Surat 9 & 10

by | May 19, 2018 | Salam Manis Pacar | 0 comments

Gian sayang,

Di pertengahan Mei ini, beberapa temanku lulus dan pulang ke Indonesia. Enggak ada persiapan yang rumit di pagi menjelang wisuda. Beberapa dari mereka bahkan hanya memakai pakaian biasa yang dipakai ke kampus dengan sedikit makeup sambil menenteng regalia ke hall. Aku datang ke sana. Bukan datang, lebih tepatnya. Aku mengantarkan Adrian. Kamu belum tahu nama ini karena aku belum pernah menyebutkannya padamu sekalipun.

Dia datang setahun lebih dulu. Dia yang menjemputku di bandara dengan mobil yang dia punya karena aku yang paling terakhir datang di awal tahun ajaran. Iya, dia punya mobil dan sangat biasa untuk mahasiswa di sini punya mobil. Selain karena harganya bisa dijangkau, Andri—begitu aku memanggilnya—menghabiskan waktu luangnya dengan kerja paruh waktu. Uangnya dia kumpulkan untuk membeli mobil yang ketika kami pakai untuk pergi ke tempat commencement, beberapa orang di craiglist sudah menawar untuk membelinya. Mobil itu sudah diiklankan sepekan lebih untuk dijual.

Dia bicara tentang banyak hal di sepanjang jalan. Tentang cuaca, tentang bajuku—karena aku sudah menjanjikan untuk memakai atasan kebaya di hari itu agar sepadan dengannya yang memakai blazer dan kemeja paling bagus yang dia punya. Hari ini adalah lelucon yang dia lempar setahun lalu, ketika aku ada di dalam mobil yang sama, duduk di bangku yang sama, di sebelahnya, dan dia berkata, “Mau jadi pendamping gue enggak waktu gue wisuda tahun depan?”

Aku menyetujui itu sambil menggodanya, “Emang bakalan lulus?”

Lalu, lelucon itu pun jadi janji.

Tapi di perjalanan itu, ada satu pertanyaan yang dia tanyakan dan membuat kami sama-sama diam sampai beberapa lama. Ketika pulang, setelah banyak sesi foto-foto, kami masih juga terdiam. Dia bertanya, “Lo ada perasaan enggak, sih, sama gue?”

Gian,

Dia bertanya tentang perasaan.

Kamu tahu apa yang paling menakutkan dari pertanyaan tentang perasaan? Bahwa kamu enggak punya apa yang ditanyakan dan diharapkan.

Aku pun menjawab, “Ada. Dulu.”

Dia bertanya lagi, “Sekarang?”

“Enggak.”

Betapa menakutkan perasaan itu. Suatu hari kamu merasa kalau punya perasaan pada seseorang. Perasaan itu membuatmu selalu ingin dekat, ingin bertemu. Lalu, pada suatu pagi, kamu bangun, perasaan itu berlalu. Hatimu kosong. Kamu pun bertanya, “Ke mana perginya?”

Gian sayang,

Aku dulu pernah sangat sayang padanya. Kami banyak menghabiskan waktu berjalan di downtown ketika ada light festival di sana. Bercanda di bawah lampu-lampu. Bicara tentang banyak hal yang enggak penting tapi karena aku bicara dengannya, semua itu menjadi penting, menjadi menarik. Lalu semua berlalu begitu saja. Kesibukan. Jadwal. Lalu aku pulang ke Jakarta dan bertemu denganmu setelah lama bicara lewat chat, telepon, dan email. Aku menyukaimu lebih dari yang aku rencanakan sebelumnya. Aku enggak ingin sampai sejauh ini. Aku suka bicara denganmu tapi aku enggak ingin kata-kata dari pembicaraan demi pembicaraan itu mengisi apa yang waktu itu kosong; hati.

Aku teringat banyak hari yang aku habiskan dengan membaca novel grafis Sandmand karena aku terkena flu di musim dingin tahun lalu. Ada satu kalimat yang masih juga menghantui sejak saat itu. Katanya:

“Have you ever been in love? Horrible isn’t it? It makes you so vulnerable. It opens your chest and it opens up your heart and it means that someone can get inside you and mess you up.” 

