Tiga: Leo (Bagian-1)

by | Jul 17, 2018 | Setoples Kenangan |

Namanya Leo. Aku bertemu dengannya di Kamis sore, pekan terakhir di November tahun itu, di ruang guru, karena berbuat kesalahan yang sama; memakai bawahan abu-abu untuk seragam batik. Aku memberikan alasan kalau rok putihku belum kering—dan Leo sepertinya menyontek alasan yang sama. Di awal semester tahun ajaran itu, sekolahku mengganti aturan seragam lengkap dengan menukar batik dengan motif baru. Hal itu sangat merepotkan karena aku bersekolah tinggal satu setengah tahun lagi di sini dan membeli baju seragam baru adalah hal terakhir yang aku inginkan. Seragam batik yang baru ini harus dipakai dengan bawahan putih pula. Ide siapapun ini, sungguh, sangat merepotkan karena rok putihku jadinya harus dipakai dua kali dalam seminggu; Senin dan Kamis.

“Kelas berapa?” tanyanya ketika kami berjalan keluar dari ruang guru dan dia menahan pintu untukku.

“Dua,” jawabku singkat.

“Oke,” sahutnya. “Gue IPA 3.”

“Ceweknya Rino, ya?”

“Bukan. Temen doang.”

“Oh. Oke.”

“Buat apa?” tanyaku.

Kami berhenti di depan ruang guru. Dia menatapku dan tersenyum kecil lalu menjawab, “Paling minggu depan lo ketemu gue lagi di sini.”

“Urusan rok putih?” tanyaku.

“Hmm … oke. Gue setuju.”

Dia pun berlalu.

Aku pernah melihatnya beberapa kali di selasar dan tidak peduli karena rata-rata semua anak IPA seperti itu; membawa buku di tangan dan selalu saja terlihat tergesa-gesa. Jadi aku berusaha untuk tidak mempedulikan mereka karena satu semester lagi, aku akan berubah seperti itu. Sebelum semuanya terjadi, aku ingin menikmati hidupku dulu.

Di jam istirahat, Rino mendekatiku dan bertanya tentang hukuman apa yang aku dapatkan karena melanggar aturan seragam sekolah.

“Enggak ada,” jawabku. “Cuma teguran doang. Kenapa?” Aku balik bertanya karena tahu kalau ada hal lain yang ingin dia tahu selain apa yang dia tanyakan.

“Kali lo perlu gue tunggu kalau hukuman lo harus dikerjain setelah jam pulang sekolah,” jawabnya.

“Oh, enggak kok. Enggak ada hukuman,” aku menegaskan sekali lagi. “Kalau gue melanggar sekali lagi, mungkin bakalan ada hukumannya, sih.”

Aku dan Rino baik-baik saja. Semua yang orang—dan Tante Rita—kuatirkan tentang hubungan kami sudah aku pangkas sehingga semua terlihat rapi. Kami berteman, cukup sampai di sini. Kami berteman dekat tapi aku tidak lagi datang ke rumahnya setiap pekan—kadang-kadang saja kalau dia mengundang dan aku mau. Setelah beberapa pekan berlalu, aku jadi paham bahwa yang dikuatirkan banyak orang—aku baru tahu kalau beberapa temannya juga mengkuatirkan hal yang sama dengan Tante Rita—bahwa aku akan suka padanya. Sesederhana itu kalau dilihat dari depan. Di belakangnya, ada banyak hal yang memberatkan, misalnya; aku bukan orang kaya yang bisa menyeimbangkan gaya hidup Rino (banyak yang menyangka aku dekat dengan Rino untuk mendapat semua fasilitas yang aku tidak punya, sialan), dia terlalu baik untukku, ada beberapa temannya yang suka padaku dan itu membuat Rino—yang selama ini menyembunyikan perasaannya jadi tidak enak karena sepertinya di antara pertemanan cowok itu ada kode etik untuk enggak suka dengan gebetan temanmu sendiri—memilih untuk menyimpan sendiri perasaannya padaku, dan yang terakhir, yang paling menyakitkan buatku; kami tidak cocok.

