Surat 29 & 30

by | Aug 9, 2018 | Salam Manis Pacar |

Pacar sayang,

Puisi yang bagus. Beneran, aku enggak tahu harus berkomentar apa sama puisi yang kamu kirim kemaren. Setelah membaca surat dan puisi itu, satu hal yang terpikir olehku, kemampuan berbahasa Rosemarie brilian. Harus sebaik itu, aku mau kemampuan Bahasa Inggrisku sebaik itu.

Kita pernah membahas soal bahasa, kan, di surat kita. Ketika aku membaca puisi dan prosa bagus, di situ aku berpikir kalau bahasa bisa menjadi simbol yang indah. Pola-pola yang dibuat di dalamnya bisa membawa orang larut dalam arus. Bahasa memang kuat.

Terkadang juga bahasa adalah alat penyederhana. Situasi indah sampai sengkarut zaman bisa disimbolkan dengan bahasa melalui puisi atau prosa misalnya. Ya, di sini aku bukan ingin mengajarimu tentang ini, rasaku kamu lebih paham dariku.

Aku juga punya puisi untuk kamu. Ini adalah puisi yang menceritakan kondisi perempuan-perempuan berjibaku dalam perang dunia pertama.

There’s the girl who clips your ticket for the train,

  And the girl who speeds the lift from floor to floor,

There’s the girl who does a milk-round in the rain,

  And the girl who calls for orders at your door.

      Strong, sensible, and fit,

      They’re out to show their grit,

    And tackle jobs with energy and knack.

      No longer caged and penned up,

      They’re going to keep their end up

    Till the khaki soldier boys come marching back.

There’s the motor girl who drives a heavy van,

  There’s the butcher girl who brings your joint of meat,

There’s the girl who cries ‘All fares, please!’ like a man,

  And the girl who whistles taxis up the street.

      Beneath each uniform

      Beats a heart that’s soft and warm,

    Though of canny mother-wit they show no lack;

      But a solemn statement this is,

      They’ve no time for love and kisses

    Till the khaki soldier-boys come marching back.

 Jessie Pope

Sayang,

Aku paham kalau bahasa itu kuat, sekuat pohon tua yang akarnya menopang hidup-hidup pohon lain yang lebih muda. Aku juga paham kalau bahasa itu indah, bahasa menyederhanakan hal rumit, kurang indah apalagi?

Tapi, sekagum-kagumnya aku dengan bahasa. Aku lebih memilih kamu.

Kamu jauh lebih kuat dari bahasa. Bahasa pun, tidak lebih indah dari kamu.

Pacar,

Suratku terlalu pendek, ya? Maaf, terkadang perasaanku ke kamu sulit untuk disederhanakan.

Bagaimana kabar thesis kamu? Apa masih ada syarat yang belum bisa kamu penuhi agar thesis kamu selesai? Kabari aku.

Kiss,

Gian

Gian sayang,

Kenapa kita jadi ngomongin puisi, sih, beberapa waktu belakangan ini?

Kabarku enggak ada yang baru. Masih begitu-begitu aja. Sebentar lagi kelas dimulai dan aku antara enggak sabar dan enggak mau liburan ini berakhir. Pekerjaan musim panasku juga bakalan selesai. Ah, tapi aku enggak sabar menunggu Oktober. Bulan yang sangat aku suka karena daun-daun akan berubah jadi oranye dan merah, matahari akan jatuh terlalu miring di atas kepalamu dan cahayanya jadi terlalu kuning, suhu mulai menurun, tapi enggak terlalu dingin untuk bisa memakai trench coat tipis, syal, dan ankle boots. Iya, Oktober itu jadi bulan fashion buatku karena ketika musim dingin benar datang, aku akan mirip kepompong dengan jaket tebal.

Kadang aku membayangkan betapa akan menyenangkannya kalau kamu di sini juga. Kita bisa berjalan di antara daun-daun merah yang mulai jatuh, di sore yang kuning.

Ah, tapi sudahlah. Panjang angan-angan itu enggak baik—ingat enggak kamu pernah bilang begitu? Hahahaaa.

Aku menulis puisi sejak sekolah menengah. Aku sudah pernah cerita padamu, kan? Waktu itu, sih, aku menulis hanya untuk menuliskan perasaan atau apa yang terjadi padaku dan membuat pikiranku terganggu tapi aku enggak mau orang yang membaca langsung tahu apa yang sebenarnya terjadi. Iya, puisi itu buatku semacam pesan cryptic pada diriku sendiri. Kalau bahasa anak jaman sekarang, mungkin itu ‘kode’.

