Untuk Ibu

by | May 8, 2018 | Appreciative April | 2 comments

Tatiana baru saja lulus sebagai sepuluh siswa terbaik di universitas ternama di kotanya. Dengan membawa gelar Sarjana Ekonomi, Tatiana akan membawa kehidupannya menjadi lebih baik. Tepat di hari Senin ini, hari di mana kedua kakinya berada di depan gedung bertingkat dengan dinding berlapis kaca. Tatiana tersenyum lebar dan melangkah masuk ke dalam gedung. Menaiki lift untuk sampai di lantai lima dan bertemu salah seorang staf HRD. Masih dengan senyuman lebar, kedua kakinya melangkah keluar dari dalam lift dan berjalan menuju lorong sebelah kiri, sehingga sampailah di depan sebuah pintu pintu kaca. Jemarinya mendarat di sana membuat gerakan mengetuk.

Silahkan masuk!” Suara itu muncul dari dalam sana membuat Tatiana berani membuka pintu dan melangkah masuk.

“Selamat pagi, Pak Arif, perkenalkan saya Tatiana yang mau bekerja di perusahaan, Bapak,” tutur Tatiana dengan ramah.

“Silahkan duduk,” pinta Pak Arif menunjuk pada kursi di hadapannya.

Tatiana mengangguk dan menghempaskan pantatnya di atas kursi.

“Tatiana Septiany, apa benar?” tanya Pak Arif seraya membaca CV milik Tatiana yang berada di atas meja.

Tatiana mengangguk, “Benar, Pak.”

“Tatiana, apa saya boleh bertanya satu hal?”

“Silahkan, Pak!”

“Selama kuliah, siapa yang membayar semua biaya kuliah kamu, sampai lulus menjadi Sarjana Ekonomi sebagai lulusan terbaik pula?”

“Semua yang menangggung beban biaya kuliah saya, Ibu saya, Pak. Kebetulan Ayah saya sudah meninggal ketika saya SMP,” Tatiana menjawab dengan sopan.

“Apa Ibu kamu menikah lagi?”

“Tidak, Pak. Beliau fokus mengurusi saya dan kedua adik saya yang masih sekolah.”

“Oke, jadi, apa pekerjaan Ibu kamu? Beliau hebat sekali lho.”

“Sehari-hari Ibu saya berjualan kue basah, Pak.”

“Punya stanatau warung?”

“Tidak, Pak. Dari pagi sampai sore Ibu saya keliling kampung atau menitipkan di warung terdekat.”

“Untuk kue-kue tersebut, Ibu kamu mengambil dari orang lain?”

“Ibu saya membuatnya sendiri, Pak. Sepulang dari berkeliling sampai tengah malam.”

“Apa kamu selalu membantu beliau?”

“Ibu saya selalu menyuruh saya belajar atau mengajari adik-adik saya. Jika dibantu, Ibu saya selalu marah dengan alasan pasti tugas kuliah saya banyak.”

“Setelah lulus dan mendapat gelar ini kemudian, bekerja, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?”

“Saya berencana untuk membantu Ibu saya, Pak. Memperbaiki perekonomian keluarga saya.”

“Apa tidak ada rencana menikah?”

Tatiana menatap Pak Arif dengan wajah syok, “Belum terpikirkan, Pak.”

“Jika ada yang melamar kamu dengan cepat, kamu akan menerimanya? Menjadi seorang istri tentulah harus lebih patuh pada suaminya daripada kepada ibunya.”

Tatiana terdiam, mencari maksud dan tujuan dari wawancara kerja yang sedang dilakukannya. Ini wawancara untuk kerja atau apa ya?Apa memang seperti ini sebuah wawancara kerja? batinnya berbisik pelan.

“Sekarang, kamu pulanglah, temui Ibu kamu. Lihat wajahnya dengan baik. Perhatikan tubuhnya dengan seksama.”

“Jadi, saya tidak diterima, Pak?” Tatiana menyambar dengan raut kecewa. Ternyata menjadi lulusan terbaik tidak mampu menjaminnya untuk bekerja secara cepat.

“Apa saya mengatakan bahwa, saya tidak menerima kamu? Saya hanya menyuruh kamu pulang menemui ibu kamu. Besok temui saya kembali.”

Tatiana menarik napasnya pelan dan menggangguk, “Terima kasih, Pak. Kalau begitu saya pamit, selamat pagi.”