Tapi, kami masih mencoba untuk berteman sedekat yang kami bisa karena hanya itu yang tersisa. Mungkin juga ini yang paling baik karena ketika aku melihat dalam ke hatiku sendiri, aku tidak melihat ada yang lebih selain apa yang ada sekarang. Aku suka padanya hanya sebagai teman saja. Walaupun mungkin, ada di satu titik sepanjang pertemanan kami, aku ingin lebih dari itu karena dia punya semua yang aku inginkan ada dari cowok yang ingin aku jadikan pacar. Tapi, itu hanya jadi keinginan—dan keinginan tidak perlu selalu dijadikan kenyataan. Aku pernah bilang itu padanya dan dia tidak mengatakan apa-apa untuk menanggapinya. Kataku, “Gue suka banget sama lo tapi cuma mau temenan.” Dia terdiam lama dan setelah itu, semua kembali seperti sedia kala walaupun intensitasnya tidak lagi sama.

Setelah tidak terlalu dekat—tapi masih dekat—dengan Rino, aku mencoba untuk membuka diri. Bicara dan berusaha berteman dengan siapapun yang aku temui di sekolah. Leo salah satunya. Kami bertemu lagi di perpustakaan dan dia menunjukkan rak buku-buku novel sastra yang ketika aku pinjam salah satunya dan coba baca di rumah, mendadak otakku terasa beku. Kalimatnya rumit, bahasanya berbelit, tapi indah. Aku ingin meluaskan bahan bacaanku juga. Tidak bisa selamanya aku hanya membaca berulang-ulang komik yang ditinggalkan Arya untukku—walaupun sekarang, ketika aku mengingatnya, aku tidak lagi merasakan apapun yang sakit. Aku tidak bisa membohongi diriku kalau kadang aku merindukannya. Arya tidak pernah lagi mengirimkan surat dan aku membayangkan akan menemukan amplop dengan perangko Singapur lagi di meja belajarku. Itu tidak pernah jadi kenyataan—setidaknya tidak dalam waktu dekat.

Aku bertemu Leo lagi di kantin dan dia mengatakan bahwa lontong isi di kantin paling ujung lebih enak dibanding yang lain.

“Gue bersumpah untuk itu,” katanya.

Aku pun mengikuti sarannya untuk membeli lontong di sana dan setuju  padanya di kunyahan pertama.

Lalu, aku bertemu lagi di depan gerbang sekolah. Setelah aku menolak ajakan Rino untuk diantarkan pulang dengan mobilnya dan lebih memilih untuk naik angkot saja karena hari itu, aku juga berencana untuk pergi membeli perlengkapan sekolah.

“Ke arah mana?” tanya Leo.

Aku menunjuk dengan tangan kananku.

“Hmm … bisa bareng, dong,” ujarnya. “Angkotnya sama, kan?”

Aku mengangguk.

Aku pun membiarkan dia berdiri di sampingku ketika menunggu angkot. Dia tidak banyak bicara. Terkadang, aku melihat dia membuka-buka buku besar yang ada di tangannya—aku mengitip sebentar dan tahu kalau itu buku biologi.

“Ulangan?” tanyaku.

“Iya, besok,” jawabnya.

“Susah?”

“Enggak.”

“Terus?”

“Harus benar semua.”

“Kenapa?”

“Biar dapat seratus.”

“Oke. Alasannya masuk akal,” kataku sambil tersenyum.

“Bagaimana kalau alasannya ini,” ujarnya. Dia menutup buku yang dia pegang dan menoleh ke arahku, “Bagaimana kalau gue mau jadi guru biologi.”

“Guru?” tanyaku.

“Iya,” tegasnya.

“Boleh juga.”

Lalu angkot yang kami tunggu datang dan dia mempersilakanku naik lebih dulu. Angkot itu penuh dengan murid sekolah kami tapi kebanyakan dari mereka hanya aku kenal wajahnya tanpa tahu nama dan cerita di balik wajah itu.

Leo turun lebih dulu. Dia melambaikan tangannya ketika angkot melaju meninggalkannya dan aku masih juga melihat ke arahnya sambil membayangkan bahwa cowok berkacamata dengan rambut acak-acakan yang aku lihat itu akan jadi guru biologi suatu saat nanti. Kalau dilihat dari penampilannya, dia lebih cocok jadi pelukis atau penulisHari itu, aku tidak tahu mengapa, tapi aku senang sekali. Aku pun menunggu hari esok dan berharap bertemu lagi dengannya, terserah, di mana saja. Aku hanya ingin bertemu dengannya.

* * *