Tiga: Leo (Bagian-5)

by | Aug 14, 2018 | Setoples Kenangan | 0 comments

Awalnya mudah.

Leo akan datang ke Jakarta, berkereta di Sabtu atau Minggu. Lalu kami menghabiskan waktu sampai sore, jalan-jalan, duduk di kafe, atau di rumahku. Pernah suatu kali, aku yang datang ke Bogor dan dia menjemputku di stasiun. Kami lalu ke Kebun Raya Bogor. Tidak ada yang benar-benar kami lihat di sana selain pohon besar dan Istana Bogor dengan kolam teratai di depannya. Kebanyakan waktu dan perhatianku terpusat pada Leo yang menceritakan tentang kegiatan baru dan kuliahnya.

Tapi awalnya juga sulit.

Aku membiasakan diri untuk tidak berharap akan bertemu dengannya di sekolah—kebiasaan yang sudah berjalan lebih satu semester. Aku akan datang ke kantin di jam istirahat dan tidak menemukan dia di sana makan gorengan sambil mengisi lembar tugas siswa. Aku juga pulang naik angkot sendirian setiap hari.

Kadang dia meneleponku. Tapi kebanyakan hari berlalu tanpa aku tahu kabar darinya. Lama-kelamaan, aku biasa dengan itu semua. Aku mulai pulang dengan beberapa siswa yang—setelah lebih dua tahun bersekolah di sini—aku baru tahu kalau rumah mereka satu jalan denganku. Tapi aku belum bisa juga bicara banyak selama di angkot. Aku lebih banyak melihat ke luar jendela atau memandangi buku yang sengaja aku buka di pangkuanku.

Masuk bulan ketiga, kunjungan ke Jakarta atau ke Bogor mulai berkurang. Anehnya, aku merasa itu tidak mengapa. Aku tidak memaksa Leo untuk datang ke sini, tidak seperti bulan-bulan awal dia ada di sana. Aku juga tidak meminta Leo untuk menceritakan lebih banyak tentang kegiatannya. Kalau bertemu, kami lebih banyak bercerita tentang hal-hal remeh yang tidak menarik atau terdiam.

Suatu hari, ketika aku sedang mengerjakan PR fisika, dia meneleponku. Bertanya apa aku rindu padanya.

“Gue kangen,” jawabku, “tapi PR gue banyak, sori.” Aku menjawab sekasual mungkin karena bisa jadi dia hanya bertanya dan tidak merasakan itu. Dia hanya ingin tahu keadaanku saja.

“Oke,” ujarnya kemudian. Aku mendengar suara kendaraan lewat dan klakson mobil. Bisa jadi, dia tidak menelepon di wartel seperti biasanya. Dia pun membenarkan itu ketika aku bertanya, “Iya, di telepon koin deket asrama.”

Tahun pertama kuliah di sana, dia harus tinggal di asrama. Aturan yang ternyata dia suka—anehnya.

“Gue enggak ke Jakarta, ya, weekend ini,” katanya lagi. “Mau ada kegiatan di kampus.”

“Oke,” jawabku.

“Enggak apa?”

“Enggak apa-apa, kok,” jawabku.

“Minggu depan lo ke Bogor, dong,” pintanya.

Aku berpikir sebentar sebelum menjawab, “Kayaknya gue enggak bisa karena itu pekan mid-semester. Gue harus belajar.”

“Oke,” jawabnya. “Gue mid-semester juga, sih.”

“Enggak apa?” tanyaku.

“Enggak apa-apa, kok,” jawabnya. “Abis itu kita ketemu?”

“Abis itu kita ketemu,” ulangku dengan nada yang berbeda dengannya.

Tapi, itu hanya janji yang lewat begitu saja. Pekan depannya, kami tidak bertemu. Tidak ada kabar. Lalu pekan depannya lagi, dia mengabarkan kalau dia ada kegiatan lain lagi di kampus. Kemudian, sebulan berlalu tanpa kabar. Aku pun tidak berusaha mencarinya karena aku tidak ingin. Aku memang kadang ingin bicara dengannya, tapi tidak terlalu ingin juga.

Di akhir semester, dia meneleponku. Lama. Membicarakan tentang banyak hal—tapi tidak menyinggung apapun tentang hubungan kami yang makin merenggang. Di tengah pembicaraan itu, aku pun bertanya padanya.

“Jadi, siapa namanya?”

“Nama?” tanyanya bingung—atau sengaja terdengar bingung.

“Lo pasti udah nemu kecengan baru, kan?” tanyaku sambil tertawa kecil.

“Ah….” Dia hanya mengatakan itu tanpa melanjutkan.

“Kita enggak punya label,” kataku.

“Itu artinya kita sama-sama single. Free,” sambungnya.

“Iya, sayangnya begitu.”

Dia lalu tertawa. Aku pun menunggu dia mengatakan sesuatu setelah tawanya mereda.

“Lo gimana?” dia bertanya.

“Gue sibuk sama persiapan SPMB,” jawabku. “Enggak ada waktu untuk yang kayak gitu, sayangnya.”

“Mungkin kita seharusnya punya label,” ujarnya. “Jadi kita tahu ekspektasi masing-masing.”

“Gue enggak punya ekspektasi, sih. Udah. Begini aja,” kataku. “Lagian, bukan ini yang gue kejar sekarang. Gue suka sama lo, tapi begitu aja. Sekarang gue pengen hal yang lebih besar.”

“Apa hal yang lebih besar dari gue?” tanyanya.

Aku menyebutkan nama kampus yang dekat dari rumah dan jadi tujuan favorit anak-anak dari sekolahku untuk melanjutkan pendidikannya.

“Oke,” katanya, “itu ada di jalur kereta.”

Aku terdiam beberapa saat. Memang kampus yang aku ingin itu ada di jalur kereta yang sama dengan jalur kereta menuju ke kampusnya.

“Harusnya kita punya label,” katanya, “ini semua bisa diurus dan diatur.”

“Gue enggak mau label,” kataku dengan suara tenang. Aku merasa ada sesuatu yang menguar di antara kami karena renggang yang ada dan tidak pernah diusahakan untuk dirapatkan kembali.

“Namanya Dina,” jawabnya. “Anak Fisika.”

Aku menatap tumpukan buku fisikaku di atas meja.

“Lo suka sama dia?” tanyaku.

“Mungkin baru. Belum beneran suka.”

Itu telepon terakhir aku dan Leo. Setelah itu, berbulan-bulan, dia tidak meneleponku lagi. Aku pun tidak pernah bertemu lagi dengannya. Sampai ketika menjelang kelulusan, dia datang ke rumahku, di suatu sore, begitu saja. Mengantarkan undangan.

“Ini beneran?” tanyaku.

Dia mengangguk. Aku bisa melihat dia yakin. Tapi aku juga bisa melihat dia berubah. Penampilannya, raut wajahnya, cara bicaranya, bagaimana dia menatapku, dan bagaimana dia ingin cepat pergi dari sini.

“Bukan Dina?” tanyaku bingung ketika melihat nama di undangan itu.

“Bukan,” jawabnya.

* * *