyelesaikannya tanpa aku jelaskan kembali.

Misalnya saja waktu kamu ceritakan kalau ada cewek yang menanyakan kesediaanmu untuk menikahinya beberapa waktu kemarin. Itu sudah pernah terjadi sebelumnya walau polanya enggak sama. Sebelumnya, ada cewek yang mendekatimu. Dua hal ini selesai dengan aku minta kamu terus terang saja. Berikutnya, ketika ada kejadian serupa, aku mau melakukan hal yang sama. Di suratmu, kamu bicara ‘pola’ bahasa, kan. Ini juga pola; masalah yang sama diselesaikan dengan cara yang sama.

Gian,

Hari-hariku juga sama saja polanya beberapa pekan belakangan. Anehnya, aku suka. Rutinitas memang membosankan kata kebanyakan orang. Tapi buatku, rutinitas membuat banyak hal bisa diukur dan diselesaikan tepat waktu dengan pola tertentu yang aku bisa rancang karena ekspektasi pola yang sama di masa depan. Sampai-sampai, aku sekarang punya pola untuk menuang dan menyalakan coffee maker di jam setengah enam pagi, lalu meninggalkannya untuk mandi sampai jam setengah enam kurang lima belas menit. Ketika aku ke dapur, kopi sudah siap. Aku menambahkan creamer dan gula, lalu membawanya ke ruang tamu, lalu aku tinggalkan lagi dia mendingin selama berpakaian dan bersiap-siap. Jam enam tepat, aku sudah di ruang tamu, membaca beberapa artikel dari internet atau buku sambil duduk menghabiskan kopi. Jam setengah tujuh pagi, aku sudah mulai jalan ke kampus dan sampai tepat jam tujuh lewat lima belas menit. Pola seperti ini membuatku nyaman, ternyata.

Surat-surat kita juga sudah jadi rutinitas buatku dan aku suka ini. Aku jadi punya tempat untuk bicara denganmu, menceritakan sesuatu dengan kalimat yang dirangkai jadi alinea. Sesuatu yang aku enggak bisa lakukan di chat atau telepon.

Gian,

Aku pernah melihat hantu beberapa tahun yang lalu ketika aku naik membonceng motor kakakku di Jakarta. Kami pergi ke supermarket malam itu dan pulang hampir jam sepuluh. Jalanan yang kami lewati sudah sepi dan aku—entah mengapa—malah melihat ke atas, ke arah batang-batang pohon besar yang tumbuh di tepi jalan. Lalu aku melihat ada bayangan putih di sana. Makin dekat, makin jelas. Dia punya rambut panjang, wajah yang enggak terlalu kelihatan, lalu dia berdiri di satu batang pohon tanpa berpegangan. Aneh, kan? Aku enggak takut, Gian. Aku cuma kesal karena harus melihat makhluk seperti itu di antara rimbun daun-daun dan langit yang malam itu indah karena ada bulan purnama. Dia merusak susasana saja.

Kamu juga sering merusak suasana. Merusak pola.

Misalnya dengan mendebatku untuk urusan yang kita sudah sepakati seolah kesepakatan itu karena hanya dibuat di antara dua orang dan enggak tertulis, lalu kamu bisa seenaknya perdebatkan setiap kali kamu menyalahinya.

Gian sayang,

Kamu tahu lemper enggak? Itu … makanan dari beras ketan yang diisi ayam dan dibungkus daun pisang.

Beberapa hari ini aku ingin sekali makan lemper. Aku bosan makan shawarma yang dipanaskan di microwave atau sandwich yang rasanya begitu-begitu aja. Mencari makanan halal memang agak susah di sini. Kalau aku berbelanja, aku menggunakan logo kosher untuk berjaga-jaga. Tapi aku sudah jenuh dengan rasa makanan timur tengah yang aku beli di toko daging halal yang kebanyakan isinya adalah impor dari sana. Aku ingin sambel kacang, nasi uduk, ah … jajanan pasar yang kalau kamu temui di pagi hari besok, kamu bisa jadi take them for granted. Sementara buatku, itu adalah hal langka yang kalau aku lihat, aku akan ucapkan syukur berkali-kali.

Gian,

Aku tahu kamu enggak take me for granted. Tapi tanpa sadar, sekali-dua kali, kamu melakukannya. Kamu menganggap aku akan selalu ada. Kamu menganggap usaha minimal bisa menjagaku tetap ada. Mungkin aku pun melakukan hal yang sama padamu.

Gian….

Mungkin enggak, sih, hubungan kita sudah masuk ke titik jenuh. Ketika yang kita bicarakan hanya ini dan ini saja? Enggak ada hal lain yang dijadikan rencana.

Apa kita bisa membuat rencana agar kita punya sesuatu yang bisa dikejar?

Gian,

Di luar sudah terang. Sekarang jam tujuh pagi di kotaku dan jam tujuh malam di kotamu. Sejauh itu kita terpisah. Seharusnya, kita enggak begini lama-lama.

Hugs,

xxxxx