Tinikling Bagi Para Diwata

by | Apr 1, 2018 | Marvelous March | 3 comments

San Vincenzio, Filipina, tahun 1840

Menjelang sore, di bawah rimbunnya pepohonan, seorang pria tua botak berpakaian kaos putih dan celana kumal berdiri. Sebuah parang tersandang di pinggangnya. Ia mengumandangkan sebuah lagu dengan lantang.

Mansalitan, turunlah, turunlah
Badla akan turun, berilah kami kesehatan
Biarkan para babaylan menari
Para babaylan, menarilah

Tiba-tiba seorang anak kecil berambut ikal hitam memanggil. “ Manong Kastor!” Yang dipanggil berpaling ke arah panggilan tersebut dan mendatanginya.

“Aduh, Pepe!” tegur pria tersebut. “Sudah kukatakan jangan ganggu aku, jika aku sedang mengucapkan mantra.”

Anak yang lain bertanya. “Memangnya kenapa? Mantra yang Mang Kastor ucapkan buat siapa?”

Kastor menjawab, “Itu adalah mantra permohonan buat Bathala—Sang Pencipta serta pengiringnya,para Diwata-Dewata, dan Engkantoperi. Oleh sebab itu, kita harus berhati-hati dalam mengucapkan mantra.”

“Tapi para Romo bilang mereka itu tidak ada. Mereka hanya tahayul,” celetuk Pepe. Dengan wajah tersinggung, pria tua itu menjawab.

“Mereka boleh tidak percaya! Tetapi aku telah melihat banyak hal yang tidak bisa dijelaskan selama aku menjadi  tabib.”

Pepe kembali bertanya, “Apakah mereka masih ada sampai sekarang?”

Orang tua itu menjawab, “Ya, mereka masih ada dan selalu memperhatikan kita.” Lalu ia terdiam sejenak, sebelum bertanya, “Mengapa kau di sini, Pepe?”

Sambil menyeringai, Pepe berkata, “Aku datang ke sini untuk meminta mangga. Kampung kami akan mengadakan fiesta.” Kastor segera menuju ke belakang gubuknya dan mengambil sekeranjang mangga. Ia memberikan keranjang tersebut pada anak itu.

“Ini! Kau boleh mengambilnya dengan cuma-cuma!” ujarnya seraya tersenyum.

“Terima kasih banyak, Manong!” balas Pepe. Begitu menerima keranjang mangga tersebut, ia segera berlari meninggalkan Kastor, yang sempat mengingatkan, “Langsung pulang, ya! Hati-hati dengan di jalan!”

***

“Matahari mulai beranjak ke peraduannya, ketika Pepe berjalan pulang. Ia berusaha bergegas tetapi keranjang berisi mangga yang dibawanya memperlambat langkahnya

Lagot! Malam sudah tiba,” ujarnya, “aku masih belum sampai di rumah! Ibu dan Ayah pasti mencariku.” Di tengah kebingungannya, ia tiba-tiba melihat bola api yang menari-nari. Tanpa pikir panjang, anak itu mengikutinya.

Sementara itu di desa San Vincenzio, ibu Pepe menunggu dengan khawatir. Begitu suaminya tiba, ia bertanya, “Makoy, apakah kau melihat Pepe? Ia belum tiba di rumah sejak sore.”

“Tidak, aku tidak melihatnya Esperanza.” Sang bapak berkata, “Apakah kau sudah bertanya pada Mang Kastor? Anak itu selalu pergi kesana untuk mendengarkan cerita-cerita.”

Esperanza menggelengkan kepalanya, “Sudah kuperingatkan agar jangan mendatangi tua bangka itu. Tetapi ia tak pernah menurut.”

“Hmm, kalau begitu aku akan pergi menemui Mang Kastor!” ujar Makoy. “Aku akan bertanya kepadanya.”

“Aku akan melapor kepada Kapitan Joaquin agar ia mengerahkan warga lainnya untuk membantu mencari Pepe,” tambah istrinya. Sang suami hanya mengangguk seraya mengenakan topinya kembali dan keluar dari rumah Sepeninggalnya, ibu Pepe segera berdoa pada patung Bunda Maria dengan membuat tanda salib pada dada.

