Tunda Besok

by | Jul 19, 2018 | May(be) Tomorrow | 0 comments

Lea merebahkan tubuhnya di atas ranjang begitu sampai di kamar miliknya. Seketika rasa penat dan lelah itu sirna begitu punggungnya menempel di sana. Pekerjaan hari ini cukup melelahkan dibandingkan hari-hari sebelumnya. Kenapa? Karena, para manusia yang sama-sama sulit untuk memahami, terlebih untuk bersabar.

Crek!

Seseorang membuka pintu kamarnya dan bertanya, “Le, kenapa baru pulang?”

Lea menatap Ibunya dan menjawab dengan singkat, “lembur.”

“Kamu sudah makan?”

“Belum.”

“Ibu sudah masak.”

“Iya.”

Sesingkat itu percakapan Lea dan Ibunya setiap habis pulang bekerja. Tidak ada pembahasan menarik yang membuat keduanya berbincang lebih lama.

 

Lea mendesah pelan menatap langit-langit kamar yang dihiasi lampu tungsten dengan warna putih kekuningan. Kejadian itu kembali teringat, membuatnya ingin menangis kencang dengan mulut berbusa melontarkan makian. Tapi Lea bukanlah gadis berani yang pandai bicara. Bukan pula gadis pintar yang mampu membela diri. Lea hanya gadis biasa yang jika dimarahi, ya, pasti diam dan menunduk.

“Lea, cepat makan!” teriakan Ibunya mampu menembus pintu kamar, menyadarkan Lea dari lamunan penuh kesakitan.

Akhirnya Lea bangkit dari sana. Melepaskan jaket dan seragam merah abu-abunya lalu, pergi menuju kamar mandi untuk menggosok gigi, mencuci muka, serta membasuh tangan dan kakinya.

Satu hal, Lea tidak pernah mandi selepas pulang bekerja, takut sakit dadakan karena mandi sehabis magrib.

Mandi bisa dilakukan besok ketika berangkat bekerja, fikirnya tak mau ambil pusing.

Selesai dengan aktivitasnya di kamar mandi dan berganti baju, Lea segera pergi menuju meja makan untuk segera mengisi perutnya yang memang sudah keroncongan.

“Le, Ibu ada beli brownies tadi siang. Tinggal dua potong lagi. Kamu makan, ya,” ucap Ibunya menghampiri Lea dengan membawa mangkuk kecil berisi dua potong brownies.

“Iya, Bu, terima kasih,” sahut Lea melirik sebentar ke sampingnya. Menatap dua potong brownies dengan taburan kacang almond dan parutan keju.

“Jangan lupa habiskan!” Ibunya kembali mengingatkan sebelum pergi ke ruang tengah untuk sekedar bermain bubble shooter di ponsel hitam miliknya.

Lea mengangguk sekali dan kembali menikmati santapan makan malamnya.

Lima belas menit selanjutnya,

Lea duduk di atas kasur dengan menyilang kaki. Kedua jari tangannya sibuk menari-nari di atas papan papan ketik ponsel. Sekedar memperbarui status tentang kegalauan hatinya, habis di caci maki konsumen sampai bersih ke akar-akarnya, padahal jika di telusuri itu bukan bagian dari kesalahan yang dilakukannya. Tapi mau apa lagi, nasi sudah menjadi bubur. Sekarang yang bisa dilakukannya adalah pasrah dan sabar.

“Lea!” teriakan Ibunya kembali terdengar, “ini brownies mau dimakan atau tidak?”

“Simpan kulkas, Bu….” Lea menyahut setengah berteriak, “untuk besok saja,” tambahnya.

Setelah suara Ibunya tidak terdengar lagi, Lea kembali fokus bermain ponsel. Satu hal lainnya, Lea tidak pernah langsung memakan makanan yang sudah disuguhkan untuknya. Dengan atau tanpa sengaja Lea selalu membiarkan makanan tersebut ‘untuk nanti saja’.

Toh besok juga masih bisa dimakan, begitu fikirnya.

Jarum jam di kamarnya terus berdetak dengan ketukan yang sama. Berputar melewati tiap garis yang membentuk lingkaran. Tanpa terasa arah jarum pendeknya sudah menunjukan pukul sepuluh tepat.

“Lea, kamu belum tidur?” Ibunya kembali muncul di ambang pintu kamar.

“Sebentar lagi, Bu,” sahut Lea masih fokus pada ponsel yang dingenggamnya.

“Besok kamu kerja pagi ‘kan? Nanti terlambat.”

“Iya, iya…”

Lea mengalihkan pandangannya ke depan, menatap Ibunya yang masih berdiri di ambang pintu kamar.

