Tiga: Leo (Bagian-3)

by | Aug 1, 2018 | Setoples Kenangan |

Aku mendengar suara langkah kakinya ketika dia berlari mendekati pintu UKS siang itu. Mataku masih nanar, bibirku terasa pedih, dan mencoba duduk di di tempat tidur ini membuatku menyadari kalau kepalaku juga rasanya sakit. Aku memegang bagian belakang kepalaku dan menyadari kalau ada sedikit benjol di sana.

“Enggak apa-apa?!” tanyanya dengan napas terengah-engah. Dia berdiri di sampingku yang masih mencoba untuk duduk tanpa harus tumbang lagi—sebelum ini, aku sudah tumbang dua kali. Dia memperhatikan bibirku, lalu memegang puncak kepalaku.

“Bukan di situ, di belakang,” ujarku sambil menunjuk bagian belakang kepalaku. “Itu juga cuma benjol.”

“Muka lo kebaret aspal setengahnya,” katanya. Dia sekarang mendekatkan wajahnya ke pipi bagian kananku. “Kalau udah kering, cakep, nih. Garis-garis. Bermotif.”

Aku tidak menyahut lagi dan Leo juga tidak membuat lelucon apa pun lagi.

“Di mana?” Dia lalu bertanya.

“Di gang belakang sekolah,” jawabku.

“Kenapa lo lewat situ?”

“Gue udah telat.”

“Di situ, kan, emang sepi. Ceritain, coba,” pintanya.

“Gue … gue bahkan enggak terlalu ingat.”

Leo menarik bangku kayu ke samping tempat tidur dan memegang tangan kananku. Dia menggenggamnya dan aku membiarkannya saja karena genggaman itu sepertinya memang aku butuhkan sekarang. Aku tidak ingin merasa sendirian. Setelah dokter yang berjaga di UKS sekolah ini pergi dan mengatakan kalau lukaku tidak ada yang serius, aku pun menyadari bahwa ada luka lain yang tidak dia cek.

“Lo dipegang-pegang?” tanyanya pelan.

Aku mengangguk. “Kemeja gue robek.” Aku menunjukkan bagian kanan kemejaku yang koyak mengikuti jahitannya. Memperlihatkan bagian pinggang dan bagian bawah dadaku. Aku masih memakai kaus dalam sehingga kulitku tidak langsung kelihatan. “Gue ditarik.”

“Itu masih jam tujuh pagi!” katanya dengan emosi mulai memuncak.

“Jam tujuh lewat,” ralatku.

“Mereka pasti baru pulang dari … entahlah.”

“Sepertinya begitu.”

Leo memperhatikan lagi bibirku. Aku merasa agak basah di sana. Mungkin ada darah lagi yang keluar karena ketika bicara, aku sengaja menjilatinya.

“Sakit?” tanyanya.

“Sepatu gue hilang sebelah,” jawabku—yang aku tahu, bukan jawaban yang dia inginkan. Aku tidak tahu lagi harus menjawab apa.

“Nanti gue anterin pulang.”

“Oke.”

Dia menggenggam tanganku lebih erat lagi dan aku menangis.

* * *

Siang hari setelah kejadian itu, aku tahu kalau Rino mencariku. Dia datang ke UKS dan aku tidak ada di sana. Teman sebangkuku melaporkan hal itu padaku setelah aku masuk sekolah kembali beberapa hari kemudian dan aku sama sekali tidak peduli. Leo mengantarkanku pulang siang itu dengan taksi dan menceritakan kejadiannya pada ibuku—dengan beberapa sensor di sana-sini atas permintaanku. Aku tidak ingin ibuku terlalu mencemaskanku. Leo mau melakukan itu dengan syarat; aku memberitahu dia semua yang terjadi tanpa ada yang dilewatkan sedikit pun. Aku menyetujuinya. Setiap pulang sekolah, dia datang dan menemaniku yang sudah semakin baik. Luka di wajah sebelah kananku—persis seperti katanya siang itu—akan meninggalkan motif kalau sudah kering.

Aku menceritakan semuanya. Tentang segerombolan cowok yang berpapasan denganku di gang kecil di belakang sekolah. Aku kesiangan pagi itu dan memilih untuk memotong lewat belakang karena lebih cepat. Sekolah kami ada di dalam gang dan bukan di tepi jalan. Lewat jalan besar di depan sekolah yang jadi akses utama terlalu jauh untuk ditempuh, begitu hitunganku. Sebelumnya, aku sering melewati gang kecil ini dan tidak terjadi apapun. Pagi itu, salah satu dari mereka menarik tanganku, menghempasakanku ke tembok berlumut yang menjadi pembatas antara sekolah dan kebun milih warga. Lalu tangan-tangan mereka—aku bahkan tidak ingat lagi berapa banyak tangan—mulai menggerayangiku. Ketika aku memberontak, mereka melemparkanku ke tanah. Kepala bagian belakangku terbentur. Aku mencoba kabur. Sepatuku terlepas sebelah.

