Surat 7 & 8

by | May 10, 2018 | Salam Manis Pacar | 0 comments

Gian sayang,

Pohon ceri di depan apartemenku baru saja mengeluarkan bunganya ketika aku menulis surat ini. Tanda musim dingin sudah lewat. Dingin masih belum hilang dan tupai-tupai masih juga sanggup berlarian di tanah beku, di suhu sedingin itu. Harusnya hari ini aku ke kampus tapi dosen pembimbingku sedang konferensi ke luar kota. Jadi, aku memutuskan untuk berdiam saja di kamar seharian. Duduk di depan jendela. Teman satu apartemenku juga sedang sangat sibuk di kampus. Nyaris setiap hari dia pulang malam. Kadang kami enggak saling bertemu sampai beberapa hari padahal tinggal di satu unit yang sama. Ketika aku berangkat, dia masih tidur. Ketika aku pulang, dia belum pulang. Ketika dia pulang, aku sudah tidur.

Di surat terakhirmu, kamu bertanya apa waktu adalah temanku yang satu lagi. Mungkin iya, mungkin. Tapi aku baru merasakannya ketika aku tinggal di sini. Di Jakarta, aku hampir enggak merasakan waktu berlalu. Sepanjang tahun matahari bersinar terik. Yang membuat waktu terasa berjalan hanya beberapa bulan yang turun lebih banyak hujan dan bulan-bulan lain yang terik luar biasa. Lalu puasa, lebaran, dan hari-hari besar lain. Di sini, waktu berjalan seperti punya warna-warnanya sendiri. Seperti rombongan karnaval yang melintas di tengah kota dan aku berdiri di sisi jalan untuk melihatnya.

Aku mengingat waktu-waktu dengan warna muram langit yang bercampur dengan putih menutupi jalanan, pepohonan, dan atap di musim dingin. Lalu warna putih itu meleleh, memantulkan sinar matahari yang jatuhnya kelewat miring, membuat cahayanya menjadi terlalu kuning. Lalu aku warna-warna lain mulai terlihat. Hijau muda, merah muda, ungu muda, dan biru terang di langit. Angin berhembus kencang, aku mengganti coat tebal dan boots tinggi dengan trench coat, syal, dan booties. Udara yang aku hirup enggak lagi tajam, aku enggak perlu menutup hidungku dengan masker karena dingin yang masuk ke hidungku kadang terlampau menyakitkan. Lalu suara sirine tornado. Beberapa kali aku harus berlari ke lantai paling bawah di gedung kampus ketika sirine itu berbunyi. Di sini memang rawan tornado. Kapan-kapan aku akan menceritakannya.

Lalu setelah itu, semua menjadi hangat, terang, merah, hijau, kuning, kacamata hitam, dan semua menyilaukan. Aku mulai memakai celana bahan dan Converse kuning kesukaanku. Apa yang memberat di waktu sebelumnya pun mulai terangkat; coat, syal, lapisan baju yang membuat berat badanmu bertambah setengahnya. Aku menunggu musim panas kali ini karena aku akan mulai internship selama tiga bulan. Enggak ada yang istimewa, aku hanya ingin mencoba hal baru.

Setelah itu, akan datang warna-warna yang aku suka; merah tua, cokelat, kuning tua, oranye, dan langit yang cerah biru tua. Udara yang mulai mendingin. Syal yang kembali dipakai. Jalanan yang ditutupi daun-daun kering. Ranting yang kehilangan daun-daun. Lalu, siang yang semakin singkat.

