Surat 3 & 4

by | Apr 26, 2018 | Salam Manis Pacar | 0 comments

Catatan: Dua surat ini adalah surel yang dikirim ketika Pacar sedang ada di perjalanan. Masih juga bicara tentang rindu. Beberapa surat ada yang dikirimkan lewat pos dan kadang sambil mengirimkan barang-barang lain.

From: anne.of.green.gables@gmail.com

To: giant.brave@xxxxx.com

Gian sayang,

Kamu bicara tentang rindu seolah benar kamu tahu rasanya. Seperti orang yang menahun menahan dan rasa itu pun berubah jadi rindu-dendam.

Aku setuju kalau rindu itu lebih dibanding kangen yang hanya selintas-lalu rasa ingin untuk bertemu atau bersama. Aku kangen terus denganmu. Tapi tidak dengan merindukanmu. Dilan benar, rindu itu berat—tapi aku kuat. Bukan tidak ingin aku merindukanmu, bukan. Hanya saja, hari-hari yang lewat akan melelahkan bila hanya diisi dengan merindukanmu saja. Waktu akan lama berlalu padahal setiap kali, aku ingin hari berlalu cepat sampai aku bertemu denganmu lagi.

Kalau surat ini terlambat datangnya, itu karena aku tidak juga tahu apa yang harus aku tuliskan padamu.

Aku ada di perjalanan ke Narita awal pekan ini. Menunggu pesawat menjelang tengah malam di Cengkareng dan aku bosan sekali. Aku hanya duduk di ruang tunggu, gagal untuk fokus membaca, dan berakhir dengan mengambil foto-foto sepatuku. Tidak ada yang istimewa juga dengan foto sepatu itu. Sepatu lama, tidak terlalu bagus pula. Tapi memang tidak hal lain yang bisa aku lakukan sementara aku punya waktu lebih dua jam menunggu—aku datang ke bandara terlalu cepat. Ingin menuliskan surat untukmu, aku malas sekali. Ingin mengeluarkan laptop dan browsing ini-itu, ah, tidak kalah malasnya. Aku mengirimkan beberapa pesan untukmu malam itu, kalau kamu ingat. Tapi kamu lama sekali membalasnya. Aku baru membaca balasanmu pagi harinya ketika aku mendarat di Narita. Penerbangan dari jam sepuluh malam selama tujuh jam dan ketika mendarat, yang pertama kali aku lihat dari jendela adalah matahari pagi. Seketika itu, waktu rasanya menjadi tidak absolut lagi—waktu relatif.

Waktu jadi membingungkan ketika aku menghidupkan ponsel di terminal dan melihat kalau waktu sudah jam tujuh pagi di Tokyo. Di tempatmu, baru masuk jam lima pagi.

Aku sangat suka ada di perjalanan. Ah, kamu sudah tahu itu. Aku memintamu untuk menemaniku seandainya ada kesempatan aku bisa berkereta dari Jakarta ke Jogja dan sebaliknya. Kamu tahu, di perjalanan, pikiran-pikiran yang tidak pernah terlintas sebelumnya keluar begitu saja.

Seperti di perjalanan beberapa hari yang lalu itu, aku memikirkanmu. Aku menghitung berapa jarak yang terus memanjang antara kamu dan aku sambil melihat monitor rute perjalanan di pesawat yang aku naiki. Kamu tahu, setiap kali gambar pesawat kecil di sana bertambah jauh dari Jogja, semakin bertambah inginku untuk bertemu denganmu.

Gian sayang,

Kita ini sepasang yang keras kepala. Masih juga bertahan untuk jatuh cinta walaupun kesempatan untuk bersama jelas-jelas tidak banyak. Dalam setahun, berapa hari kita bisa bertemu? Mungkin hanya beberapa. Setelah itu, hari-hari dihabiskan dengan menahan rindu dan menghitung waktu berlalu.

Padahal kalau kamu mau, kamu bisa saja jatuh cinta pada perempuan manapun yang ada di dekatmu. Ah, ini menyebalkan untuk diingat tapi sungguh, mendengar ceritamu tentang betapa cantiknya perempuan-perempuan yang ada di kampusmu itu kadang membuat aku cemburu. Sementara aku tidak juga bisa ada di dekatmu.

Gian, katakan: Bagaimana caranya menjaga sesuatu yang kamu pegang pun rasanya tidak mungkin?

Mau sampai berapa lama lagi kita seperti ini. Jatuh cinta dan menahan rindu sepanjang waktu?

Tapi, ah … tahu apa aku dengan jatuh cinta dan segala urusan di dalamnya. Waktu kita bertemu pertama kali, yang aku pikirkan hanya tentang betapa banyak resiko kalau aku harus suka padamu. Rindu salah satunya dan jarak yang jadi penyebabnya.

