Ternyata, Kamu

by | Apr 1, 2018 | Marvelous March | 0 comments

“Heh, jelasin apa salahku?” Rahang atas dan bawah yang agaknya menyatu, disusul bunyi-bunyian akibat gigi yang beradu, nafasnya kembang kempis tidak teratur, kasar, area hidung menjalar pipi hingga mata terlihat agak merah karena kesan eksotis sedikit menyamarkan, ngarai beningnya dan pusat pekat yang menatap tajam. Entah apa artinya.

“Jelasin di mana salahnya aku. Aku cuma mau ngobrol. Jawab! Jangan diem!” Ini semacam intimidasi, tepat sebelum membalas, kusempatkan membaca sekitar. Dari arah yang berlawanan, ternyata hampir semua penghuni kelas berkumpul, menatapku, oh … atau orang di depanku. Aku seakan tersadar menjadi pusat perhatian dan itu menjengahkan.

“Diem lagi, jawab, Ra.” Terlambat, baru saja hendak bersuara, langsung terpotong suara lelaki depanku ini. “Mas hanya berusaha mengembalikan yang sempat terlewatkan. Mas yang bakal berusaha. Kamu cukup kasih kesempatan,” Sambungnya lagi, sedikit melembut.

Kembali, aku merasa bingung. Seakan melihat potongan puzzle yang tak ada kesinambungan di setiap sisinya. Namun, keping demi keping yang tak terlihat sedang coba kuamati dalam diam. Tepat lima bulan sebelum hari ini, aku adalah mahasiswa baru yang memiliki resolusi hidup menjadi lebih terbuka pada lingkungan.

Awal perkuliahan terasa berat karena harus pasang topeng ramah pada semua wajah asing. Namun beruntungnya cukup berhasil di bulan pertama. Bertemu Kayisha di Kuliah Umum (KU). Calon arsitek yang cukup easy going. Dia yang tak keberatan ketika kubilang, “Elah, panjang amat, susah, udah Icha aja pie?” dan dia hanya tersenyum. Efek Icha yang supel dan humble membuatku ikut punya banyak teman. Walaupun tidak sedekat aku dengan Icha, ini sudah jadi progres yang cukup baik buatku yang tadinya hampir-hampir tak punya teman. Kecuali Mas Dipta, dulu.

Sebagai mahasiswa sains yang kesehariannya disibukkan dengan laporan, belum lagi tugas paper maupun proyek, membuatku cukup lelah. Bahkan banyaknya mark up class akibat sibuknya dosen pengampu yang kala itu menjadi Ketua Jurusan—orang nomer satu di jurusan—membuatku tak ada waktu untuk sekadar menyapa teman baru di kelas KU.

Karena tersenyum bagi orang yang cukup introvert itu butuh energi, sedang energiku sudah habis untuk memahami yang belum tentu mau dipahami—fisika matematika. Aku mulai melupakan, ah, mungkin hanya menggeser sedikit pemikiran sih. Toh, aku udah punya temen baru sekarang, enggak usah sok ramah lagi enggak apa-apa, kan? pikirku.

Tidak seramah sebelumnya bukan berarti aku tak memiliki cukup teman. Ada, beberapa malah. Namun, sepanjang ingatan ini bekerja, tak sedikitpun memori tentang seseorang yang barusan saja menyentakku, atau hanya menanyai. Entahlah. Nyatanya dari apa yang dia ucapkan, aku adalah tersangka.

Lelah dengan semua kemungkinan-kemungkina yang coba kurangkai, kuputuskan melangkah ke arah pintu keluar. Mencoba baik-baik saja ditengah tatapan ingin tahu seluruh penjuru kelas. Bahkan nama kamu siapa, aku juga enggak tahu, Mas, batinku berteriak.

***

Toh aku udah punya temen baru sekarang, gausah sok ramah lagi gapapa kan? pikirku.

Untung saja semesta masih berbaik hati, ditengah kecamuk batin yang tak terucap, aku sampai dengan selamat di kost.

“Ly! Ngelamun, ih,” tegur Icha yang ternyata sedari tadi bersamaku menyusuri entah jalanan mana hingga sampai kost.

“Hehe, ngapain disini kamu, Cha?” ucapku antara kaget dan bingung. Kenapa dia di depanku saat ini dan tidak dengan motor Beat putih keluaran tahun pertama kesayangannya. Padahal biasanya mereka itu sepaket.

“Menurut ngana? Ya kali, ngebiarin kamu jalan kaya orang linglung sendirian, enggak bisa bedain mana jalan orang dan jalan air. Asal bisa diinjek, bakal kamu lewatin,” lanjutnya sebelum aku selesai berpikir. Aku hanya membatin, separah itu?