Aku pernah dengar kalau menulis puisi itu adalah kemampuan yang paling cepat bisa terdeteksi dari kecerdasan berbahasa seseorang dan juga yang paling cepat hilang. Puisi-puisi yang bagus itu ditulis oleh anak muda yang enggak takut memakai kata dan mungkin juga babak-belur karena cinta—dan mereka menulis puisi-puisi itu dengan darah dari hati yang patah. Chairil Anwar atau Jose Rizal (penyair Filipina) menggunakan keberanian masa muda mereka untuk menuliskan hal-hal yang kalau di tangan penulis tua, jadinya bukan lagi tentang sesuatu yang menggebu-gebu, tapi lebih jadi sesuatu yang kalem, dalam, dan penuh pertimbangan. Usia membuatmu matang, begitu juga dengan pikiran dan tulisanmu.

Aku melihatmu menulis puisi di Instagram. Kamu bilang, itu hanya untuk latihan saja. Tapi kamu akhir-akhir ini—beberapa hari belakangan—enggak menuliskannya lagi. Kenapa? Sibukkah? Atau apa?

Menulis puisi itu bagus untuk melatih kemampuan metaforamu karena ini yang membedakan pujangga yang baik dengan yang biasa saja. Pemilihan diksi bisa dengan bantuan kamus, menurutku. Tapi kalau sudah urusan kemampuan bermetafora, perlu pikiran yang tajam dan keberanian membuat analogi baru—yang segar, yang baru.

Ada sebuah puisi dari Robert Frost yang sangat aku suka. Judulnya The Road Not Taken.

Two roads diverged in a yellow wood,

And sorry I could not travel both

And be one traveler, long I stood

And looked down one as far as I could

To where it bent in the undergrowth;

Then took the other, as just as fair,

And having perhaps the better claim,

Because it was grassy and wanted wear;

Though as for that the passing there

Had worn them really about the same,

And both that morning equally lay

In leaves no step had trodden black.

Oh, I kept the first for another day!

Yet knowing how way leads on to way,

I doubted if I should ever come back.

I shall be telling this with a sigh

Somewhere ages and ages hence:

Two roads diverged in a wood, and I—

I took the one less traveled by,

And that has made all the difference.

Sengaja aku tuliskan di sini karena beberapa malam lalu, kamu bercerita tentang kuliah yang akan kamu ambil. Kamu sedang merencanakan KRS-mu ketika itu. Kamu memintaku untuk memberi pendapat tentang beberapa kuliah yang menarik perhatianmu.

Gian,

Aku ingat pembicaraan malam itu. Tentang keinginanmu untuk mengambil jalan yang enggak banyak diambil orang. Aku memahamimu; kamu enggak suka cari gampangnya aja. Kamu suka dan sabar pada proses. Kamu keras hati. Kalau ada yang kamu inginkan, kamu akan mengejarnya sampai dapat atau kamu akan melepasnya karena kamu menganggap itu enggak ada gunanya lagi. Kamu tahu kapan harus menyerah dan itu bukan untuk mengakui kekalahan.

Kamu bicara tentang betapa ingin kamu mempelajari banyak hal dengan enggak terburu-buru karena waktu juga memberikan ruang untuk pemahaman. Ini bukan lagi tentang siapa lebih dulu melakukan apa, tapi tentang penemuan diri; tentang kamu yang ingin melakukan apa yang ingin kamu lakukan dengan cara sebaik yang kamu bisa. Aku setuju dengan hal itu. Aku setuju dengan semua itu.

Tapi kadang aku kuatir. Aku takut kamu tersesat di jalanmu sendiri. Cita-citamu jelas dan kamu tahu bagaimana cara mendapatkannya, aku enggak ragukan itu. Tapi jalan dengan peta di tangan pun kadang enggak membuat kamu sampai di tempat tujuan dengan tepat waktu, mulus, dan tanpa rintangan seperti yang kamu inginkan. Kamu harus memberikan ruang untuk hal-hal enggak terduga, errors, dan juga kegagalan. Enggak semua akan diberikan padamu begitu saja. Kamu akan diuji. Kamu akan dipertanyakan. Kamu juga—mungkin—akan diragukan.

Gian,

Tapi seperti puisi Frost di atas; And that has made all the difference.

Itu yang akan membuatmu berbeda. Sabar pada proses akan membuatmu berbeda.

Hugs,

xxxxx