Gian sayang,

Di suratmu yang lalu, kamu bertanya kenapa harus ungu. Hahaha. Itu pertanyaan yang tidak penting sebenarnya. Aku tidak punya warna kesukaan. Bajuku kebanyakan warnanya netral saja agar bisa dengan mudah dipadu-padankan. Tapi kalau ada pilihan ketika membeli sesuatu, aku akan memilih yang ungu.

Kamu tahu tidak, dulunya di Eropa, warna ungu itu hanya bisa dipakai oleh anggota keluarga kerajaan karena untuk menghasilkan warna ungu, diperlukan mineral yang harganya sangat mahal. Di China, ada larangan rakyat jelata menggunakan warna ungu karena warna itu dianggap sebagai simbol royalty–atau keningratan kalau terpaksa harus aku terjemahkan.

Tapi aku tidak suka warna ungu karena hal-hal seperti itu. Aku suka karena itu warna yang adil. Ungu violet punya perbandingan campuran warna merah dan biru yang seimbang. Ah, kapan kita bertemu, aku akan menceritakan tentang warna dan teorinya padamu. Apa itu value, hue, dan chroma. Tapi nanti, ya. Bisa panjang ceritanya kalau aku tuliskan di sini.

Gian sayang,

Hujan turun di malam aku berangkat ke Tokyo. Rinai saja.

Ketika malam itu kamu mengirimkan foto Jogja yang sedang lebat hujan, aku baru teringat tentang betapa ingin aku berdiam lama di suatu tempat. Tidak berpindah. Perjalanan itu melelahkan. Apalagi kalau sampai harus menjadikan perjalanan itu sebagai rumah.

Tentang The Triangle of Meaning yang kamu jelaskan di suratmu sebelum ini, aku jadi membaca banyak tentang hal itu beberapa hari belakangan. Ada satu paper yang menarik perhatianku juga.

Aku sertakan kutipannya di sini:

“Englishmen Charles Kay Ogden and Ivor Armstrong Richards wrote the book “The Meaning of Meaning: A Study of the Influence of Language upon Thought and of the Science of Symbolism” (1923), and the semantic triangle was the means they used to explain that understanding comes from within the people rather than from the words they just interpret or, as the saying goes, words don’t mean; people mean. In their book they presented three theories: The Meaning Theory (There is not a single “correct” meaning associated with each and every word because each word means something different to each person); the Definition Theory (In order to avoid this ambiguity we need to define terms or concepts) and the Symbol Theory (words evoke images and personal meaning is based on experience). Communication breaks when people attempt to communicate through the use of arbitrary words. Words have no exact or clear meaning, and meaning depends on context.”

Tautan: http://inmyownterms.com/mysmartterms/mysmarterms-5-the-semantic-triangle-words-dont-mean-people-mean/

Aku tertarik pada pernyataan yang ini: Communication breaks when people attempt to communicate through the use of arbitrary words.

Komunikasi itu pecah ketika orang-orang mencoba untuk berkomunikasi dengan kata yang enggak ada batasan artinya (arbitrary words). Harus ada sesuatu yang disepakati bersama—entah itu dengan konsensus atau yang lainnya. Bahasa punya aturan. Begitu pun ketika kita masih juga mencoba mencari tahu apa itu rindu. Harus kita sepakati artinya—atau malah, itu enggak perlu? Apa artinya harus sama untuk masing-masing kita?

Pekan ini aku sedang membaca ulang Anne of the Green Gables. Novel anak yang tetap saja masih membuat aku terpana sampai sekarang.

Gian sayang,

Kamu benar rindu padaku?

Salam manis,

Anne

From: giant.brave@xxxxx.com

To: anne.of.green.gables@gmail.com

Dear Pacar,

Aku langsung jawab, ya, pertanyaanmu di akhir. Iya … Pacar, aku rindu.

Rindu denganmu. Entah, aku bingung, apakah aku rindu dengan fisikmu dan hal-hal yang ada di sekelilingmu atau rindu jiwamu. Aku tahu kalau aku berlebihan sewaktu bilang jiwa—apalah aku?—bukan siapa-siapa tapi ngomong jiwa, bukan siapa-siapa kamu tapi merindu kamu. Tapi, pertanyaan itu benar-benar aku tanyakan pada diriku sendiri. Kalau aku rindu fisikmu, kenapa itu menjalar ke rindu-rindu yang lain? Suasana kita bertemu, caramu membuka pintu, sedotan kopi bekas kamu minum, bahkan sampai angin yang berhembus saat kita bertemu itu, aku rindu. Apakah aku rindu fisikmu atau jiwamu?

Pacar, masalahnya aku yakin, bukan fisik yang bisa membuat rindu seperti itu.