Aku ingin berjalan denganmu di musim ini. Sekadar ke coffee shop dan menghabiskan hari karena di sana akan mulai dijual pumpkin spice latte yang sangat aku suka dengan pumpkin pie. Kita bisa bicara tentang banyak waktu yang sudah terlewat, banyak waktu yang akan datang, dan juga tentang mimpi-mimpi—yang lebih mudah diceritakan ketika cahaya matahari mulai memudar dan langit kemerahan. Aku ingin kita bicara tentang tempat-tempat jauh yang ingin kamu kunjungi. Semalam di telepon, kita bicara tentang Colmar dan Santorini. Tapi aku juga ingin sekali ke Ubud. Berboncengan motor sewaan lalu mengunjungi museum, melihat lukisan, tarian di GWK, dan melupakan bahwa banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

Aku ingin memakai gaun ringan melayang yang rasanya enggak akan mungkin aku kenakan di Jakarta. Lalu malamnya, mungkin kita bisa ke Kuta dan melihat lampu-lampu kapal seolah seperti bintang yang letaknya lebih rendah. Ada hotel di dekat Kuta yang menyediakan croissant yang luar biasa enaknya untuk sarapan dengan jus mangga. Kita bisa menginap di sana.

Gian sayang,

Betapa menyenangkannya melihat hidup seperti memandang ke lautan yang tampaknya enggak punya ujung kemungkinan—apapun bisa terjadi. Tapi itu juga yang membuatnya menjadi begitu menakutkan. Seperti kamu yang takut kalau perasaanmu akan berkurang, aku pun takut pada jarak yang membuat kita punya jeda begitu panjang. Lalu semua yang kita usahakan pun jadi punya jangka. Aku takut perasaanmu, seperti juga perasaanku, punya masa kadaluarsa—yang ketika saatnya datang, bisa jadi, mengucapkan selamat tinggal pun enggak jadi pilihan. Lalu ketika itu, aku ingin sekali menyalahkan pilihan dan keputusan yang aku buat di sepanjang masa itu. Termasuk harus pergi sejauh ini sementara waktu.

Tapi aku enggak akan membicarakan itu lagi. Biarkan saja.

Gian sayang,

Beberapa waktu belakangan, suratmu mulai jarang ada di inbox email-ku. Kita lebih banyak bicara dan ketika itu, malam di tempatmu dan siang di tempatku. Kamu harus tetap terjaga sampai menjelang pagi hanya untuk membicarakan hal-hal yang enggak ada gunanya. Apa yang kita bicarakan memang kebanyakan bukan hal penting, kan? Hanya beberapa kali kita berdebat, bertengkar, lalu berbaikan keesokan harinya.

Semalam, aku katakan padamu bahwa bisa jadi dulu aku kesepian. Bisa jadi. Aku tinggal di kota sepadat ini, dengan orang-orang sebanyak itu, lalu belajar di kampus yang begitu ramai, tapi aku enggak juga merasa seperti pulang ke rumah ketika aku sampai di sana. Hanya di beberapa semester terakhir, ketika aku memutuskan bahwa aku enggak akan menganggap tempat ini seperti arena pertarungan. Aku akan belajar, berteman, bersenang-senang, lalu mengerjakan apa-apa yang aku suka tanpa menghiraukan yang lain. Kita sering membicarakan ini; tentang grit (kegigihan) dan perseverance (ketahanan). Lalu juga konsistensi. Kamu melihatku melakukan semua itu tanpa terganggu gaduh di luaran sana, karena itu kamu mengumpamakanku seperti penulis yang terus mengetik di kafe ramai sambil memakai headphone dan mendengarkan musik keras-keras.

Gian,

Aku harus begitu. Aku ingin diriku ini adalah cangkang paling aman untuk jiwaku sendiri karena kalau aku belum aman di pelukan diriku sendiri, aku enggak akan pernah merasa aman di pelukan siapapun—kamu termasuk.

Kesepian-kesepian yang dulu pernah singgah itu datang dari kesalahanku yang belum bisa melihat bahwa hidup bukan tentang siapa yang lebih punya prestasi—prestasi itu mutlak harus ada, sih—lebih banyak, tapi tentang; dengan segitu banyak prestasi, apa yang kamu bisa lakukan untuk lebih banyak orang. Hidup bukan tentang sampai di puncak sendirian.