Setelah mengikuti bola api tersebut, akhirnya Pepe tiba di sebuah perkampungan. Sepertinya ada perayaan di kampung tersebut. Dengan rasa ingin tahu, ia mendekati kerumunan orang. Lalu Pepe memperhatikan orang-orang tersebut. Mereka bukan orang-orang sekampungnya. Ia bisa mendengar mereka berbicara, tetapi ia tidak mengenali logat yang dipakai. Itu bukan logat yang biasa didengarnya.

Kaum pria tidak mengenakan barong; mereka mengenakan sorban berhiaskan bulu burung yang digulung pada kepala mereka serta kancut yang terbuat dari kain sarung yang diikat pada pinggang mereka. Tubuh mereka berajahkan tato yang menyerupai aksara. Yang lain mengenakan baju berlengan pendek. Di lain pihak, kaum wanita tidak semuanya mengenakan penutup dada, bahkan kain yang dipakai hanya menutupi seadanya. Beberapa mengenakan gaun kurung dengan berbagai macam warna. Perhiasan berkilauan menghiasi kepala dan leher mereka. Tetapi tidak semua menyerupai manusia, ada beberapa di antara mereka memiliki telinga lancip dan berkulit coklat gelap bagaikan kulit pohon. Ia mendengar alunan mantra:

Bathala, asal mula para makhluk
Mereka yang berdiam di pegunungan
Di dalam kedua tanganmu, berdiamlah asal-mula
Manilaw, sang penyihir

Tinggi bagaikan batang pohon kelapa
Kokoh bagaikan batu terkeras
Lapar bagaikan api
Lebih ganas daripada anjng gila
Dari dadamu keluarlah Lulid, sang pencipta

Adalah Dia yang melakukan apa yang Disukainya
Yang lebih gelap daripada malam-
Seperti batang pohon Palay
Dan terkadang
Bagaikan busur cahaya

Menghunjam para penyihir bagaikan panah
Kediamanmu diantara orang-orang kerdil
Hancurkanlah mereka, orang-orang jahat
Sang pencipta, Kamakala

Sesuatu terbersit pada pikiran Pepe.

Para Diwata dan Engkanto!

Tiba-tiba bunyi gong membuyarkan lamunannya. Kerumunan tersebut segera memberi jalan pada sekelompok pria bertubuh tegap dan bertelanjang dada. Wajah mereka dirias merah dan mereka masing-masing menyandang sebuah lembing dan perisai.

Ketika musik seruling dan kulintangan berkumandang, mereka berteriak kencang. Seiring dengan irama musik, mereka saling mengacungkan tombak dan menengadahkan kepala seakan-akan mencari-cari sesuatu di langit. Dua orang diantaranya segera membungkukkan badan sehingga temannya dapat menaiki punggung mereka untuk melanjutkan pencarian.

Tabuh genderang bertambah keras ketika penari yang menaiki punggung teman-temannya berteriak. Sepertinya ia menemukan sesuatu. Dengan tergesa-gesa, ia turun ke bawah dan teman-temannya bangkit. Dengan serentak, mereka mengacungkan lembing mereka masing-masing dan sesekali memukulkannya pada perisai. Salah satu dari mereka menunjuk ke udara dengan lembingnya dan berteriak. Lalu ia mulai mengendap-endap menuju kerumunan. Para Engkanto lainnya segera memberi jalan kepada sang penari.

Jantung Pepe berdebar keras ketika semua mata berpaling kepadanya, termasuk sang penari yang memelototi dirinya. Kemudian penari tersebut berbicara dengan logat yang tidak ia pahami. Sang penari mulai tidak sabaran dan ia nampak tidak senang ketika Pepe tidak menjawab. Kemudian seorang gadis berbusana putih dengan rangkaian bunga di kepalanya, menahan sang penari. Rambut hitamnya berkibar ditiup angin. Bagi Pepe, ia mungkin lebih cantik dari semua gadis di kampungnya. Gadis itu membungkuk dan menghembuskan sesuatu pada wajah anak itu. Pepe merasa kegelian ketika hembusan tersebut mengenai wajahnya.

Tiba-tiba ia bisa mendengar bahasa yang akrab dengan dirinya.

“Namaku Dian Masalanta, Sang Dewi Cinta,” kata gadis berbusana putih tersebut. “Tapi aku lebih dikenal dengan nama Maria Makiling di dunia manusia. Mengapa kau berada di sini, wahai anak manusia?”

Malam harinya, Mang Kastor tengah mempersiapkan ramuan di dalam gubuknya ketika ia mendengar seseorang memanggilnya.

