Tiga: Leo (Bagian-2)

by | Jul 25, 2018 | Setoples Kenangan |

Leo punya bekas luka di lehernya yang ketika aku tanyakan, katanya itu sisa dari operasi kelenjar getah bening. Aku melihat bekas luka itu seperti ranting yang mencengkeram bagian kanan lehernya, tersembunyi di balik kerah bajunya.

“Masih sakit?” tanyaku.

“Enggak,” jawabnya, “ini sudah beberapa tahun yang lalu. Kalau luka hati, biar pun bertahun-tahun, bakalan masih sakit kali, ya?”

Aku tahu dia mencoba menggodaku karena itu aku tidak menyahut lagi. Kembali membaca halaman novel yang sedang terbuka di hadapanku. Tapi aku sudah tidak bisa lagi berkonsentrasi. Beberapa menit lalu, Rino lewat di depan perpustakaan dengan seorang cewek anak kelas 1 dan ini bukan kali yang pertama. Aku berusaha tidak memikirkan itu tapi pikiran itu seperti makhluk yang mustahil dijinakkan; mau disuruh seperti apapun, dia akan mengerjakan apa yang dia mau. Sekarang pikiranku sedang bersenang-senang dengan sisa ingatanku tentang Rino.

“Gue bantuin rapiin buku di sini tiap Selasa sama Kamis,” ujar Leo setelah lama sekali kami terdiam dan dia sepertinya tahu kalau aku sedang membaca. Mataku kosong menatap ke luar perpustakaan, menembus jendela, dan menyeberangi lapangan basket. Berhenti di segerombolan anak-anak kelas 3 yang sedang bermain melawan anak kelas 1—sepertinya. Leo melanjutkan lagi, “Kali lo mau ikutan kegiatan gue yang banyak manfaatnya bagi dunia literasi ini.

Aku terkejut.

“Apa?” tanyaku. “Dunia literasi apa?”

Leo menatapku beberapa lama lalu menggeleng pelan. “Lo beneran enggak di sini, ya?”

“Iya,” jawabku terus-terang karena berbohong juga sudah tidak ada gunanya.

“Lo daftar jadi penjaga perpustakaan ini, coba,” katanya setelah yakin aku memperhatikan apa yang dia ucapkan, “Lo bisa ambil kerjaan buat rapi-rapiin buku, ngembaliin buku ke rak, yah … yang semacam itu.”

“Oke,” jawabku tanpa menanyakan lebih jauh lagi karena aku tidak tahu harus menanyakan apa dan—ini yang paling penting—aku tidak ingin pembicaraan tentang penjaga perpustakaan ini diteruskan.

Siang itu, aku tidak melihat Leo di tempat biasa kami menunggu angkot. Keesokan harinya juga. Aku baru bertemu lagi dengannya di hari Jum’at dan itu pun karena dia menaiki angkot dengan cepat dan duduk di sebelahku.

“Kemarin ke mana?” tanyaku.

Aku melihat buku besar yang dia bawa. Kali ini Fisika dan Matematika. Mungkin buku itu terlalu berat kalau harus dimasukkan ke dalam tas sehingga dia merasa perlu untuk membagi muatan buku yang dia bawa.

“Bimbel,” jawabnya. “Nyariin, ya? Kangen bareng pulangnya?”

Aku merengut bukan karena marah, tapi karena jawabannya memang benar. Aku mencarinya dan aku juga merasa kehilangan ketika dia tidak ada dan kami tidak pulang bersama.

“Semacam itu,” jawabku.

“Semacam itu bisa diartikan hampir sama, loh,” katanya berusaha bercanda sambil tersenyum lebar, “Jadi, hampir sama atau persis sama? Kalau hampir sama, bagian mananya yang agak beda?”

Aku ikut tersenyum—karena senyumnya sungguh mudah menular—dan menjawab, “Hampir sama. Bedanya, kemarin gue masih mikir kalau lo enggak senyebelin ini. Ternyata lo nyebelin. Itu doang bedanya.”

“Gue nyebelin?” tanyanya.

“Iya,” jawabku.

“Tapi ngangenin?” tanyanya lagi. Sekarang wajahnya berubah serius.

“Sedikit.”

“Oke. Bagus.”

“Bagus?” aku balik bertanya.

“Iya, bagus. Soalnya gue juga ngerasa begitu,” jawabnya.

“Ngerasa apa? Kangen?”

“Bukan,” jawabnya, “ngerasa kalau lo nyebelin.”

Aku menyikut samping perutnya dan dia mengaduh.