Mereka masih mengejar. Aku mencoba melepaskan diri. Satu-satunya yang tidak aku lakukan—dan aku tidak ingat mengapa aku tidak bisa melakukannya—adalah berteriak. Aku terdiam dan ketakutan. Aku hanya ingin kabur dan lepas. Itu saja. Aku masih bisa merasakan ada tangan yang menarik kakiku, lalu pergelangan tanganku. Aku juga merasakan tangan-tangan di tempat lain di sekujur tubuhku. Aku berusaha lepas dan berlari sekencang yang aku bisa. Sampai di depan jalan besar, aku tersungkur ke aspal. Ketika aku melihat ke belakang, mereka sudah tidak ada. Hanya ada tasku yang terlempar, sebelah sepatuku, dan rasa sakit di wajahku ketika aku jatuh dan bagian kanannya menghantam aspal. Seorang murid yang sama terlambatnya denganku mencoba menolong. Lalu datang lebih banyak orang lagi. Aku pun dibawa ke UKS. Setelah itu, aku ditanya beberapa orang guru. Salah satu dari mereka mengatakan bahwa gerombolan laki-laki itu bukan penduduk sini. Jadi ada kemungkinan mereka tidak akan ditemukan. Aku juga tidak bisa menggambarkan wajah mereka dengan seksama—aku sudah tidak mengingatnya lagi.

Tapi aku mengingat detail kecil ketika Leo menungguku makan sambil sambil duduk bersila di lantai sore itu.

“Salah satu dari mereka … rasanya, pernah gue liat di Warung Pak Min,” kataku.

“Warung Pak Min? Yang jual mie ayam depan sekolah itu, kan?” tanyanya memastikan.

“Iya. Emang lo enggak suka ke sana?” aku balik bertanya.

“Enggak,” jawabnya. “Itu tempat nongkrong anak-anak gaul sekolah. Setahu gue, sih, enggak cuma anak sekolah sini aja.”

Dia kelihatan berpikir. Sementara aku mencoba mengingat hal lain tentang orang itu.

“Rino suka nongkrong di situ,” ujarnya kemudian.

“Gue pernah dibawa Rino nongkrong di situ, sebentar doang,” kataku. “Terus….”

“Terus?” Leo terlihat tidak sabaran dengan kalimatku yang tidak aku selesaikan.

“Rino bilang, cowok-cowok itu suka sama gue.”

“Cowok-cowok?”

“Yaaa … gue enggak tahu cowok yang mana.”

“Cowok yang nongkrong di sana?”

“Gue enggak tahu.”

“Oke.”

“Oke apa?” tanyaku penasaran.

“Gue tanya Rino. Lo masih inget ciri-cirinya, kan?”

Aku menggeleng.

“Sedikit aja?”

Aku menggeleng lagi. Lalu kami terdiam lama dan aku berusaha menghabiskan ikan goreng yang masih tersisa setengahnya di piringku sementara nasinya sudah habis.

“Gue enggak mau inget itu lagi,” kataku setelah ikan itu aku habiskan. “Rasanya sakit.”

“Gue tahu,” kata Leo.

Malamnya, aku tidak bisa tidur. Menjelang jam sebelas malam, aku berjingkat keluar kamar dan menelepon Leo. Memberitahukan ciri-ciri yang aku ingat. Wajahnya yang panjang, matanya yang sedikit sipit, kulitnya yang terang, dan kaos birunya yang bergambar grup band Metallica.

Beberapa hari setelah aku masuk sekolah, Rino mendekatiku di kelas ketika aku baru saja ingin keluar. Ada Leo di sampingnya—dan ini membuatku heran. Mereka mengajakku ke Warung Pak Min. Aku menolak. Aku ingin cepat pulang. Tapi Leo menggandeng tanganku dan bilang kalau semua akan baik-baik saja. Aku pun setuju mengikuti mereka. Sampai di sana, aku melihat beberapa cowok terduduk di bagian belakang warung. Di sebelah ember-ember berisi air kotor yang dipakai Pak Min untuk mencuci mangkok dan gelas.

Aku mengenali mereka walaupun ingatan itu tidak lagi setajam pekan lalu. Salah seorang dari mereka mengatakan maaf dengan suara pelan sekali. Aku hampir menangis. Leo memegang tanganku lebih erat. Aku melepaskan tangan Leo dan mengambil satu ember dan menyiram mereka semua. Setelah itu, aku pergi dari sana. Berjalan cepat tanpa melihat ke belakang lagi. Leo mengikuti sambil setengah berlari. Aku masih bisa melihat dengan sudut mataku kalau Rino juga mengikutiku tapi langkahnya terhenti ketika dia melihat Leo lebih cepat.

Ada rasa aneh yang aku tidak pahami sampai beberapa tahun kemudian; dendam seperti itu tidak bisa dibayarkan. Belasan ember air kotor yang aku siramkan ke kepala mereka tidak akan bisa melunasi takut dan gentar rasa yang tersisa setelah kejadian itu. Aku baru pahami bahwa ada hal yang dilakukan orang-orang padamu dan itu akan merubahmu walaupun tidak meninggalkan bekas luka sama sekali di tubuhmu. Tapi kamu melihat bekas yang lain. Seolah tangan mereka itu punya cat basah, berwarna-warni, yang ketika mereka memegangmu, cat itu meninggalkan bekas di tubuhmu. Sayangnya, hanya kamu sendiri yang bisa melihat warna-warni itu.

Tapi, aku juga mengingat kata-kata Leo siang itu, “Mereka harus diberi pelajaran.”

“… atas pelajaran yang mereka kasih ke gue tanpa gue minta,” sambungku.

* * *