“Mang Kastor? Apakah kau ada di dalam?”

Tabib itu menjawab, “Ya, aku di sini! Ada apa?”

“Ini aku, Kepala Desa Joaquin. Aku bersama orang tua Pepe!” Maka pria tua itu segera keluar dari gubuknya dan melihat Joaquin. Dia bersama Makoy, istrinya Esperanza dan beberapa pria lainnya. Mereka tengah membawa obor.

“Maaf,Mang Kastor! Apakah Anda melihat Pepe?” tanya Makoy. “Ia tidak pulang sejak tadi sore. Apakah kau melihatnya?”

Kastor menjawab. “Ya, tadi ia ada di sini. Setelah kuberikan mangga, ia langsung pulang.”

Dengan nada panik, Esperanza segera berujar, “Sejak tadi sore, ia tidak kembali! Bahkan tidak ada tanda-tandanya!”

“Esperanza, tenang dulu!” kata suaminya menenangkan. “Ini bukan salah Mang Kastor!” Mendengar itu, wajah albularyo tua itu menjadi khawatir.

“Begitu? Kalau begitu aku akan membantu kalian untuk mencari Pepe.” Tanpa buang waktu, ia segera mengambil tasnya yang berisi berbagai macam ramuan dan  jimat. Merekapun segera melanjutkan pencarian Pepe di tengah malam.

“Bagaimana seorang manusia bisa masuk ke alam kita?” Ia berpaling pada wanita setengah baya yang bersarung kain hitam gelap dengan hiasan kepala bulu putih. “Apakah dia datang dari alam baka, Maguayen?”

Kembali ke Kampung para Diwata

 

Seketika suasana di sekitarnya menjadi tegang dan ricuh begitu mereka mengetahui kehadiran manusia diantara mereka. Penari berwajah merah segera bertanya.

Maguayen menggelengkan kepala. “Tidak ada yang melarikan diri dari alamku, Apolaki. Tanyakan pada Mangkukulam, mungkin ia tahu anak ini berasal dari mana.”

Mangkukulam, pria berkulit gelap yang dihiasi retakan-retakan membara di kulitnya, menggeram, “Aku tidak tahu menahu darimana anak ini! Seharusnya kau bertanya pada Anagolay. Dia, kan, dewi yang mengurusi sesuatu yang hilang.” Maka semua berpaling pada gadis muda—yang terkejut.

“Aku?” katanya heran.

Sebelum semua menjadi ribut, sebuah suara lantang menghentikan mereka semua.

“Semua tenang dulu!” Seorang pria bertubuh tinggi tegap dan berotot segera melanjutkan.

“Sebaiknya kita bertanya kepada anak ini dulu. Aku yakin dia tidak bermaksud buruk!”

“Semoga saja kau benar, Dumakulem!” celetuk Mangkukulam kurang senang. Maka Dumakulem berpaling pada Dian yang berkata pada Pepe.

“Jangan takut,” bujuknya “Ceritakanlah mengapa kau bisa berada di sini?”

“A—aku tersesat ketika hendak pulang,” jawab Pepe gugup. “Kemudian aku melihat bola api menari-nari dan kuikuti hingga tiba di sini.” Semua yang mendengarkan jawabannya, menggangguk-angguk. Walau demikian, Apolaki, Sang Dewa Matahari merasa kurang puas.

“Meskipun demikian, tari Tayao—tarian suku Igorot di Benguet—ku terganggu!” gerutunya. “Perayaan Keddotritual dari Benguet, Filipina harus berlangsung agar Bathala mengetahui rasa syukur kita.”

Mendengar itu, Pepe mendapatkan sebuah ide. Dengan malu-malu, ia menggamit kain Dian dan berkata.

“Aku minta maaf karena mengganggu perayaan kalian.” Ia melanjutkan, “Jika para Diwata tidak keberatan, izinkanlah aku memperkenalkan tarian yang baru untuk perayaan kalian.”

Dengan wajah kurang yakin, Apolaki bertanya. “Tarian apa yang akan kau tunjukkan pada kami?” Pepe berkata dengan hormat.

“Untuk itu aku membutuhkan 2 galah bambu, wahai Sang Diwata!”

