Tiga: Leo (Bagian-4)

by | Aug 7, 2018 | Setoples Kenangan | 0 comments

Beberapa kali aku dipanggil ke ruang BP untuk menceritakan kejadian itu dan setiap kali juga, aku meminta Leo menemaniku. Aku selalu dipanggil setelah jam sekolah usai dan Leo akan menunggu di luar ruangan, duduk bersila di lantai karena di sana tidak disediakan bangku. Dia akan mengerjakan soal-soal latihan atau membaca. Hari ini, dia mengerjakan soal matematika dan ketika aku keluar, sepertinya dia sudah mengerjakan belasan soal karena wajahnya terlihat kusut sekali.

“Integral atau diferensial?” tanyaku sambil membetulkan letak tali tas di bahuku.

“Keduanya,” jawabnya.

“Sulit?”

“Enggak,” jawabnya cepat sebelum bertanya lagi, “Jadi gimana?”

Aku terdiam sebentar. Kami berjalan melewati selasar kelas yang sudah sepi. Di lapangan basket nampak ada beberapa anak yang masih bermain. Kami berjalan pelan. Seolah ingin menyamakan kecepatan langkah kaki dengan bola basket yang di-dribble oleh salah seorang anak kelas tiga di bagian tepi lapangan itu. Aku mengenali wajah anak itu karena sering melihatnya di kantin.

“Enggak ada yang baru,” jawabku, “pelakunya akan dicari.”

“Terus?”

“Gue enggak bilang yang lain lagi. Gue berusaha biar masalah ini cepat kelar. Lagian…,” aku terhenti karena melihat bola basket itu masuk ke keranjang di lemparan pertama. Aku pun melanjutkan, “Lagian, gue enggak mau nyeret yang lain.”

Beberapa hari setelah kejadian di warung Pak Min, ada yang melaporkan kalau Rino dan gerombolannya memukuli beberapa orang remaja—yang untungnya, tidak pernah diidentifikasi siapa mereka—sampai babak-belur. Guru BP mencari tahu hubungan kejadian ini dengan apa yang menimpaku. Kami sepakat untuk saling melindungi. Aku menelepon Rino beberapa hari setelah kejadian itu dan kami sepakat untuk tidak melibatkan sekolah. Masalahnya, aku hanya menyiramkan air kotor ke kepala mereka. Rino dan gerombolannya yang memukuli mereka. Aku tidak melihat dengan jelas kejadian itu karena setelah puas dengan mereka, aku pun pergi ditemani Leo.

“Jadi, ini rahasia kita,” ujar Leo.

“Ini rahasia kita,” ulangku.

Hubunganku dengan Rino tidak membaik setelah itu. Kami masih kaku kalau bertemu di sekolah dan aku pun makin dekat dengan Leo. Setidaknya, aku sudah mengucapkan terima kasih karena dia sudah menemukan orang-orang itu dan dia juga berterimakasih karena sudah merahasiakan ini semua.

Bulan-bulan berikutnya berjalan lebih baik dari yang aku bayangkan; pulang sekolah berdua dengan Leo, kadang dia datang dan mengerjakan tugas di rumahku, atau di Minggu sore, kami keluar untuk makan. Tenang dan menyenangkan. Banyak yang menyangka kalau kami pacaran dan sepertinya, memang begitu kelihatannya. Tapi aku sudah berkali-kali katakan pada Leo kalau aku tidak berminat sama sekali dengan hubungan yang punya label seperti itu. Aku ingin dia ada, tapi aku enggak ingin semua ini diberi label.

“Apa bedanya dengan dan tanpa label?” tanya Leo sore itu, ketika kami makan bakso di perempatan jalan menjelang malam. “Orang bakalan nyangka kita pacaran, kok. Kita deket kayak gini.”

Aku meminum jus jeruk beberapa teguk untuk menghilangkan pedas sebelum menjawab, “Terserah apa kata orang tapi gue enggak mau kita harus mengurus tentang ‘jadian’ dan ‘putus’ nantinya. Udahlah. Begini aja.”

