Surat 5 & 6

by | May 4, 2018 | Salam Manis Pacar | 0 comments

Dear Gian,

Apa kabar? Kamu ingat pohon rambutan di depan gang rumahku yang aku ceritakan dan pernah aku kirimkan fotonya padamu? Rambutan itu berbuah pekan lalu. Banyak sekali. Aku baru sadar ketika kemarin sampai di rumah, ada satu keranjang diletakkan di meja makan. Rasanya dulu, ketika aku masih kecil, rambutan berbuah di liburan sekolah. Juni atau Juli. Ini lebih cepat. Tapi, apa yang aku tahu tentang waktu.

Kita ada adalah waktu dan ada di dalam waktu itu sendiri — kata Jorge Luis Borges di tahun 1946 ketika dia memikirkan tentang waktu dan apa-apa yang ada di sekitar waktu itu.

“Time is the substance I am made of. Time is a river which sweeps me along, but I am the river; it is a tiger which destroys me, but I am the tiger; it is a fire which consumes me, but I am the fire.”

Aku paham kalau aku bisa melawan waktu, seharusnya begitu. Tapi aku memilih mengikutinya tanpa melawan karena dengan begitu, tenaga yang dihabiskan akan lebih sedikit. Aku memilih berteman dengannya. Aku pun makan rambutan tanpa dihantui ketakutan bahwa tahun ini sudah berjalan beberapa bulan dan aku merasa dikejar banyak hal.

Gian sayang,

J. D. McClatchy, pujangga yang banyak bicara tentang cinta, mengatakan bahwa dalam cinta ada keinginan atau hasrat. Ini yang membedakannya dari perasaan-perasaan yang lain. Kamu enggak akan punya hasrat pada temanmu—pun perempuan—karena memang enggak ada cinta di situ.

“A desire can be a vague wish, a sharp craving, a steadfast longing, a helpless obsession. It can signal an absence or a presence, a need or a commitment, an ideal or an impossibility.”

Aku enggak bisa menjawab ada rasa itu datang dari dalam jiwamu atau dari luar. Seperti sains yang menceritakan seluruh semesta dengan rumus dan perhitungan, manusia yang kemudian memberikannya makna. Ursula K. Le Guin menjelaskannya dengan lebih mudah menggunakan perumpamaan sains dan puisi. Begini katanya:

“… science describes accurately from outside, poetry describes accurately from inside, [and] both celebrate what they describe.”

Enggak ada yang salah dengan mencintai seseorang karena penampakan fisiknya, aku pikir. Seperti aku yang begitu menyukai senyum dan tawamu. Tapi itu semua hanya pelengkap apa yang ada di sini, di dalam sini. (Kalau kamu ada di depanku, kamu pasti tahu kalau aku akan mengatakan hal ini sambil menunjuk dadaku sendiri.) Karena … bagaimana mencintai sesuatu yang enggak pernah kamu tahu bentuknya atau pahami keberadaannya? Dia ada, karena itu dia bisa dicintai. Begitu, bukan? Kamu enggak akan bisa mencintai ketiadaan.

Maafkan aku banyak mengutip karena aku sendiri belum lagi bisa memahami ini semua. Ini baru buatku dan sewajarnya hal baru yang belum pernah kamu lihat sebelumnya, kamu akan menganggapnya asing sampai kamu terbiasa dan enggak merasa asing lagi dengan itu semua.

Gian sayang,

Aku membaca Anne of Green Gables pertama kali ketika awal kuliah. Terlambat. Sangat terlambat. Itu adalah novel anak yang seharusnya aku baca ketika umurku masih sebelas atau dua belas. Keterbatasan bacaanku di masa kecil yang hanya berputar antara komik dan Majalah Bobo membuatku lambat menyadari bahwa ada dunia lain yang dia aku jelajahi dan itu luar biasa menarik; dunia yang diciptakan Anne di Nova Scotia.