Sementara itu, usaha pencarian Pepe tidak membuahkan hasil. Mereka menyapu setiap sisi hutan, tetapi tidak dapat menemukan apa yang dicari. Makoy dan Esperanza mulai bertambah gelisah. Di lain pihak, Kastor mulai mengacungkan jimat miliknya seraya merapalkan mantra:

Oh, Bapa Semua Jiwa, Pemilik segala Kekuatan, 
yang berdiam di langit dan di bumi,

Penyelamat dan Penolong Semua.” Tabib tua itu melanjutkan, “Temukanlah Pepe! Bawalah dia kembali pada orang tuanya.”

Esperanza melirik ke arah tabib tua itu dan bertanya pada suaminya.

“Apakah itu akan membantu kita untuk menemukan Pepe?”

Yang ditanya menjawab. “Untuk saat ini, terserah pada Diyos—Tuhan.” Tak lama kemudian, Joaquin kembali dengan tangan hampa.

“Kami tidak menemukan apapun, sementara malam bertambah larut,” ujarnya dengan nada lelah. “Sebaiknya, kita melanjutkan pencarian pada besok pagi. Aku juga akan meminta para polisi kolonial untuk membantu kita.”

Kastor yang menyelesaikan mantranya, menambahkan, “Sebaiknya kalian berdua beristirahatlah. Aku akan tetap mencari Pepe.” Makoy mengangguk dan ia kembali ke rumah bersama istrinya.

Ini adalah tinikling, tarian yang berasal dari pulau Visayan. Tarian ini meniru gerak-gerik burung yang hendak menghindari perangkap. Yang kita lakukan adalah mengikuti irama musik seraya menghindari galah-galah ini. Kita butuh dua orang untuk memegang kedua galah bambu di tanah dan menghentakkannya bersamaan untuk menjepit kaki penari

Di Alam para Diwata

Para Diwata memperhatikan Pepe yang membawa sebuah galah bambu, sementara galah lainnya dibawa oleh Dumakulem, sang penjaga gunung. Kemudian anak itu menjelaskan.

Kemudian Dumakulem memberikan kedua galah tersebut pada dua Engkanto.

“Sepertinya mudah sekali,” celetuk Lakambini, salah satu dewi dengan paras menyerupai lelaki.“Apakah kita bisa memakai musik kita?” Pepe mengangguk setuju.

“Benar! Aku akan menjadi salah satu penari, siapa yang mau berpasangan denganku.” Semuanya saling berpandangan, hingga Dian mengajukan diri.

“Aku akan berpasangan denganmu.”

“T—tentu saja, Diwata….” Gadis itu menggenggam tangan anak itu dan berkata, “Panggil saja aku Dian. Sekarang tunjukkanlah padaku bagaimana cara menari Tinikling.”

Perlahan-lahan bunyi kulintangan, taluan alu dan tepukan tangan mulai mengalun. Begitu Pepe memberi aba-aba, kedua Engkanto segera menghentakkan kedua galah di tanah dan berusaha menjepit kaki. Maria dan Pepe saling berpegangan tangan dan berjingkrak menghindari gerakan galah bambu di tanah. Mereka saling berputar dan mengikuti irama tepukan tangan. Para Diwata yang tadinya acuh, kini mulai tertarik dan ikut bertepuk tangan.

Dian berkata, “Ini menyenangkan! Walau ini bukan tarian yang biasa kami tarikan, tari ini sangat menyenangkan!” Pepe senang mendengarnya. Tiba-tiba kaki dewi tersebut terkena jepitan galah. Mendadak, suasana gembira terhenti.

“Ada apa, Dian?” tanya anak itu heran.

“Kakiku terjepit galah,” ujar dewi itu dengan pandangan bersalah. “Bolehkah kita melanjutkan tariannya?”

Kini giliran Pepe yang tertawa. Ia segera menjelaskan, “Meskipun kau terkena galah, tarian tetap berlanjut. Hanya saja orang lain yang menggantikanmu.” Mendengar penuturan anak tersebut, semua menarik nafas lega. Kemudian seorang wanita bertubuh semampai yang hanya tertutup sehelai kain biru mendatangi Pepe.

“Aku Mayari yang akan menjadi pasanganmu!” tanyanya dengan tegas. “Apa kau  bersedia?” Terpesona melihat kecantikan Sang Dewi Bulan, Pepe sempat menelan ludah sebelum ia menjawab, “T—tentu saja, Diwata.”