* * *

Menjadi anak SMA lebih sulit dari yang aku pikirkan awalnya. Di kelas 3, aku sudah harus punya rencana untuk melanjutkan ke mana. Ini bagian yang paling sulit karena gelap sekali. Untuk beberapa orang yang punya bakat di bidang tertentu, okelah, mereka bisa melanjutkan sesuai dengan bakat mereka. Tapi, bagaimana dengan orang sepertiku yang tidak tahu harus melakukan apa di masa depan? Keputusan untuk mengambil jurusan ini harus final kurang dari setahun agar aku tahu apa-apa saja yang perlu disiapkan. Mau yang lebih buruk lagi? Umurku belum tujuh belas dan aku sudah harus memutuskan masa depanku seperti apa.

Beberapa kali aku bertemu dengan orang yang bahkan setelah berumur tiga puluh tahun, belum yakin dengan apa yang mereka lakukan. Pindah pekerjaan beberapa kali, mencoba alih profesi beberapa kali, bahkan mencoba sekolah lagi bukan untuk menambah keahlian, tapi hanya karena mereka tidak juga tahu apa yang harus dilakukan. Di usia itu, sebaiknya aku sudah punya pekerjaan dengan penghasilan yang baik karena tuntutannya memang demikian. Lalu, menemukan jodoh. Lalu menikah. Punya anak…. Semua ini membuatku frustasi.

Tapi, tidak sepertinya dengan Leo.

Aku bertemu lagi dengannya ketika membeli lontong di kantin—di tempat yang dia rekomendasikan—dan dia sedang makan bakso sambil mengerjakan buku kumpulan soal Bahasa Inggris. Aku duduk di sebelahnya dan mencoba mengajaknya bicara di tengah kantin yang ributnya bukan main. Beberapa kali aku harus menaikkan volume suaraku dan melakukan gerakan tangan agar Leo paham apa yang aku maksudkan.

“Kenapa, sih, lo belajar di tempat berisik kayak gini? Enggak keganggu apa?” tanyaku.

“Ini cuma ngisi-ngisi doang, kok,” jawabnya. “Gampang.”

Gampang, katanya.

“Lo beneran mau jadi guru biologi?” tanyaku.

Leo tertawa. “Lo percaya?”

Aku menggeleng. “Enggak.”

“Kenapa?” tanyanya menuntut penjelasan.

“Lo enggak keliatan kayak orang yang punya cita-cita buat ‘hanya’ jadi guru.” Kemudian aku menjelaskan bahwa profesi guru itu sangat baik tapi rasanya, kalau aku melihatnya sekarang, dia lebih kelihatan seperti orang yang ingin mengejar cita-cita yang lebih besar.

“Itu serius,” jawabnya, “gue pengen jadi guru biologi. Kalo lo?”

I don’t know,” jawabku, jujur. “Tukang kue, mungkin.” Sambil menjawab, aku mengingat betapa aku sekarang sudah sangat terlatih membungkus kue-kue yang akan dijual ibuku. Aku bahkan bisa membuat bronis yang sama enaknya dengan buatan ibuku karena seringnya aku membantu.

“Itu juga cita-cita bagus, kok,” katanya lagi. Dia lalu beralih memandangi buku yang sedang dia isi. Aku lalu memikirkan hal itu sampai sekarang; aku ini mau jadi apa? Hidupku mau dihabiskan untuk apa?

Pertanyaan itu lalu semakin dalam dan membutuhkan jawaban lebih dari sekadar ‘cita-citamu apa’, tapi sudah jadi pertanyaan tentang eksistensialisme. Aku memikirkannya sampai beberapa minggu. Otakku penuh dengan itu sampai di suatu pagi, aku mendapat gosip dari seorang cewek di kelas kalau Rino jadian dengan anak kelas 1.

Lalu pikiran tentang cita-cita itu pun buyar. Berganti dengan rasa sakit yang tidak aku pahami kenapa harus ada sampai beberapa hari kemudian. Setelah itu, aku pun menenggelamkan diri dengan urusan tugas dan pelajaran sekolah sambil memikirkan jurusan kuliah.

Di hari Selasa, ketika aku membantu membereskan buku di perpustakaan, Leo berkata bahwa seharusnya masa depan itu bukan tempat untuk kita berlari dan menyembunyikan diri.

Aku bertanya, “Apa yang bikin lo lari?”

“Patah hati,” jawabnya.

“Lo patah hati?” tanyaku.

“Apa gue belum cukup umur untuk patah hati?” dia balik bertanya.

“Berapa kali?” aku kembali bertanya tanpa memberi jawaban atas pertanyaannya.

“Satu,” jawabnya.

“Beruntung. Gue dua.”

“Ah, mungkin lo bisa nambahin jadi dua,” ujarnya.

Aku lalu tertawa. Menutupi grogi.

* * *