“Ini enggak ada hubungannya sama perasaan?” tanyanya lagi.

“Karena ini ada urusannya dengan perasaan, makanya gue enggak mau ini dibawa-bawa dengan segala rupa label. Kita begini aja. Kita temenan aja. Lagian kita masih sekolah,” jawabku.

“Karena masih sekolah?” tanyanya heran.

“Iya,” jawabku. “Gue enggak mau lo macarin gue pake uang saku yang dikasih sama orangtua lo.”

“Oke,” ujarnya kemudian. “Gue enggak begitu paham maksud lo tapi gue tahu kalau sebenarnya, lo cuma enggak suka kerumitan yang dibawa sama hubungan cinta dan pacaran itu, kan?”

Suaranya terdengar seperti menuduh. Aku masih ingat sampai sekarang karena setiap kali dia mencoba untuk memahami apa yang aku sampaikan di tahun-tahun berikutnya, nada suaranya akan terdengar seperti itu—terdengar seperti menuduh padahal tidak.

“Bukan,” jawabku. “Gue cuma enggak mau ini berantakan karena label itu datang dengan daftar apa-apa yang harus dan enggak bisa kita lakukan. Gue mau kita begini-begini aja.”

Beberapa tahun setelahnya, aku baru menemukan istilah untuk hubungan seperti ini; teman tapi mesra. Ini pun rasanya kurang tepat karena kami tidak mesra juga.Tidak ada hubungan fisik apapun. Ada istilah lain yang mungkin lebih tepat; hubungan tanpa status. Tapi ini pun tidak tepat karena status kami berteman dan aku tahu—sampai sekarang pun aku tahu—kalau aku selalu punya perasaan lebih padanya dan dia pun begitu.

Aku bertemu dengannya terakhir di sekolah ketika sedang aku mengumpulkan seragam bekas untuk adik kelas yang baru masuk ke sekolah kami. Rino, yang ketika itu jadi Ketua OSIS membuat aturan agar kegiatan corat-coret seragam sekolah dilarang dan baju seragam bekas disumbangkan ke sekolah dan diatur distribusinya oleh OSIS. Aku membantu melipat dan memisahkan seragam-seragam itu berdasarkan ukuran. Guru-guru menyetujui dan sangat mendukung ide Rino dan dia jadi lebih populer dibanding sebelumnya. Seandainya tidak ada aturan agar anak kelas tiga tidak memegang kepengurusan organisasi sekolah, pasti Rino akan terpilih lagi jadi ketua OSIS.

“Gue cuma bawa dua karena yang putih abu-abu udah lecek banget penampakannya,” kata Leo sambil menyerahkan plastik hitam berisi seragam bekas kepadaku. Aku meletakkannya di meja bersama tumpukan lain.

“Jadi?” tanyaku.

“Jadi apa?” dia balik bertanya.

“Ke mana?”

“Oh, itu,” dia lalu tersenyum. “Bogor kayaknya.”

“Kita bakalan susah ketemu,” ujarku kemudian.

“Sepertinya begitu,” jawab  Leo menyetujuiku.

Dia masuk kampus negeri di Bogor lewat jalur PMDK. Jurusan Biologi, seperti yang dia inginkan. Mengurangi kerumitan hidup dengan tidak ikut SPMB dan tes masuk yang lain. Dia tahu apa yang dia mau dan dia tahu bagaimana cara mendapatkannya. Sampai sekarang pun, Leo masih seperti itu. Hanya saja, waktu itu, dia belum tahu kalau dia akan jadi lebih dari yang dia bayangkan. Ketika aku menceritakan ini, dia jadi berkali-kali lebih baik dari yang dia inginkan. Seolah dia menginginkan nilai tujuh tapi hidup dan segala kebaikannya memberikan dia sembilan.

“Tapi kereta dari Bogor ke Jakarta ada setiap hari,” lanjutnya.

“Berkali-kali dalam sehari,” ujarku.

Leo tersenyum.

“Kita akan naik kereta,” katanya.

Kami memang banyak menaiki kereta di tahun setelahnya.

* * *