Ketika kamu datang, kita kenal, lalu beberapa bulan belakangan kita dekat, dan juga ketika aku melihat merah wajahmu dan bergetar suaramu waktu kamu bilang kalau kamu sayang padaku, aku tahu, bahwa kalau ada hal besar yang aku inginkan dalam hidup, maka aku sudah punya segalanya. Mungkin enggak banyak, tapi cukup. Aku punya jalan yang sudah aku tandai rutenya, yang sudah aku lipat petanya dan simpan karena aku tahu jalan itu seperti aku menghapal garis di telapak tanganku sendiri. Aku hanya tinggal menjalaninya sebaik yang aku bisa. Lalu aku punya support system yang bagus; keluarga, sahabat, teman, dan lingkungan yang baik. Aku pun punya kamu, yang membuat jalan ini punya alasan kuat untuk dijalani enggak sambil mengeluh—karena bertengkar denganmu bisa jadi pilihan lebih baik.

Aku merasa dadaku lapang tapi juga penuh dalam waktu bersamaan.

Gian sayang,

Ketika aku menulis surat ini, hujan turun di luar. Aku baru saja menghabiskan secangkir kopi dan ingin mengirimkan pesan ke beberapa teman. Ada yang untuk menanyakan tugas dan ada yang untuk sekadar berbagi cerita. Pohon ceri di depan apartemenku basah oleh hujan lalu aku kembali merindukanmu. Tapi nanti siang (dan tengah malam di tempatmu) kamu akan menelepon lagi. Rindu itu sebagian akan menguap seperti uap air yang menguap ke atmosfer lalu berkumpul jadi awan, dan kalau sudah begitu berat, jatuh juga ke tanah jadi hujan—atau di musim dingin, jatuh jadi salju. Apa bisa rinduku yang menguap itu terbawa angin dan jatuh jadi hujan di kotamu?

Maaf kalau surat ini begitu sentimentil.

Gian,

Aku membeli iBook Ted Chiang beberapa hari lalu dan sudah membaca cerpen yang kamu ceritakan itu; The Story of Your Life.

Aku jadi ingin bertanya padamu. Kalau kamu sudah tahu semua, waktu enggak mengalir, kamu enggak mesti menunggu untuk melihat masa depan dan masa lalu, seperti Heptapod di cerpen Ted Chiang, dan kamu sudah tahu kita akan berakhir bagaimana, apa kamu masih ingin menghabiskan waktu yang kamu punya denganku?

Aku kirimkan bagian dari cerpen itu yang menarik perhatianku, ya, tentang Fermat Principle. Intinya, sih, itu pembuktian melalui perhitungan kalau cahaya itu akan melalui jalan yang lebih singkat untuk sampai ke satu titik. Tapi uniknya, bisa jadi, mata kita melihat bahwa jalan itu adalah jalan yang paling panjang. Aku ingin membahasnya panjang lebar karena ini menarik. Tapi aku masih ingin menyelesaikan semua cerita di buku ini. Sementara kamu, pasti lebih tertarik membahas apapun yang ada kaitannya dengan lingustik—aku membayangkan kamu akan mulai menekan pelipismu kalau aku sudah mulai bicara tentang matematika dan angka-angka.

Aku menunggu suratmu. Juga teleponmu.

Salam manis,

xxxxx

Pacar sayang,

Apa yang kamu rasakan ketika menulis surat yang aku terima ini?

Kamu sibuk sekali, ya, mengurus kuliahmu. Ditambah lagi dosen pembimbing yang mengampumu sering tidak ada di kampus, begitu bukan? Terakhir kita berbicara di telepon kamu selalu mengeluh tentang dosen pembimbingmu yang selalu saja menghadiri konferensi di luar kota. Gunakan saja waktu luang itu untuk memperbaiki tugas-tugas kuliah kamu.

Asyik sekali kamu di sana, merasakan musim yang terus berganti. Enggak sepertiku cuma punya dua musim, kalo enggak panas, ya … musim hujan. Walaupun musim-musim yang terus berganti membuat sibuk sampai kamu dan teman satu apartemenmu jarang sekali mempunya waktu untuk bertemu, tapi aku kira rasa bosan lebih berat untuk berada di tempatku. Kalau enggak basah, ya … kering, sedangkan kamu bisa melihat musim yang lebih beragam.