“Kayanya juga, kalau enggak aku seret, kamu bakal terus lurus padalah kostmu udah kelewat,” ucapnya final dengan diakhiri decakan gemas. Kebiasaanya ketika kesal.

“Segitu sakitnya, Ly? Sampe kamu kehilangan arah gini?” ucapnya melembut. Namun malah membuatku bingung.

“Sakit?” ulangku sedikit tak percaya. “Iya, sakit. Walau belum seberapa dibanding sakitnya do’i sih.” Mungkin si tukang pemarah itu yang Icha maksud. Aku hanya terus menggelengkan kepala.

“Ck, bukan sakit, Cha. Aku cuma bingung. Dia siapa? Aku punya salah apa sama dia? Kok, ya … marahin aku kayak gitu?”

Icha sempat terdiam sesaat dan mengernyit, seakan berpikir keras. Namun diakhiri gelengan tak percaya, “Kamu separah ini ternyata. Ly. Intinya, ya, entah kamu ato dia yang salah, aku juga enggak tahu. Tapi yang aku tahu, kalian perlu ngomong. Berdua. Dalam kondisi tenang.” Lanjutnya dengan pandangan … prihatin.

“Udah, sana mandi, tenangin diri. Aku balik kampus lagi ngambil si Bety—motor kesayangannya. Gegara kamu Bety aku tinggalin,” ucapnya berusaha menenangkanku. Diakhiri tepukan ringan dan dia menghilang di balik pintu kamarku.

***

Berhubungan dengan orang itu selalu saja membuatku seperti orang bodoh, saat ini aku kembali terasing entah berapa detik.

Tepat seminggu setelah kejadian memalukan di kelas KU, ternyata masih meninggalkan banyak perrtanyaan yang juga turut andil pada ketidaksiapanku menghadapi ujian hari ini. Aku sibuk mencari Icha, meminta pendapat, maunya. Alih-alih menemukan Icha, malah tanpa perencanaan sedikitpun adegan bersitatap yang berlangsung entah beberapa detik terjadi antara aku dan Mas Pemarah. Namun, seakan tersadar, Mas Pemarah itu memutus kontak. Aku merasa sedikit aneh, di daerah sekitar bawah paru bagian kanan, hati, mungkin.

Berhubungan dengan orang itu selalu saja membuatku seperti orang bodoh, saat ini aku kembali terasing entah berapa detik. Hingga disadarkan Icha yang melewati kursiku dan sengaja menyenggolnya. Menunjukan dengan endikan dagu ke arah pintu keluar. Ada mas-mas itu ternyata. Eh? Kapan dia lewat? Kan, harusnya lewatin aku dulu kalo mau ke pintu keluar? Secara aku dateng terakhir dan tersisa kursi paling dekat pintu.

Entah kemana perginya Lyra yang pendiam. Terdesak membuatku berani. Berani menghampiri mas-mas yang terlihat menuju parkiran. Sambil memanggil, atau mungkin lebih tepat disebut teriak. Entah berapa kali terulang, “Mas!” dari mulutku ini. Sedikit lagi menghasilkan kesejajaran langkah, aku terhenti. Mengamatinya yang menekan remot dan tak jauh di depannya mobil entah merek apa, yang kutahu terlihat bagus, membuatku enggan melangkah. Aku teringat sesuatu. Oh, ini mas mas yang awal banget jaman kuliah tetiba nyamperin dan ngajak balik bareng sambil mamerin mobilnya, kah? Huh! Songong, pikirku.

“Kamu manggila aku, Ra?” ucapnya tepat ketika membuka pintu mobil. Teringat tujuanku untuk bicara baik-baik, aku kembali mengatur emosi yang sempat tersulut akibat memori kesongongan orang di depanku ini.

“Rara?” ucapnya seakan bertanya. Aku kembali memungut kesabaran dan kesadaran, memusatkan perhatian padanya, bukannya masuk mobil, dia malah menutup pintu mobilnya dan berjalan mendekat hingga mungkin berjarak tiga langkah.

“Lyra Waefani,” usiknya, berusaha menarik perhatianku.

“Mas Tandi manggil aku apa?”

“Lyra Waefani?” ucapnya sedikit bertanya.

“Sebelum itu.”

“Ooh, Rara. Lyra Waefani, Rara. Itu panggilanmu kan?”

“Loh kok? Kok Mas….”