— Neil Gaiman (The Kindly Ones (The Sandman, #9))

Tapi kadang kita enggak tahu apa memang hati itu sedang terbuka atau tertutup.

Gian sayang,

Maaf surat ini pendek sekali. Aku ingin bercerita lebih banyak lagi. Sungguh. Tapi tumpukan tugasku lebih banyak dari apa yang mau aku ceritakan.

Please, balas lebih panjang. Ceritakan apa saja. Aku ingin membaca surat darimu.

Salam sayang,

xxxxx

Pacar Sayang,

Hari ini terik sekali, keringat pasti mengalir jika aku ke luar dari rumah. Hari ini aku ada kelas dan aku memutuskan untuk memakai kaos oblong saja. Mungkin memang karena hari yang panas, semakin tidak berlapis baju semakin adem badanku. Aku menuruti selera style-mu yang kamu tunjukan ketika kita telponan beberapa waktu yang lalu. Iya-iya, aku memang senang menuruti kata-katamu.

Sorenya aku menjemput temanku di bandara. Dia baru saja selesai mengikuti pelatihan atlit nasional. Dia salah satu atlit Judo dari kampusku, sering meraih medali jika dia mengikuti kejuaraan. Tapi di tingkat nasional dia menjadi atlit Sambo, salah satu bela diri yang berasal dari Rusia. “Judo dan Sambo memang memiliki banyak kesamaan,” jawab dia ketika aku tanya kenapa beralih menjadi atlit Sambo.

Beberapa minggu belakangan teman-teman di  rumah memang sedang digandrungi oleh olahraga bela diri. Entah mereka membicarakan tentang kompetisinya, jenis-jenis bela diri, bahkan sampai ke film-film tentang olahraga ini. Kami senang membicarakan ini mungkin karena kami laki-laki. Rasanya mengalir kalau sudah berbicara tentang olahraga. Bisa jadi juga karena temanku baru selesai pelatihan, jadi obrolan yang hangat dan baru, yaaa … tentang dia dan bela dirinya.

Temanku bercerita tentang atlit yang sudah tua dan ingin memaksakan diri untuk tetap berkompetisi bersama atlit-atlit yang lain. Sayang, atlit itu tidak bisa mengikuti lagi kompetisi karena atlit-atlit lain yang lebih muda siap menggantikan posisi dia, padahal dia adalah salah satu atlit yang terbaik.

Pacar sayang,

Kemarin aku menonton kembali—iya, aku memang suka menonton ulang film—film Creed. Film ini adalah sekuel film Rocky Balboa, film tinju yang diperankan oleh Sylvester Stallone. Dulu, Rocky Balboa adalah salah satu film favorit dan ditunggu-tunggu. Salah satu scene di film itu ada percakapan yang bagus menurutku,

“Apollo? Yeah, he was great, He was the perfect fighter. Ain’t nobody ever better.” Rocky menjawab ketika dia ditanya oleh Creed sehebat apa Apollo bertarung.

“So how’d you beat him?” Creed bertanya lagi.

“Time beat him. Time takes everybody out. It’s undefeated,” bilang Rocky sebagai akhir percakapan.

Terus, aku keinget percakapan Jon Snow dan Beric di Beyond the Wall, Beric bilang,

“Death is the enemy. The first enemy and the last…. The enemy always wins. And we still need to fight him. That’s all I know.”

Pacar sayang,

Aku tahu apa yang kamu takutkan dengan rasa yang ada ini. Aku juga paham kenapa kita menakutkan hal ini sejak awal. Ini yang kita bahas sejak awal di surat-surat kita. Takut hilang, dari mana asalnya rasa itu dan pertanyaan-pertanyaan lain.

Untuk jawaban dari ketakutanmu itu, aku yakin kita akan kalah. Perasaan ini akan kalah, mungkin dengan waktu. Rasa ini akan kadaluarsa. Kalah dengan waktu karena memang mungkin sudah saatnya rasa ini hilang seperti atlit tua itu tersingkir dengan atlit yang lebih mudah. Kadaluarsa seperti Apollo yang hebat pada masanya tapi kehebatan dia tidak bisa mengalahkan waktu yang terus berjalan.