Sebenarnya novel ini menyedihkan. Bercerita tentang Anne yang yatim-piatu dan berpindah dari satu panti asuhan ke panti asuhan lain sampai satu keluarga mengadopsinya. Itu pun akhirnya dia ketahui sebagai salah adopsi. Bukan dia anak yang diinginkan keluarga yang hanya terdiri dari dua orang kakak-adik, lelaki dan perempuan. Mereka ingin mengadopsi anak lelaki untuk membantu di ladang. Ketika yang datang Anne, ternyata perempuan dan kurus pula, dua saudara itu pun kecewa dan ingin menukarnya. Tapi Anne memohon. Dia enggak ingin dikembalikan lagi ke panti asuhan karena di sana kondisinya sangat mengenaskan. Dia ingin ada di rumah itu, rumah orang yang mengadopsinya, dan berjanji untuk melakukan apapun yang bisa dilakukan anak lelaki.

Selama hidupnya, Anne menahan penderitaan dengan imajinasi. Ketika dia melewati jalan setapak yang penuh dengan bunga (ketika itu sedang musim semi), dia membayangkan dirinya seperti seorang puteri raja yang sedang melewati jalan di kerajaan. Dengan imajinasi itu, dia menjadikan hidupnya menarik. Memang pada akhirnya, di umur segini, aku melihat semua itu sebagai coping mechanism dari seorang anak yang menderita. Tapi dia selamat. Dia tumbuh menjadi anak yang baik. Di akhir buku keempat, dia menjadi seorang guru.

Gian sayang,

Banyak orang punya kesakitan dan lukanya sendiri. Melampiaskannya pada orang lain enggak pernah jadi penyelesaian. Memang pada akhirnya, orang yang terluka itu akan melukai orang lain karena dia ingin menghentikan kesakitan tanpa tahu caranya dan berakhir dengan dia ingin orang tahu betapa sakitnya dia.

Aku mencari coping mechanismku sendiri sekarang ini. Mungkin menuliskan surat untukmu adalah salah satunya.

Kamu sedang membaca buku atau menonton film apa? Ceritakan, dong.

Salam hangat,

Anne

Dear Pacar,

Aku baik sayang. Inget dong sama pohon rambutan itu. aku sesekali melihat foto-foto yang kamu kirim dan foto ini yang membuatku tertawa, entah, aku enggak tahu kenapa. Mungkin karena … siapa, sih, orang yang mau mengirim foto pohon di gang depan rumahnya? Tapi, lucu juga, sih, soalnya salah satu foto yang kamu kirim adalah screen capture dari Google Maps! Hahaha.

Aku mengerti apa yang kamu tulis di surat yang terakhir kalau kita bersanding dengan waktu dan kamu menganggap waktu sebagai teman sepermainanmu.

Menurutku juga. Waktu bagiku, kan, mahluk, sesuatu yang diciptakan. Kata mahluk sendiri itu serapan dari Bahasa Arab artinya sesuatu yang diciptakan oleh pencipta, dengan akar kata خلق. Kita manusia ini mahluk, binatang mahluk, batu mahluk, planet mahluk, dan waktu juga mahluk, jadi wajar saja kalau kita menjadikan waktu itu teman. Kita memang sederajat, mahluk.

Waktu aku nonton Doctor Strange-nya Marvel—yang kamu enggak suka dan kamu enggak mau nonton film Marvel sejak awal—aku rasa yang dimaksud oleh Dormamu dan pengikutnya tentang Beyond Time dan keabadian adalah konsep waktu sebagai ciptaan. Setelah menganggap waktu itu ciptaan maka bisa saja kita berada di luar ciptaan tersebut. Waktu dan kita sekarang, saat ini, beriringan. Bagaimana kalau kita berada di luar waktu?

Pacar sayang,

Aku enggak mau bertanya lagi soal rasa yang aku rasakan padamu; dari mana datangnya, kenapa itu terjadi, fisik atau hati, berbalas atau tidak, sekali lagi … Sayang, aku enggak ingin mempertanyakan itu. Aku cukup dengan ini, nyaman, dan tenang. Kamu juga pernah bertanya hal ini, kenapa bisa membuatku nyaman dan tenang, aku juga sampai sekarang belum bisa paham dengan pertanyaan ini.

Pacar, kamu tahu yang aku takutkan sekarang? Rasa yang aku rasakan ini nantinya meredup.

Aku sekarang tahu apa yang aku mau. Aku mau rasa ini konsisten tetap ada di sini, minimal stagnan. Mustahil, aku tahu, Tuhan saja bilang iman itu ada pasang dan surutnya, apalagi yang aku rasakan.