Pengalaman musim kita mungkin berbeda sekarang, tapi kalau sibuk, aku rasa kita sama-sama sibuk. Aku juga sedang mengejar ketertinggalanku dengan materi Morfologi dan Sintaksis ditambah dengan asistensi penelitian dosen yang aku sedang kerjakan. Hari-hari terasa lebih berisi daripada sebelumnya, mungkin tidak sesibuk kamu tapi untuk ukuranku ini cukup untuk membuat tidurku lelap.

Tapi sayang, kita sama-sama sibuk terus kita berjarak tempat. Oh iya, bukan hanya tempat, tapi juga waktu.

Jauh dan setiap kita berbicara lewat telepon selalu salah satu dari kita tidak maksimal. Di sana siang di tempatku sudah malam, kamu lagi melek-meleknya dan aku sudah enggak punya tenaga. Di sini pagi di tempatmu menjelang malam, aku bugar kamu sudah mau tidur. Ya, enggak masalah, sih. Aku bukan sedang mengeluhkan itu, aku cuma heran. Teman satu apartemen kamu, itu yang bikin aku heran. Kalian jarang bisa bertemu, padahal kalian enggak dijarak oleh waktu atau tempat, tapi kenapa kesempatan kalian untuk bertemu minim? Sedangkan kita yang sulit selalu punya kesempatan untuk berkomunikasi. Hmmm….

Mungkin memang bukan masalah jarak dan waktu untuk seseorang bercengkrama dengan orang lain. Tapi tergantung kita, apakah kita ingin meluangkan waktu kita untuk seseorang itu. Apa orang itu prioritas utama atau ‘nanti saja’?

Sayang, kamu prioritas buatku.

Pacar sayang,

Kemaren malam Google memperkenalkan fitur AI (Artificial Intellegent) baru mereka, namanya Google Duplex. Google Duplex nantinya akan melengkapi dan menemani Google Assistant—asisten personal pengguna gawai Android untuk melayani penggunanya. Google Duplex membuat banyak orang kaget, fitur ini bisa berbicara lewat telepon layaknya orang berbicara. Bahkan orang di konferensi di sana tercengang, hampir tidak ada beda antara omongan orang asli dan AI ini.

Keesokan harinya, hari ini, Marquees—Youtuber teknologi yang aku sebut di surat sebelum ini, mereview Google Duplex ini. Dia bilang banyak orang takut dengan progres yang dibuat Google ini. Banyak, sih, alasan orang-orang kenapa takut. Tapi alasan kebanyakan orang; ketika fitur ini aktif kita tidak tahu dan enggak bisa membedakan mana telepon asli dari orang dan yang mana dari AI, lalu kita enggak tahu sampai mana kemampuan AI ini jika terus dikembangkan—asumsinya, kalo sekarang bisa menelepon orang dengan seamless kemungkinan untuk bisa seperti manusia menjadi mungkin.

Pacar,

Akhir-akhir ini kita selalu membicarakan sesuatu yang pada akhirnya kita enggan untuk membahasnya lagi. Seperti; dari mana datangnya perasaan ini, apa rasa ini akan kadaluarsa, fisik atau hati, berbalas atau enggak. Aku rasa kita sedang takut, Sayang, dengan apa yang kita hadapi sekarang. Dengan rasa. Kita berdua enggak tahu dan enggak punya pengalaman dengan rasa seperti ini. Kita takut sama sesuatu yang kita enggak atau belum tahu. Sama seperti banyak orang yang merespons Google Duplex dengan takut.

Sayang. Tapi efek takut buatku itu bisa menjadi baik, karena takut membuat kita bersiap-siap dengan kemungkinan yang akan datang. Takut itu tanda kalau kita aware. Takut berarti kita tahu akan ada sesuatu yang terjadi setelah ini.

So, i think we’re good, we’re fine.

Aku jadi ingat sama percakan antara Robb Stark dan Theon Greyjoy di Winterfell dalam serial Game of Thrones. Aku kutip ya,

“You afraid?”

“I must be.”

“Good”

“Why is that good?”

“It means you’re not stupid.”

Sayang, kita takut dan itu enggak apa apa.

Salam manis,

Gian

Gian