“… Mas bisa tahu?” potongnya sebelum aku selesai bertanya. Aku hanya mengangguk. “Mungkin kamu lupa siapa dan kenapa bisa kamu dipanggil Rara. Tapi, Mas enggak. Mungkin kamu juga lupa sejak kapan orang terdekatmu ikut memakai Rara untuk panggilanmu, tapi Mas enggak. Mungkin kamu juga lupa siapa Mas, tapi Mas enggak. Empat belas tahun mungkin cukup buat kamu nglupain semua kebersamaan kita dulu, tapi Mas enggak. Bahkan kamu juga melupakan pemberian Mas, padahal barang itu yang selalu nempel sama kamu. Kamu enggak pernah lupa sama jam yang mas kasih, dulu. Tapi satu semester ini Mas perhatikan, enggak sekalipun ada. Terakhir adalah saat kamu masih pakai seragam abu-abu putih, tepat sebelum berangkat ke Semarang. Tapi, Mas enggak pernah lupa buat pake jam ini,” ucapnya memberikan banyak penekanan di hampir semua kata dan diakhiri dengan menunjukkan jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.

Aku seakan terbangun dari mimpi panjang. Sedikit bingung dan sama sekali tak menyangka. Setelah bulat keputusan yang kuambil buat ngelupain orang yang pernah selalu kuharapkan, dia malah memaksa masuk dalam hidupku. Apa yang dia ucapkan seolah-olah membuat aku berada dalam pihak yang patut dipersalahkan.

“Mas Dipta?” ucapku lirih, meyakinkan diri sebenarnya. Mungkin teramat telat untik menanyakan nama. Orang di depanku yang ternyata Anggoro Pradipta ini menggeleng miris.

“Serius, Ra. Setengah tahun Mas selalu berputar di sekitarmu, bahkan nama aja kamu enggak tahu dan enggak mau tahu.”

“Maaf, Mas.”

“Mas belum selesai ngomong. Kamu pikir, Mas ini orang bodoh? Untuk ukuran mahasiswa tingkat akhir, mengulang kelas PLH yang nyatanya enggak perlu diulang karena udah AB, tanpa tujuan tertentu? Mas cuma mau bareng lagi sama kamu, Ra, kaya dulu.”

“Mas, maaf. Bukan maaf untuk aku yang melupakan semua tentang kita. Tapi maaf, mungkin memang sudah tak ada kita antara aku dan kamu, Mas.” Sekuat tenaga aku mengungkapkan apa yang berada di otak. Jangan sampai kalah dengan perasaan rindu. Rindu yang tak pernah terucap dan tergapai. Empat belas tahun, cukup percaya dia yang pindah rumah ikut orang tua dinas, aku percaya ada saatnya akan kembali. Namun, sekalipun tak ada kabar meskipun dititipkan pada hembusan angin malam.

Dia seakan menghilang dan aku yang terus meradang. Lelah membuatku pasrah. Aku bertekad mengakhirinya, kalau pun pantas disebut kisah. Bohong ketika aku bilang selesai. Itu hanya harapan. Harapan yang kutujukan pada hati yang terus berharap. Aku berharap hati ini mau sedikit patuh pada logikaku untuk selesai dalam merindu.

“Rara, Rara. Kamu lelah, pulang dan istirahat ya,” ucapnya jauh dari perkiraanku.

“Besok Mas sekeluarga mampir ke rumah, ketemu Ayah, dandan yang cantik ya,” sambungnya dan diakhiri usapan lembut di ubun-ubun. Aku diam saja, bodohnya, harusnya kutepis saja tangan kurang ajar itu. Tapi nyatanya, aku sendiri berkhianat, karena merasakan kenyamanan yang selama ini terasa hilang.

* * *

REVIEW & APRESIASI

Aksarayana

Ndoro Yayang

  • Ide 69%
  • Plot 50%
  • Setting 53%
  • Karakterisasi 65%
  • Poin Tambahan 70%

Satu kata untuk cerita karya Jajang satu ini, sederhana dan manis. Ndoro suka. Sayangnya tidak disokong dengan latar yang detail, penokohan yang wah atau plot yang memukau. Ndoro senyum-senyum sendiri baca ini.  Ah! Andai Jajang menulis lebih panjang sedikit dengan penjabaran detail tentang karakter Rara dan Dipta ini akan menarik dan Ndoro pasti akan tersenyum lebih lama.

Yayang Gian

Yayang Octa

  • Ide 50%
  • Plot 40%
  • 50%
  • 50%
  • Poin Tambahan 60%
Belajar tanda baca, ya, Jajang Sayang. Belajar juga memakai EBI yang benar. Lalu, enggak ada salahnya dilanjutkan dengan belajar bagaimana caranya bercerita. Menulis pada awalnya bisa saja untuk sekadar menuliskan apa yang ingin dikeluarkan dari kepala, tapi di tahap selanjutnya dia akan jadi craft–dia harus dipelajari agar penulis bisa membuat tulisan yang baik.

Cerita ini sederhana dengan dialog yang juga sederhana dan … konfliknya mana? Hiks. Plotnya juga perlu dirapikan. Tapi, Jajang Sayang, jangan menyerah, ya. Semua penulis melewati fase belajar, kok. Tenang saja. Jajang pun harus demikian. ^^

Total Apresiasi