Maka tarianpun berlanjut. Semua Diwata kini ingin ikut menari. Para Engkanto segera mencari galah-galah bambu dan tempat itu menjadi ramai oleh suasana gembira. Merasa penasaran, akhirnya Apolaki mencoba menari Tinikling bersama Dumakulem. Ternyata mereka cukup lincah menghindari jepitan galah, meskipun tubuh mereka yang tegap dan penuh dengan tato kurang cocok untuk menari. Merekapun saling bergantian pasangan menari.

Tiba-tiba sebuah kilatan cahaya menghentikan suasana tersebut. Serentak, para Diwata dan Engkanto menghentikan tarian mereka dan langsung bersujud di tanah.Mangkukulam segera mengubah dirinya menjadi asap dan menghilang. Pepe mulai merasa ketakutan. Lalu begitu cahaya memudar, muncullah seorang pria berjanggut putih dan bertubuh tegap. Walau nampak tua, ia tidak terlihat renta dan lemah. Raut wajahnya mencerminkan suka cita.

Bathalang Maykapai—Dewa Pencipta Segala, maafkan kami karena tidak memperhatikan kedatangan Anda!” ujar para Diwata dengan hormat.

Lalu Sang Dewa Agung membalas sambutan tersebut. Tak ada nada marah maupun kurang senang pada suaranya, “Anak-anakku, mengapa kalian berhenti? Lanjutkanlah tarian kalian! Aku datang karena aku menikmati sukacita kalian.”

Dengan pelan-pelan, Apolaki berdiri, “Anda menyukai tarian kami, Kan-Laonnama lain Bathala dalam bahasa Visayan?”

Sang Dewa menjawab, “Sukacita kalian cukup bagiku.Tarian yang kalian tarikan sebenarnya bukan dari masa kita. Bolehkah aku bertemu dengan tamu kita yang mengajarkan tarian ini?” Perlahan-lahan suasana tegang mulai mencair dan mereka melanjutkan tarian. Setelah selesai, mereka mulai menyembelih babi-babi yang tersedia dan memanggang dagingnya.

Dengan rasa takut dan segan, Pepe mencoba bersembunyi di balik punggung Dian. Namun Sang Dewi mengajaknya untuk bertemu Bathala. Sang Dewa menunduk dan menatap anak tersebut.

“Namamu Pepe, bukan?” ucapnya ramah. “Setelah sekian tahun, kaulah manusia pertama yang mengunjungi Kaluwalhatian-kahyangan. Aku mengucapkan terima kasih atas tarian yang kau telah ajarkan pada kami.”

“T—terima kasih, Bathala!” ucapnya dengan rasa syukur dan lega.

“Sebagai gantinya, kau boleh meminta apa saja yang kau inginkan,” kata Sang Dewa. Pepe berpikir sejenak, dan membisikkan sesuatu pada telinga Sang Dewa. Semua Diwata dan Engkanto tak bisa mendengar apa yang dibisikkan Pepe. Tetapi Sang Bathala hanya manggut-manggut mendengarnya.

“Hanya itu, Pepe? Apakah kau yakin tak ingin minta yang lain?” tanyanya.

Pepe menjawab. “Tidak, Bathala! Aku hanya ingin pulang ke rumahku. Orang tuaku pasti khawatir.” Sang Dewa Agung tersenyum mendengarnya, lalu ia memanggil seorang Diwata.

“Bangun Bangun, antarkanlah anak ini ke masanya.” Begitu Sang Dewa waktu mendatanginya, Pepe sempat berpaling pada Dian, Apolaki dan semua Diwata. Ia merasa sedih harus meninggalkan mereka, walaupun mereka sempat dekat dalam waktu singkat. Dian Masalanta mendekatinya.

“Terima kasih atas Tinikling yang kau ajarkan pada kami. Mungkin kau akan melupakan kami, tetapi kami tidak akan melupakanmu,”ujarnya.

Apolaki menambahkan, “Bila kau melihat matahari terbit di langit, berarti aku masih ada.”

Mayari berujar, “Begitu pula jika engkau melihat bulan di malam hari.”

Pepe berkata, “Aku tidak akan melupakan kalian.” Saat bersamaan, para Diwata dan Engkanto berseru,”Oooo oooway Adibay!Semoga Dewa memberkati!” Kemudian segalanya menjadi gelap.

