Surat 27 & 28

by | Aug 2, 2018 | Salam Manis Pacar | 0 comments

Pacar sayang,

Aku belajar banyak istilah denganmu, kamu mengajarkan banyak. Take it for granted salah satunya. Kamu bukan cuma ngajarin, kadang beberapa istilah yang kamu ajarkan langsung kita alami dalam relationship kita. Kadang menyenangkan, di beberapa waktu juga melelahkan saat kita mengalami langsung istilah-istilah itu.

Aku tahu apa itu take it for granted, tapi aku rasa aku belum paham. Hanya tahu.

Waktu itu kita berantem, kamu ingat? Hari-hari dalam seminggu itu kita isi hanya dengan berantem, capek banget minggu itu. Sumpah, itu membuat kita letih. Di pagi hari kita baik-baik saja, tiba di sore atau menjelang malam, konflik mengalir begitu saja—saking mudahnya—ke dalam obrolan atau aktivitas kita. Entah kenapa di minggu itu aku selalu berbuat kesalahan di mata kamu. Polanya selalu sama, tapi ada hari yang terbalik, malamnya oke, tapi paginya? Jangan tanya.

Di minggu itu ternyata tentang satu istilah, take it for granted. Kamu merasa aku menggunakan usaha semudah dan segampang mungkin untuk mengurus kamu. Ternyata bukan aktivitasnya yang kamu salahkan, tapi lebih dalam lagi, tapi motif dari itu. Akhirnya aku tahu, kamu menuntut untuk diprioritaskan—dan dari awal memang—enggak kalah penting, rasa itu harus terasa dan nampak. Kadang memang beberapa tindakanku enggak mencerminkan kalau kamu itu spesial, tapi, itu di luar pengetahuanku kalau ternyata yang sedang aku lakukan untuk kamu itu di bawah standar seharusnya.

Pasti berbeda rasanya, dengan prioritas dan yang menganggap biasa. Waktu itu apa yang aku usahakan tidak membuat kamu merasa diprioritaskan walaupun aku bilang kamu adalah prioritas. Akhirnya kita bisa nuntasin masalah itu, ya, kalau enggak kita enggak sampai sini, kan?

Pacar,

Kamu benar. Kita sedang stuck, seperti air yang tergenang. Jenuh, dan sebentar lagi akan kotor. Kita tahu arahnya akan ke mana kalau kita membiarkan kondisi seperti ini, kerusakan.

Kamu inget enggak ketika kita mengawali ini? Kita ini teman yang suportif dan sama-sama mendukung apa yang kita mau dan ingin. Kita menuruti passion kita dan senang melihat masing-masing dari kita bahagia di dalamnya.

Seperti itu, awalnya. Sampai ke sini, kita melakukan banyak hal bersama. Aku tidak mengerti kenapa kita bisa sampai sini, dengan waktu secepat ini.

Apakah kita sekarang sudah tidak ada batas sehingga kita dengan mudah mencampuri urusan satu sama lain? Secara langsung atau tidak? Sehingga kita tidak lagi bebas, sehingga kita tidak benar-benar ada di dalam renjana kita? Sehingga kita tidak lagi senang melihat masing-masing kita di dalam renjana itu? Kalau, iya, mungkin itu titik awal jenuh kita, kita tidak lagi senang dengan masing-masing kita karena kita mulai tidak bahagia.

Apakah benar, sayang?

Pacar,

Semenjak kita memulai ini semua, banyak yang berubah. Aku terutama, aku bisa merasakan sendiri perubahan itu. Mulai dari hal kecil seperti makan jangan sambil ngecap—mulut terbuka dan berbunyi—sampai cara berpikir.

Aku rasa perubahan itu memang seharusnya. Maksudku, perubahan yang seperti ini itu enggak bisa dielakkan, ada kamu atau enggak. Tapi, dengan adanya kamu, dengan kita memulai ini semua, perubahan itu menjadi lebih cepat. Semua terasa cepat memang, semenjak kita bersama. Seperti tombol switch yang menghidup dan mematikan aliran listrik ke lampu.

Aku mungkin enggak bisa ngejelasin perubahan-perubahan itu dalam satu surat, dalam satu cerita. Aku juga agak segan untuk menceritakan ini, lagi pula semakin banyak aku cerita tentang perubahan ini aku akan semakin takut kalau perubahan ini—perubahan yang baik—itu hanya bertahan sebentar saja. Makanya aku lebih memilih untuk menjaga ini, dan memilah apakah ini memang perubahan yang benar-benar perubahan atau hanya perubahan sambal yang panasnya cuma sebentar.

Aku cuma ingin mengatakan kalau aku berubah. Aku sekarang mungkin bukan orang yang kamu temui waktu pertama kali kita bertemu. Herannya, kamu tetap bertahan di sini, apa karena kamu juga berubah? Bukan orang yang sama ketika pertama kali kita bertemu? Sehingga perubahan kamu dan aku membuat kita melebur dan saling mengisi satu sama lain? Fit in?