“Oke,” gumamnya pelan segera mematikan ponsel dan bergegas menarik selimut untuk tidur.

Esok harinya, ketika Lea sudah kembali pulang pukul enam sore. Segaris ingatan muncul tentang kue brownies coklat yang disimpan di kulkas.

Langkahnya berjalan menuju kulkas, menarik pintu bagian bawah. Kedua matanya menggeledah isi di dalam kulkas, mencari-cari potongan brownies yang tersimpan di dalam mangkuk kecil berwarna merah. Sekian detik mencari, brownies tersebut tak kunjung ditemukan.

“Bu, brownies Lea mana?” tanya Lea menoleh Ibunya yang sedang sibuk memasak.

“Tadi pagi Ibu lihat masih ada.”

“Nggak ada, Bu,” Lea merengek pelan.

“Kalau tidak ada. Kemungkinan dimakan oleh Kakakmu.”

“Yah…. Itukan punya Lea, Bu….”

“Makanya kalu dikasih makanan itu cepat-cepat dimakan. Jangan dibiarkan nanti. Kemarin Ibu bawakan alpukat, bukannya cepat dimakan malah disimpan di lemari. Pasnya mau dimakan eh keduluan sama belatung. Kemarinnya lagi, Ibu belikan kamu soto, kamu bilang ‘nanti bu untuk besok’, terus besoknya kamu tidak makan jadinya di buang. Lea…. Lea,” Ibunya menggeleng kepala heran menatap Lea dengan wajah cemberut.

“Kamu itu selalu saja menunda sesuatu sampai kelupaan, ujung-ujungnya kamu sendiri yang kelabakan. Termasuk urusan jodoh. Kamu banyak ntar besoknya. Lama-lama kamu jadi perawan tua? Mau kamu?”

Lea mengerucutkan bibirnya menatap Sang Ibu, “Ibu….” rengek Lea, “Kok jadi ke situ sih….”

“Jangan sekali-kali mengulur-ulur waktu, karena ia merupakan tentara iblis yang paling besar. Penundaan merupakan bekal orang yang bodoh dan lalai. Itulah sebabnya orang yang saleh berwasiat, ‘Jauhilah ‘saufa (nanti)’, penundaan juga kemalasan, merupakan penyebab kerugian dan penyesalan.”

“Ibu…. Jodohnya saja yang belum datang.”

“Kalau tidak dicari, tidak akan datang.”

“Iya, nanti juga ada, Bu. Belum saatnya saja.”

“J]angan-jangan jodohmu Tuhan simpan untuk besok, besok, dan besoknya lagi.”

“Ibu…”

Lea menatap Ibunya dengan wajah yang semakin cemberut, “Lea mau ke kamar!” sambarnya berlalu pergi.

REVIEW & APRESIASI

Aksarayana

Ndoro Yayang

  • Ide 72%
  • Plot 67%
  • Setting 62%
  • Karakterisasi 65%
  • Poin Tambahan 67%

Kesan yang Ndoro dapatkan dari membaca cerpen ini, sederhana tapi mengena. Cerpen ini mengena untuk mewakili penundaan yang sifatnya sepele dan sering kita remehkan, sayangnya sengaja atau tidak kita pernah melakukan hal ini. Ndoro pun sama dengan Lea, suka menunda terutama untuk makanan. Tulisan ini menunjukan kalau hal sehari-hari ini bisa jadi topik yang menarik kalau diolah dengan cara yang benar tanpa mengabaikan pesan moral yang disampaikan. Jadi menurut Ndoro, ini menohok tapi dengan cara yang halus.  Ndoro suka tulisan ini hak hak hak!!!

Yayang Gian

Yayang Octa

  • Ide 62%
  • Plot 60%
  • Setting 40%
  • Karakterisasi 54%
  • Poin Tambahan 54%

Ini cerpen yang sederhana tapi menarik. Saya udah membaca cerpen dari Jajang Desi tiga buah sejak sayembara dibuka dan bisa saya katakan bahwa Jajang Desi banyak perkembangan sejak cerpen pertama. Misalnya di urusn EBI, deh. Di cerpen ini, saya enggak banyak mengedit EBI-nya. Tanda baca dan penggunaan diksi oke. Hanya ada beberapa yang saya ganti untuk diksi karena ada padanan kata di bahasa Indonesia. Misalnya ‘tumblr’ saya ganti jadi tungsten. Kalo maksud Jajang Desi itu lampu bohlam, bisa menggunakan ‘tungsten’ untuk bohlam yang agak kekuningan cahayanya–bukan yang LED. Sisanya semua oke. Saya suka melihat perkembangan ini dan berharap Jajang Desi menulis lebih banyak lagi.

Good work. Saya nanti cerpen berikutnya~!

Total Apresiasi