Aku menerima suratmu ketika aku sampai Stasiun Tugu dan turun dari kereta malam; Taksaka. Berangkatnya malam, sampainya pagi—subuh, lebih tepatnya. Setelah tahu ada notifikasi surel dari kamu, ingin sekali aku balas tapi sudah masuk waktu subuh, jadi aku langsung bergegas ke Jalan Malioboro, di sana ada masjid. Berjalan dari stasiun ke masjid di pagi buta, rasanya … ah, Pacar, kamu harus merasakannya juga. Jalan Malioboro sangat tenang, lampu bersinar temaram, udara lezat pagi, dan suara gesekan sapu lidi petugas kuning menemani jalanku. Ah … padahal cuma berjalan dari stasiun ke masjid, tapi kenapa bisa seindah itu, ya?

Setelah salat subuh tadi, aku langsung keluar masjid dan berjalan sedikit ke trotoar. Membalas surat kamu sambil duduk dan menikmati indahnya pagi.

Pacar sayang,

Ibnul Qayyim bilang di bukunya Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu, beliau bilang kita enggak bisa mengelak ketika cinta itu datang, dan tidak bisa menghilangkannya ketika memang cinta itu ada. Itu datang dan enggak bisa kita hindari. Yang bisa kita lakukan cuma berusaha mencintai yang lain dan menggantinya dengan yang lebih baik.

Rasa yang ada di hati itu tidak bisa diganti, Pacar. Diupayakan hilang, mungkin bisa. Diganti objeknya, hmmm … boleh dicoba. Itu semua cuma usaha dan enggak ada yang tahu pasti dari usaha rasa itu akan hilang. Tapi aku ingin bertanya; apakah ini sesuatu yang kamu larang? Apakah apa yang aku rasa kamu enggak menerimanya? Sehingga kamu seolah pengen aku untuk menghilangkan rasa itu?

Pacar, aku enggak suka pas kamu bilang; cari cewek lain atau jatuh cintalah, lagi.  Beneran aku enggak suka.

Pacar,

Kamu pernah enggak ngerasain nyaman bareng seseorang? Kadang, kita bertemu sama orang asing yang enggak kita kenal tapi rasanya nyaman banget, padahal baru ketemu. Atau ketemu sama orang yang sudah lama kenal dan jadi teman, tapi rasanya ya … biasa aja. Aneh, ya? Tapi, ini selalu dibahas, lho, sama Ibnul Qayyim di setiap buku-bukunya. Kata beliau, kita ini, kan, punya jiwa. Nah, setiap kita bertemu dengan orang, sebenarnya kita itu sudah dipertemukan dalam dunia jiwa—bisa dibilang juga dunia ruh. Kalau kita ketemu sama orang asing tapi rasanya nyaman banget sama dia, kemungkinan besar jiwa kita pernah bertemu sama orang asing ini dan sangat akrab waktu di dunia jiwa. Jadi, masuk akal enggak, sih, banyak cerita kalau mereka bertemu langsung nikah, bertemu langsung akrab, bertemu langsung klop dan klik. Teori ini lucu menurutku, Pacar. Kok bisa, ya?

Aku enggak atau belum bisa ngebawa ini ke ranah psikologi, Pacar. Soalnya psikologi sekarang, kan, rujukannya Barat. Kamu bisa baca di blogku kalau mau tahu banyak tentang kenapa Barat banyak jadi rujukan ilmu pengetahuan dan enggak menerima adanya ruh. Sementara, budaya keilmuan kita, Timur, itu mengakui adanya jiwa dan tidak semua itu materi.

Salah satu filsuf Timur kontemporer, Al-Attas, beliau bilang—aku kutip ya, Pacar:

“The terms heart (qalb), soul or self (nafs), spirit (ruh), and intellect (‘aql) used in relation to the soul each conveys two meanings; the one reffering to the material or physical aspect of man, or to the body; and the other to the non-material, imaginal and intelligential or spiritual aspect, or to the soul of man. In general and from the ethical point of view, the first meaning denotes the aspect from which originates the blameworthy qualities in man, and they are the animal powers which in spite of their being beneficial to man in some respects, are in conflict with the intellectuals powers. The attachment of blameworthiness to the animal powers inherent in the physical aspect of man should not be confused with the idea of denigration of the human body, which is indeed against the teachings of Islam. The human being is created “in the best of moulds”, but without true faith and good works he is worse than the lowly beasts. It is against these non-beneficial aspects of the animal powers that the Holy Prophet urged us when he alluded to the greater struggle (Jihad) of man, for they are the enemy within. The second meaning refers to the reality of man and to his essence. To this meaning refers the well known Prophetic tradition: “whosoever knows his self knows his Lord.”

Sumber: Syed Muhammad Naquib al-Attas, The Nature of Man and The Psychology of The Human Soul, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1990), pg. 5

Ceritain dong, Pacar, buku yang baru kamu selesaikan itu.

Pacar sayang,

Menurutmu, rasa ini dari dalam jiwa atau sebatas rasa fisik?

Salam manis,

Gian