Kamu sering bilang ke aku kalau sesuatu yang konsisten itu yang akan merubah kamu, bukan sesuatu yang sesaat. Aku mengerti, aku paham, Sayang, dan aku ingin rasa ini konsisten karena aku yakin ini akan punya dampak besar. Apalah aku kalau ngomongin soal konsisten, aku buta dengan masalah ini. Sama butanya kamu dengan masalah perasaan di surat terakhir.

Aku percaya sama sesuatu yang konsisten, karena aku melihat kamu yang tekun dengan pekerjaanmu dan mengabaikan bising-bising pengganggu seperti seorang penulis yang memakai headphone dengan musik bervolume keras.

Marquess Brownlee, konten kreator. Dia membuat konten tentang teknologi seperti gadget, laptop, dan Tesla. Beberapa pekan yang lalu MKBHD—nama panggilannya di media sosial—mendapat penghargaan Creator of the Decade dari Shorty Awards. Untuk mencapai sebesar ini dia bilang butuh waktu 10-11 tahun. Dia terus konsisten membuat konten video sebulan sekali, tanpa berharap apa-apa selain konten yang dia buat sebaik yang dia mau.

Ada lagi, nama akun Youtube-nya theRadBrad, kamu bisa cari kok—iya, tahu kamu enggak gaptek, pengen ngeledek aja, huhuhu. Dia salah satu streamer game dengan audiens yang gede, delapan juta lebih subscriber-nya di Youtube. Terakhir dia nge-stream salah satu game yang baru rilis, God of War. Aku suka gamenya semenjak sekolah dasar, jadi aku ikut nonton beberapa video ketika dia bermain God of War. Di salah satu video yang aku tonton, dia berterima kasih sama semua yang udah nonton dan mantengin akun Youtube-nya, dia enggak percaya di awal dia buat video-video seperti ini dia nanti punya audiens sebesar ini, terus dia bilang sesuatu setelah itu yang bikin aku kagum, katanya:

“I’ve been consistenly made this content for you guys for eight years, so thank you.”

Well … konsisten.

Kamu tahu aku kesal pagi ini, kesalnya sampai kebawa sampai nulis surat buat kamu. Kesalnya enggak ada hubungannya, kok, sama kamu. Cuma hal yang remeh, ya … Manchester United, klub bola kesukaanku kalah dari klub Spanyol Sevilla dan enggak lolos ke babak selanjutnya di Liga Champion.

Seperti biasanya, sebelum dan setelah pertandingan ada konfrensi pers dan tanya jawab dengan pelatih tim. Aku suka, Pacar, nonton apa yang pelatih sampaikan sebelum dan sesudah pertandingan, rasanya lebih bijak aja gitu setelah mendengar apa yang disampaikan pelatih apapun hasil pertandingannya, menang atau kalah.

Setelah nonton kekalahan dari Sevilla, aku langsung nonton penyampaian pelatih setelah pertandingan. Tapi, waktu dia berbicara, ada beberapa kalimat yang membuatku jadi enggak habis pikir, bukan tentang taktik, bukan tentang yang terjadi di lapangan, tapi tentang dirinya. Setelah kekalahan ini, banyak yang mengkritik dia dengan kritik pedas sambalado, sampai-sampai orang lupa apa yang dia capai sebelum kekalahan ini. Seperti eksistensi dia hilang begitu saja setelah satu kekalahan.

Dia bilang,

When i was twenty years old I was nobody in football, I was somebody’s son. What i was with a lot of pride when I was twenty years old I was somebody’s son. And now with fifty five, I am what I am, I did what I did because of work because of my talend and my mentality.”

Untuk bisa duduk di kursi pelatih klub sebesar itu, dia butuh waktu 30-an tahun kerja dan mental yang konsisten.

Sayang, aku ingin rasa sayangku ini tetap ada, konsisten.

Sekarang aku lagi baca cerita, bukan novel, tapi kalo aku sebut cerpen ini cerita panjang juga hahaha. Story of Life-nya Ted Chiang, aku kirimkan tautan Goodreads-nya, ya, di bawah. Aku sudah membacanya, kita obrolin, yuk, setelah kamu selesai membaca.

https://www.goodreads.com/book/show/223380.Stories_of_Your_Life_and_Others?from_search=true

Pacar sayang, teman duduk dan gelindingan kamu, kan, buku, apa waktu juga teman keduamu? Hehe.

Salam hangat,

Gian

Gian