Tatiana bangkit dari duduknya dan secepat mungkin pulang menuju rumah. Begitu sampai, Tatiana melangkah menuju kamar dan segera mengganti pakaiannya kemudian, berbaring seraya menatap plafon kamar yang sudah usang.

Wawancara kerja yang aneh. Sampai kehidupan pribadi juga ditanyakan.

Uhuk! Uhuk!” Terdengar Ibunya berjalan melewati kamar Tatiana dan membukakan pintu, dengan cepat Tatiana bangkit dan menghampiri ibunya. Tatiana akan menuruti ucapan Pak Arif sebagai tugas pertama.

“Ibu!” panggil Tatiana pelan.

“Ana, sudah pulang? Bagaimana interview-nya?”

“Alhamdulillah lancar. Sini, Bu. Duduk!” ajak Tatiana pada Ibunya. Duduk di atas karpet tipis di ruang tengah. Tidak ada kursi yang berjejer di sana, sekedar untuk melapisi pantatnya saat duduk.

“Ada apa, Ana? Ibu kan harus berjualan?” tanya Ibunya menatap Tatiana heran.

Tatiana menatap wajah Ibunya lekat-lekat. Rasa perih tiba-tiba menggigit ulu hatinya, melihat kedua mata Ibunya yang sayu dengan kantung mata cukup besar berwarna hitam legam.

“Ada apa ini? Kamu, kok, lihat Ibu begitu,” Ibunya mencubit pelan pipi Tatiana dan menyelonjorkan kedua kakinya karena tidak kuat untuk berlama-lama melipatkan kaki.

Kedua mata Tatiana beralih pada kaki Ibunya yang tampak kering dengan beberapa memar biru. Belum lagi, guratan-guratan besar yang nampak mengerikan memenuhi setiap sisi telapak kaki Ibunya.

“Ibu, mau ikut Tatiana ke air?” tanya Tatiana menatap Ibunya.

Kamu ini kesambet setan apa di jalan?”

“Sudah Ibu ikut saja!”

Tatiana menarik kedua lengan Ibunya, membantu Ibunya berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.

“Tunggu!” ucap Tatiana pada Ibunya. Kakinya melangkah masuk ke dalam kamar mandi yang hanya berukuran satu kali dua meter. Tatiana mengambil ember dan gayung serta sabun mandi. Lalu, menghampiri Ibunya.

“Ibu duduk di sini!” pinta Tatiana menunjuk pada kursi kecil di dapur.

“Kamu ini apa sih?” tanya Ibunya setelah duduk.

Tatiana duduk dengan bertumpu di atas kedua kakinya yang dilipat ke belakang. Dengan pelan Tatiana memasukan kedua kaki Ibunya ke dalam baskom kecil yang sudah di isi sedikit air.

“Maaf Bu, Ana belum bisa menjadi anak yang mampu membahagiakan Ibu. Ana tidak pernah membantu Ibu untuk berjualan. Pasti Ibu lelah ketika harus berkeliling dan berjalan jauh hanya untuk membuat Ana dan adik-adik tidak merasakan kesusahan. Anna minta maaf, Bu…,” ucap Tatiana seraya menangis terisak, sementara kedua lengannya masih sibuk mencuci kaki Ibunya yang nampak kotor.

“Ana…,” panggil Ibunya mengelus puncak rambut Anna lembut. “Harusnya Ibu yang minta maaf, Ibu selalu memarahi Ana, selalu cerewet pada Ana dan tidak pernah mau mengerti perasaan Ana saat Ana ingin pergi kemana pun dengan para teman Ana. Ibu hanya ingin kamu tetap aman, Ibu takut bahaya menimpa kamu. Ibu sangat bahagia dengan apa yang sudah Ana dapatkan. Doa Ibu selalu bersama kamu, Ana.” Ibunya ikut menangis terisak.

Pelan-pelan Ana mengangkat kedua kaki Ibunya menuju handuk di kedua pahanya lalu, mengusapnya pelan sampai kering. Kemudian, Anna memeluk Ibunya erat.

“Terima kasih, Bu. Sekarang, Ibu istirahat, nunggu adik pulang. Biar Ana yang berjualan saja.”

“Tapi, Ana….”

“Ibu, biarkan Ana merasakan apa yang Ibu rasakan.”

Ana melepaskan pelukannya dari tubuh Sang Ibu lalu beranjak bangun.