Keesokan paginya, dengan dipimpin Joaquin, para penghuni desa mulai mencari Pepe kembali. Diantara mereka, beberapa orang berseragam abu-abu ikut membantu mereka. Esperanza dan Makoy mengikuti mereka. Dari kejauhan, mereka melihat Mang Kastor. Tabib tua itu segera mendekati mereka dan menyapa mereka, “Selamat pagi.”

Kedua orang tua Pepe mengangguk dengan hormat, walau mereka terlihat tidak tidur. Kastor kembali bertanya, “Bagaimana?” Makoy menggelengkan kepalanya.

Tiba-tiba seseorang memanggil mereka.“Hoy! Kemarilah!”

Semua orang segera menuju tempat yang dimaksud, tak terkecuali kedua orang tua Pepe dan Kastor. Begitu dekat, mereka melihat Pepe tengah tertidur di atas rerumputan. Di sebelahnya, keranjang berisi buah-buahan tergeletak. Tidak hanya mangga, buah-buahan lainnya seperti manggis, durian, pisang, nanas, labu. Dengan perlahan, ayahnya berlutut dan menepuk bahu Pepe.

“Pepe, bangunlah,” panggilnya lembut. Pepe menggosok matanya, dan melihat ayah dan ibunya.

“Tatay! Ina!” soraknya seraya memeluk keduanya. Makoy dan Esperanza hanya mencucurkan air mata, tanda syukur atas kembalinya sang anak. Pepe mengedarkan pandangannya dan melihat Mang Kastor.

“Mang Kastor, Anda benar,” ujarnya. “Para Diwata dan Engkanto benar-benar ada.”

Tabib tua itu hanya mengangguk, sebelum memperhatikan sekelilingnya.

“Rupanya mereka benar-benar menyukaimu,” balasnya. “Apa yang kau lakukan?” Pepe hanya tersenyum saja. Lalu Makoy segera menggendongnya dan kembali ke rumah.

Pada hari itu, seluruh barrio bersuka cita atas kembalinya Pepe. Sebagai rasa terima kasih, keluarga Pepe memberikan buah-buahan yang dibawanya kepada para tetangga. Namun tak ada yang mengetahui kemana Pepe menghilang atau darimana buah-buahan tersebut berasal. Cerita itu tersebar dari barrio ke barrio hingga menjadi cerita dongeng.

Di Kaluwalhatian

Para Diwata dan Engkanto tengah menari Tinikling, di saat manusia melupakan mereka. Tetapi mereka tak pernah melupakan kita.

REVIEW & APRESIASI

Aksarayana

Ndoro Yayang

  • Ide 70%
  • Plot 68%
  • Setting 67%
  • Karakterisasi 52%
  • Poin Tambahan 71%

Penasaran seperti apa tarian Tinikling? Apa benar-benar ada dan jadi dongeng? Atau ini hanya fiksi. Ide yang cakep Jajang, jika saja eksekusi yang rapi. Gaya bercerita masih terlalu kaku hingga terasa tersendat saat membaca. Selain itu, terlalu banyak informasi yang Ndoro rasa kalau pun dihilangkan tidak mengubah jalan cerita. Akan tetapi, Ndoro suka ide, sisipan syairnya hingga dewa-dewanya. Semangat terus ya, Jajang sayang.

Yayang Gian

Yayang Octa

  • 60%
  • Plot 65%
  • Setting 60%
  • Karakterisasi 55%
  • Poin Tambahan 80%
Cerpen ini sederhana dengan plot yang juga sederhana; cerita anak hilang, masuk ke dunia lain, lalu melihat apa yang ada di sana, dan kemudian pulang ke dunia manusia. Begitu saja. Hmm … iya, begitu saja. Jadi, yang pertama saya cari adalah; konflik. Saya dapat konfliknya dan enggak kalah sederhananya. Sebenarnya enggak ada yang salah dengan konflik sederhana–yang membuat cerita dengan ‘writer’s voice’ menarik seperti ini hanya saya berikan tiga cangkir kopi; betapa setting dan karakter ada hanya untuk kepentingan setting dan karakter saja. Bukan untuk menyokong konflik. Serasa membaca laporan perjalanan saja jadinya. Tapi, cerpen ini sangat saya suka cara penyampaiannya. Kesalahan EBI masih banyak dan … huhuhuuu, saya lumayan lama juga memperbaiki tanda bacanya. Pelajari lagi tanda baca dan dialogue’s tags, ya, Sayang…. ^^

Total Apresiasi