Pacar,

Minggu ini adalah minggu terakhir aku masuk kelas semester ini. Mata kuliah terakhir yang aku hadiri adalah Menulis Kreatif—kamu sering menyebut Creative Writing pas kita ngediskusiin ini. Pertemuan terakhir waktu itu diagendakan untuk menduskusikan dan memberi masukan ke cerpen terbaik di kelas. Aku sama sekali tidak tahu cerpen siapa yang menjadi pilihan terbaik teman-teman.

Waktu itu aku sudah masuk kelas lebih dahulu daripada yang lain. Kelas nampak kosong, ketika aku membuka pintu kelas. Hanya terlihat tas-tas yang terletak di atas kursi tanpa ada teman-temanku di kursi itu, mungkin mereka sedang ke luar untuk salat namun enggan membawa tas karena tanggung. Lalu masuklah satu persatu teman-temanku dan betul perkiraanku kalau mereka habis salat.

Perkuliahan dimulai. Satu persatu menjabarkan cerpennya dan bagaimana mereka mendapat ide cerpen itu. Seperti apa proses penulisannya. Seberapa jauh mereka meriset satu cerpen. Untuk mahasiswa peserta mata kuliah ini, cerpen yang mereka buat mesti bagus, karena perkuliahan ini enggak ada ujian akhir, diganti dengan pembuatan cerpen. Ketika aku mendapat giliran memantik diskusi kepada teman-teman di kelas, aku menjabarkan ide dan bagaimana menuangkan itu itu ke dalam scene dan cara agar selesai.

Kelihatannya memang mudah. Kelihatannya. Tapi ketika aku memulai membuat cerpen, ternyata itu susah. Itu, tuh,  enggak sekedar ‘tulis aja’ seperti kebanyakan seminar-seminar kepenulisan yang banyak orang ikuti. Dari mendapat ide, ngebuletin ide tersebut. Terus, core yang ingin disampaikan lewat cerita ini seperti apa, bagaimana menyampaikan core itu agar seamless dan masuk ke pembaca tanpa ada pemberontakan. Itu sulit. Aku enggak menyangka akan sesulit itu, mungkin aku terlihat lebay sayang, mungkin. Tapi memang seperti itu adanya, menulis itu tidak mudah.

Enggak bisa kita mengikuti seminar atau workshop beberapa hari lalu kita berharap kita bisa menjadi sehebat Andrea Hirata misal. Baru menulis satu atau dua buah tulisan lalu kita menganggap kita penulis dan sudah mahir. Enggak bisa begitu ternyata, Sayang. Bahkan mencari diksi agar pembaca paham dengan yang kita maksud saja sangat sulit. Sepertinya butuh latihan bertahun-tahun agar bisa lancar menulis dan bisa menganggap diri ini calon penulis—baru calon, ya, belum sampai derajat penulis.

Seperti yang ada di dalam scene-scene di cerpen itu, deh. Kita enggak bisa sembarangan masukin apa yang kita mau ke dalam scene itu. Sampai, misal, kenapa karakter utamanya memakai baju merah atau kenapa namanya seperti ini itu harus relate dengan cerita dan apa yang mau kita sampaikan. Kita enggak bisa sembarangan dan semau kita karena semua yang ada di dalam scene, semua yang kita ceritakan harus saling membangun membentuk cerita yang utuh. Tidak ada yang tidak penting di dalam scene. Jadi, yang tidak penting mesti dihilangkan. Seperti membangun rumah, tidak ada bagian yang tidak penting, hilang satu komponen pasti ada yang bolong.

Pacar,

Mungkin sesulit itu juga membangun dan merawat apa yang sedang kita rasakan.

Sayang … jangan takut.

Oh, ya, aku kirimkan cerpen yang aku tulis bersamaan dengan surat ini.

Bagaimana di sana? Apa dosenmu masih sering pergi?

Salam sayang,

Gian