“Ana berangkat, Bu,” ucap Anna mencium punggung lengan Ibunya.

“Kemari, sayang!” Ibunya menciumi wajah Anna dan mengusap wajah Anna dengan telapak tangannya,”Kamu hati-hati.”

“Iya, Bu.”

Esok harinya….

Tatiana duduk dengan gelisah, menunggu Pak Arif datang menemuinya sesuai janji. Tatiana diminta menunggu oleh salah seorang karyawan di ruangan Pak Arif, sementara Pak Arif sedang  melaksanakan rapat mingguan.

Hingga tiga puluh menit berlalu, Pak Arif muncul di balik pintu.

“Pagi, Tatiana, maaf menunggu lama,” sapa Pak Arif di belakang punggung Tatiana dan duduk di kursi besarnya yang berada di belakang meja.

“Pagi, Pak,” angguk Tatiana dengan seulas senyuman.

“Jadi, apa saja yang kamu lakukan kemarin? Kamu bisa ceritakan pada saya?”

Tatiana mengangguk dan mulai membuka suara, menceritakan apa yang dilakukannya kemarin. Air matanya tiba-tiba turun tanpa di sengaja ketika menceritakan Ibunya dan apa yang dirasakannya setelah berkeliling kampung, menjual kue sampai habis lalu, ikut membuatnya sampai selesai pada tengah malam.

Pak Arif menyodorkan sekotak tisu pada Tatiana.

“Terima kasih,” ucap Tatiana merabut tisu tersebut dan mengusapkan pelan pada hidung dan matanya. “Maaf, Pak.”

“Saya cukup terharu dengan cerita kamu, tapi Tatiana kemarin posisi itu sudah diisi dengan orang lain.”

Tatiana mendongak kaget menatap wajah Pak Arif, “Maaf, Pak. Apa tidak ada tempat kosong lainnya? Jadi karyawan biasa pun tidak masalah.”

“Dengan sangat menyesal, tidak ada, Tatiana.”

Tatiana mengangguk pasrah. “Tidak apa-apa, Pak. Terima kasih.”

“Apa kamu menyesal dengan apa yang sudah saya titahkan?”

“Tentu tidak, Pak. Justru sebaliknya, sekarang saya lebih sadar dengan apa yang sudah Ibu saya lakukan untuk saya. Saya akan berusaha lebih baik dari sebelumnya. Saya seharusnya berterima kasih pada Bapak, sudah mau menyadarkan saya lebih dari kesadaran yang saya miliki sebelumnya.”

“Baiklah.” Pak Arif bangkit dari duduknya diikuti Tatiana yang ikut bangkit, berdiri.

Pak Arif menyodorkan lengannya di hadapan Tatiana, dengan penuh kerendahan hati Tatiana menjabat lengan Pak Arif.

“Kamu saya terima sebagai Manager Pemasaran di perusahaan saya, mulai bekerja besok jam delapan sudah di sini.”

Tatiana menatap wajah Pak Arif dengan mata melebar, mulutnya terbuka secara spontan.

“Tapi….”

“Kamu melamar sebagai staf, tapi saya ingin kamu menjadi manager.”

“Bapak serius?” tanya Tatiana menatap Pak Arif tanpa berkedip.

“Saya yakin dengan potensi yang kamu miliki, kamu tidak akan membuat saya kecewa.”

 “Terima kasih, Pak. Saya akan bekerja sebaik mungkin.”

 “Oh iya! Di seberang kantor ini terdapat ruko bertingkat dua milik perusahaan, jika perusahaan memberikannya padamu sebagai royalti, apa yang akan kamu lakukan?”

“Saya akan membawa Ibu ke sana untuk membuka toko kue, sesuai harapan Ibu saya.”

“Lakukanlah, beritahukan pada ibumu dan saya serius. Sebagai imbalan, bekerjalah dengan penuh tanggung jawab, jujur, dan amanah.”

“Ba—ba—Bapak serius?” sahut Tatiana terbata menatap Pak Arif.

 “Perlu saya ulang?”

 “Oh, eng-enggak usah, Pak…. Sa—saya mengerti. Saya akan segera pulang sekarang.”

Tatiana mengangguk, kembali menyalami lengan Pak Arif lalu pulang dengan buru-buru. Tanpa ia tahu, Pak Arif adalah pemilik perusahaan tersebut, dan dia akan turun tangan dengan sendirinya ketika mencari pegawai.

