Surat 31 & 32

by | Aug 18, 2018 | Salam Manis Pacar |

Pacar sayang,

Bagaimana keadaan kamu? Akademik kamu bagaimana?

Kamu risih, ya, aku selalu bertanya keadaan kamu di setiap surat yang aku kirim? Aku memang selalu ingin tahu keadaan kamu.

Aku di sini baik-baik saja. Perkembangan akademikku juga seperti biasa, lambat tapi pasti. Aku mengembangkan akademikku sesuai yang kamu kasih tahu, rational dan doable. Jadi, semua rencana sudah mengikuti jalan yang kamu saranin.

Bagaimana 17-an di sana? Apa banyak perbedaan sama yang terjadi di sini?

Di Jogja semua desa berlomba-lomba mendekorasi desa mereka masing-masing untuk menyambut hari kemerdekaan ini. Mereka menghiasi trotoar dengan bendera juga menambahkan umbul-umbul merah putih. Ada juga yang memasang tali yang sudah disangkuti bendera kecil-kecil lalu tali itu dibuat menyilangi jalan, seolah mereka atap-atap tapi berwarna merah putih.

Di kampung tempatku tinggal, warga merayakan 17-an dengan lomba-lomba. Lomba-lomba itu dibuat berkategori anak-anak dan remaja, lalu untuk orang dewasa. Untuk anak-anak dan remaja, lomba yang diselenggarakan seperti; lomba makan kerupuk, balap karung, ada juga balap kelereng memakai sendok. Untuk dewasa; ada tarik tambang dan panjat pinang.

Semua orang terlihat senang, mungkin karena 17-an kali ini hari jumat. Jadi, weekend lebih lama sehari.

Pacar sayang,

Ketika aku melihat warga saling bercengkrama bersama keluarga mereka, aku teringat dengan kita—kapan, si, aku enggak teringat dengan kamu? Haha. Aku ingat dengan betapa lama kita sudah enggak bertemu. Berapa Agustus lagi?

Pacar sayang,

Aku benar-benar rindu kamu. Aku enggak tahu apa lagi yang mesti aku beri tahu kepadamu dalam surat-surat yang aku kirim—berapa lama lagi atau berapa surat lagi?

Aku ingin berdua bersama kamu, sekarang.

Hugs,

Gian

Dear Gian,

Aku baik—tapi ini tergantung definisi baik yang kamu tahu, sih. Kalau kamu menganggap enggak bisa tidur beberapa hari itu baik-baik saja karena enggak ada akibat langsung selain mengantuk di siang hari, maka aku baik-baik saja. Tapi kalau kamu menganggap susah tidur itu pertanda sesuatu seperti kebanyakan orang bilang, itu artinya aku enggak baik-baik saja. Kamu tahu, kan, kalau kamu bilang sama kebanyakan orang kamu susah tidur, pertanyaan yang pertama kali muncul, “Mikirin apa lo enggak bisa tidur?” Padahal, enggak bisa tidur bisa jadi karena too much caffeine intake before bed.

Sayangnya, aku enggak bisa tidur bukan karena kebanyakan minum kopi.

Gian,

Beberapa hari belakangan ini aku baru menyadari kalau kita memang harus pergi jauh bukan karena kepergian itu sendiri memberi kesempatan untuk meninggalkan apa-apa yang enggak kamu suka, lalu memulai hidup baru di tempat yang baru, tapi … tapi ini semua seperti penemuan alasan atau jawaban. Kita harus pergi, jauh-jauh, agar tahu, kalau yang ditinggalkan itu ternyata enggak seburuk itu. Atau bisa juga, agar ada jarak sehingga kita bisa melihat dari sudut pandang yang lebih jernih.

Aku enggak sengaja berfilosofi atau apa. Aku cuma mau bilang kalau mendengarkan lagu Indonesia Raya di tempat sejauh ini dari Indonesia, membuat bulu kudukku merinding. Padahal, kalau di Jakarta, setiap kali apel wajib, menggerutu saja inginnya.

Ada acara Agustusan di sini. Menyewa gedung dan ada apel juga. Tapi enggak meriah seperti di Jakarta. Setelah apel, ada cara makan-makan. Ini yang paling aku tunggu. Potluck dengan semua masakan tradisional Indonesia. Jangan tanya betapa girangnya aku menemukan gado-gado.

Gian,

Pekan lalu, aku banyak membaca resep-resep di blog kuliner. Ingin mencoba beberapa yang mudah karena sepertinya aku sudah bosan membeli makanan di kantin atau menghangatkan makanan jadi di microwave. Aneh memang, perempuan seperti aku enggak pandai memasak. Aku enggak akan memberikan alasan semacam; karena aku enggak ada waktu atau apa. Tapi ini sesederhana karena aku memang enggak pandai di dapur. Urusan ini sering jadi masalah karena menurut ukuran yang ada, perempuan kalau bisa harus pandai memasak. Seperti perempuan harus bisa punya anak—terserah apa alasan enggak bisanya, mereka harus bisa dan harus mau. Seperti laki-laki harus bisa mengerjakan urusan yang berhubungan dengan membetulkan ini-itu di rumah.

Foto motor barumu yang kamu kirimkan aku sudah lihat dan aku juga sudah bingung. Haha. Aku enggak paham kenapa kamu lebih suka motor tua seperti itu. Kenapa enggak membeli yang baru saja? Kalau aku punya kelebihan uang dan kemampuan untuk menyetir sekarang ini (plus dengan semua syarat surat-suratnya), aku akan lebih memilih punya mobil hybrid seperti Prius atau Tesla. barang-barang antik terlalu perlu dirawat.

Sama seperti kenangan.

Sama seperti rindu.

“What matters in life is not what happens to you but what you remember and how you remember it.” — Gabriel García Márquez

Love,

xxxxx