Sayang,

Selama proses perubahan itu, aku tenang. Sampai sekarang. Biasanya ketika orang berproses, banyak yang membuat dia jadi ketakutan dan merasa tidak aman. Aku sebaliknya, aku tenang. Bukan karena aku berasa ada di zona nyaman, tapi mempunyai teman perjalanan itu membuat jalan punya nilai yang enggak berbanding.

Sayang,

Kemaren Blood Moon terlihat jelas di Jogja. Apa di tempatmu juga?

Kabari aku bagaimana keadaan kamu dan progress kuliah kamu di sana, ya?

Kisses,

Gian

Gian,

Sudah hampir pagi di sini ketika aku ingin membalas suratmu. Aku enggak bisa tidur malam ini, entah kenapa. Mungkin karena terlalu lelah, sampai tulang rasanya sakit semua. Apa kamu pernah begitu? Terlalu lelah sampai tidur pun enggak bisa rasanya?

Aku membaca suratmu dan menyetujui semua yang ada di sana. Menjawab pertanyaanmu, urusan sekolahku baik-baik saja. Tapi karena malam ini aku lelah sekali tapi aku masih juga ingin membalas suratmu, aku tuliskan saja puisi Rosemarie Urquico di sini. Aku membacanya tadi siang dan setelah aku selesai dengan suratmu, bisa jadi semua kerumitan yang ada di antara kita itu karena—ah, aku tahu ini sebenarnya hanya menyederhanakan masalah—aku banyak membaca. Lebih membuat rumit lagi, karena aku juga menulis.

You should date a girl who reads.

Date a girl who reads. Date a girl who spends her money on books instead of clothes, who has problems with closet space because she has too many books. Date a girl who has a list of books she wants to read, who has had a library card since she was twelve.

Find a girl who reads. You’ll know that she does because she will always have an unread book in her bag. She’s the one lovingly looking over the shelves in the bookstore, the one who quietly cries out when she has found the book she wants. You see that weird chick sniffing the pages of an old book in a secondhand book shop? That’s the reader. They can never resist smelling the pages, especially when they are yellow and worn.

She’s the girl reading while waiting in that coffee shop down the street. If you take a peek at her mug, the non-dairy creamer is floating on top because she’s kind of engrossed already. Lost in a world of the author’s making. Sit down. She might give you a glare, as most girls who read do not like to be interrupted. Ask her if she likes the book.

Buy her another cup of coffee.

Let her know what you really think of Murakami. See if she got through the first chapter of Fellowship. Understand that if she says she understood James Joyce’s Ulysses she’s just saying that to sound intelligent. Ask her if she loves Alice or she would like to be Alice.

It’s easy to date a girl who reads. Give her books for her birthday, for Christmas, for anniversaries. Give her the gift of words, in poetry and in song. Give her Neruda, Pound, Sexton, Cummings. Let her know that you understand that words are love. Understand that she knows the difference between books and reality but by god, she’s going to try to make her life a little like her favorite book. It will never be your fault if she does.

She has to give it a shot somehow.

Lie to her. If she understands syntax, she will understand your need to lie. Behind words are other things: motivation, value, nuance, dialogue. It will not be the end of the world.

Fail her. Because a girl who reads knows that failure always leads up to the climax. Because girls who read understand that all things must come to end, but that you can always write a sequel. That you can begin again and again and still be the hero. That life is meant to have a villain or two.

Why be frightened of everything that you are not? Girls who read understand that people, like characters, develop. Except in the Twilight series.

If you find a girl who reads, keep her close. When you find her up at 2 AM clutching a book to her chest and weeping, make her a cup of tea and hold her. You may lose her for a couple of hours but she will always come back to you. She’ll talk as if the characters in the book are real, because for a while, they always are.

You will propose on a hot air balloon. Or during a rock concert. Or very casually next time she’s sick. Over Skype.

You will smile so hard you will wonder why your heart hasn’t burst and bled out all over your chest yet. You will write the story of your lives, have kids with strange names and even stranger tastes. She will introduce your children to the Cat in the Hat and Aslan, maybe in the same day. You will walk the winters of your old age together and she will recite Keats under her breath while you shake the snow off your boots.

Date a girl who reads because you deserve it. You deserve a girl who can give you the most colorful life imaginable. If you can only give her monotony, and stale hours and half-baked proposals, then you’re better off alone. If you want the world and the worlds beyond it, date a girl who reads.

Or better yet, date a girl who writes.

 Rosemarie Urquico

Gian,

Kalau kamu merasa semua ini rumit, kamu ingat saja, kalau aku sayang padamu. Semoga itu cukup untuk membuatmu bertahan dengan kerumitannya.

Love,

xxxxx