Beberapa bulan selanjutnya, terlihat beberapa orang mengantri di depan sebuah ruko kecil berwarna merah jambu, sebuah plang besarpun menancap kuat di tanah, di samping bangunan ruko tersebut, menerangkan tempat tersebut, Kue Laris.

Tatiana menatap dari jendela ruang kerjanya, melihat pemandangan toko tersebut yang sudah berkembang dengan baik. Sekarang, Ibunya tidak perlu lelah berkeliling kampung untuk menjual kue karena sudah memiliki toko kue sendiri. Ibunyapun tidak perlu bersusah payah sendiri membuat bermacam kue, ada beberapa pegawai yang siap membantunya bahkan bersedia membuat sendiri tanpa suruhannya.

Satu lagi hal yang ingin Tatiana kadokan untuk Ibunya dan akan diberikannya hari ini.

Tatiana melangkah keluar dari dalam kantor menuju toko kue di seberang kantornya. Kebetulan sedang jam istirahat.

“Ana, mau makan?” sambut Ibunya begitu Anna sampai di lantai dua toko.

“Ana mau makan bersama Ibu dan ini hadiah dari Anna untuk Ibu.” Tatiana memberikan sebuah amplop putih yang masih tersegel. “Buka, Bu!”

Ibunya membuka amplop tersebut dan mengeluarkan isinya. Spontan tubuhnya terasa gemetar dengan mata melebar.

“Bu!” Tatiana menahan tubuh Ibunya yang hampir jatuh dan membawa Ibunya duduk di kursi.

Ini bukan mimpi ‘kan, Ana? Ibu benar-benar bingung harus apa….” Ibunya terisak pelan memeluk tubuh Tatiana.

“Ibu hanya perlu istirahat cukup dan mempersiapkan diri.”

“Anna…. Ibu akan pergi haji, menghadap Allah….”

Tatiana terisak pelan memeluk Ibunya.

“Inilah apresiasi yang Ana berikan untuk Ibu, setelah Ibu berjuang untuk hidup Ana, sampai Ana berhasil.”

“Terima kasih, Anna….” isak Ibunya masih memeluk Anna.

REVIEW & APRESIASI

Aksarayana

Ndoro Yayang

  • Ide 63%
  • Plot 60%
  • Setting 62%
  • Karakterisasi 61%
  • Poin Tambahan 60%

Ndoro ucapkan selamat untuk Jajang Desi Ra yang cerpennya terpilih lagi untuk sayembara bulan ini.

Inspirasinya yang diambil dari perjuangan seorang Ibu. Kisahnya juga pahit manis dan mengajarkan kita untuk melihat lebih dekat dan menyayangi Ibu kita. Kisahnya menarik dan Ndoro sendiri sampai mau nangis bacanya.

Adegan demi adegan juga terjalin cakep. Namun, kesan klise dan terlalu muluk sangat terasa sehingga cerita terkesan kurang ‘real’ dan terkesan dipaksakan. Masukan dari Ndoro coba nanti diolah lagi konfliknya agar lebih mengena dan ada kesan nyata yang lebih relatable dengan kehidupan sehari-hari.

Semangat terus ya, Jajang Desi Ra. Kalau mau diskusi, kolom komen atau di mana pun bisa ^^

Yayang Gian

Yayang Octa

  • Ide 60%
  • Plot 60%
  • Setting 64%
  • Karakterisasi 62%
  • Poin Tambahan 60%
Cerita sederhana dengan plot sederhana ini, ketika saya mengedit untuk mengoreksi tanda baca dan sebagainya, lumayan juga tenaga dan waktunya. Hiks. Tapi enggak apa. Buat Yayang, Jajang sudah menulis, itu sudah luar biasa. tanda baca dan EBI bisa dipelajari dalam waktu singkat. Begitu juga dengan mencari ide dan bahan untuk diceritakan. Tapi kemauan untuk menulis dan menyelesaikan tulisan, itu enggak akan ada yang ngajarin. Jajang sudah melewati hal yang paling berat dalam menulis, yaitu; menyelesaikannya.

Jadi, Yayang kasih satu kopi untuk penyemangat dan jangan berhenti. Oke? Yayang terbuka kalau mau diskusi atau apapun.

Ditunggu karya selanjutnya, ya. ^^

Total Apresiasi